Irwandi, Jangan Diberi Hati

Irwandi, Jangan Diberi Hati

LENGKAP sudah rasanya kehancuran akibat narkoba di Aceh. Hampir tak ada kalangan yang tak bersentuhan dengan sabu-sabu; zat yang mampu membuat seorang pengguna menjadi percaya diri dalam kadar yang pas. Kemarin, seorang kepala desa di Kecamatan Matangkuli, Aceh Utara, tertangkap saat asyik menghisap sabu-sabu.

Sehari sebelumnya, polisi menangkap seorang wanita yang diduga menjadi bandar sabu-sabu. Kisah tentang sabu-sabu dan orang-orang yang berada di sekitarnya seperti tak pernah habis. Sama banyaknya dengan jumlah sabu-sabu yang masuk ke Aceh.

Sabu-sabu menjadi tren narkoba masa kini. Lupakan ganja, yang tumbuh subur di Aceh apalagi alkohol atau khamar yang jelas hukumannya. Sabu-sabu membuat politikus di Dewan Perwakilan Rakyat Aceh hingga pemimpin gampong mabuk kepayang. 

Rencana Gubernur Aceh Irwandi Yusuf untuk meminta fatwa kepada ulama harus kita dukung bersama. Ini bukan langkah frustasi. Ini adalah cara tepat untuk menekan peredaran narkoba yang semakin tak terkendali. Ini adalah cara melibas para bandar narkoba. 

Bahkan Irwandi mensinyalir peredaran narkoba ini masuk ke para pelajar. Melihat jumlah sabu-sabu yang diselundupkan ke Aceh, hal ini tentu sangat logis. Para bandar baru akan bermunculan. Mereka akan berusaha mencari pasar baru, tak peduli usia atau pekerjaan.

Dengan tingkat kerusakan yang sedemikian masif, kita tentu berharap fatwa ini akan segera dikeluarkan. Dengan demikian, akan ada qanun yang menjadi dasar hukum pemberlakuan hukuman mati kepada bandar narkoba.

Jika kelak difatwakan, hal ini jangan terlalu dibawa ke hati. Para bandar tak pernah menggunakan hati saat menebarkan “nikmat” sabu-sabu ke seluruh negeri. Kita tak perlu memberi toleransi kepada para bandar narkoba. Para bandar itu, tak perlu diberi hati.

Komentar

Loading...