Islam Mengajarkan Umat Berbisnis Sebagai Rahmatan lil Alamin

Islam Mengajarkan Umat Berbisnis Sebagai Rahmatan lil Alamin
Muhammad Zahran, Direktur UKM Inkubator usahawan muda FEB Unsyiah | Foto: Ist

Penulis: Muhammad Zahran

Secara bahasa, kata Islam berasal dari salama atau salima yang berarti damai, keamanan, kenyamanan, dan perlindungan. Sebagai seorang muslim sudah sepatutnya kita menjaga tata cara kehidupan secara muslim, bukan hanya dari segi sosial, lingkungan, tetapi juga dalam perekonomian.

Dalam Islam, pembisnis yang baik adalah harus menjaga etika dalam berbisnis yang berlandaskan syariat Islam, apalagi bagi seorang muslim.

Islam sebagai rahmatan lil alamin adalah anugrah yang diberi oleh Allah SWT kepada makhluknya di seluruh alam semesta. Orang muslim, khususnya harus mampu mengaplikasikan Islam sebagai rahmatan lil alamin, di sini seorang muslim dapat membawa kesejahteraan bagi seluruh alam semesta termasuk manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, sekaligus lingkungan tempat mereka beraktivitas. Seperti yang di kandung dalam Surat Al Anbiya ayat 107 yang artinya: “Dan tiadalah kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam".

Berbisnis adalah salah satu aktivitas yang dilakukan manusia untuk mencari sumber penghidupan untuk memenuhi kebutuhan hari-hari, sekarang tak jarang para pelaku bisnis melakukan atau menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keuntungan yang besar, secara tak langsung dapat memberikan efek negatif kepada lingkungan bisnis.

Lingkungan bisnis yang dimaksud adalah mulai dari kesejahteraan pekerja, kompetisi yang sehat, ekosistem yang terjaga, dan banyak hal lain yang menjadi penunjang dalam melakukan suatu bisnis.

Dengan menerapkan pola Islam sebagai rahmatan lil alamin, pebisnis muslim dapat menghindari dari perbuatan yang melanggar kaidah - kaidah seorang muslimin. Setiap pelaku bisnis harus memperhitungkan serta memproyeksi jangka panjang akan seperti apa bisnis mereka dengan menilai apakah bisnis mereka sudah memiliki program berkelanjutan atau sustanibility programs yang memiliki prinsip sebagai berikut:

1. Pembangunan harus memenuhi kebutuhan masa kini serta tanpa mengorbankan hak pemenuhan kebutuhan generasi yang akan datang. Maksudnya adalah segala perencanaan dan implentasi kekinian disaat pelaksanaan tentunya dengan menyiapkan berbagai kebutuhan yang akan dimamfaatkan pada masa
Pembangunan yang dilakukan harus bisa memenuhi kebutuhan manusia pada masa sekarang, tetapi tidak memiliki kesempatan untuk mengurangi kebutuhan generasi yang akan datang dengan memastikan bahwa segala hal yang dimiliki sekarang bisa dimanfaatkan dan dijaga sebaik-baiknya untuk diteruskan kepada generasi yang akan datang, generasi yang akan datang juga memiliki kesempatan yang sama dalam pemenuhan kebutuhan bahkan mereka dapat menambah kebutuhan sehingga kesejahteraan tetap terjaga.

2. Pembangunan harus tetap memperhatikan ekosistem yang ada tanpa menurunkan kualitas lingkungan hidup.

Ekosistem adalah salah satu penunjang kehidupan dari semua makhluk hidup yang ada di bumi, oleh karena itu seorang pebisnis dalam melakukan suatu pembangunan harus memastikan bahwa bisnis mereka tidak akan mengurangi kualitas lingkungan hidup dengan melakukan berbagai kajian dan pertimbangan dalam pembangunan.

Sekarang banyak sekali badan usaha yang telah berdiri tanpa adanya pertimbangan analisis dampak lingkungan (AMDAL) sehingga hal ini dapat merusak keseimbangan dan mengurangi kualitas lingkungan hidup.

3. Setiap kegiatan pembangunan harus selalu mewujudkan kepentingan bersama. Bisnis yang dibangun harus memiliki tujuan dalam mensejahterakan lingkungan sosial dan mengedepankan kepentingan bersama, sehingga hal ini diharapkan akan meningkatkan taraf hidup masyarakat yang juga menyokong bisnis yang lagi berjalan.

Dengan taraf hidup masyarakat yang baik, dapat membantu kelancaran usaha karena kualitas kehiduoan yang dimiliki dapat sesuai dengan kondisi bisnis yang sedang dibangun.

Pada kondisi perubahan zaman yang terjadi sekarang, banyak sekali hal-hal yang menjadi permasalahan seperti meningkatnya jumlah manusia, kebutuhan pangan, penyempitan lahan, pencemaran lingkungan, dan juga adanya kesenjangan sosial ekonomi pada masyarakat. Sehingga ini harus menjadi cambuk bagi setiap pebisnis khususnya muslim dalam menjalankan kegiatan bisnisnya, sehingga ke depannya hal hal ini tidak akan terjadi karena kita selalu mengingat bahwa islam itu sebagai rahmatan lil alamin.

Seperti yang kita lihat, sumber daya alam memiliki keterbatasan, tetapi tidak dengan sumber daya manusia. Oleh karena itu harusnya semakin berkembangnya zaman manusia harus mampu beradaptasi dengan mengelola lingkungan dan sumber daya alam secara efektif dengan ilmu yang dimiliki, tanpa merusak kualitas yang ada. Sehingga ketersediaan lingkungan ini dapat membantu kelangsungan dan kelancaran suatu bisnis yang dijalankan.***

Komentar

Loading...