Isu Pengaturan Skor Sepakbola, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

Isu Pengaturan Skor Sepakbola, Polisi Periksa Sejumlah Saksi
Timnas Indonesia seusai gagal meraih juara Piala AFF 2010 | Republika

KBA.ONE, Jakarta - Bergulirnya isu panas terkait pengaturan skor di sepak bola Tanah Air direspon cepat oleh kepolisian. Lewat satuan tugas untuk memerangi pengaturan skor, Polri memanggil lima orang untuk dimintai keterangan pada Jumat, 21 Desember 2018.

Mereka adalah Sekjen PSSI Ratu Tisha Destria, Direktur Utama PT Liga Indonesia Baru atau LIB Berlington Siahaan, Manajer Madura FC Januar Herwanto, Sekjen Badan Olahraga Profesional Indonesia atau BOPI Andreas Marbun, dan Ketua BOPI Richard Sam Bera. "Ya benar, diperiksa, sebagai saksi," ujar Erwanto Dirtipikor Bareskrim Mabes Polri Brigjen Erwanto.

Kelima orang tersebut diambil keterangannya terkait dugaan terjadinya penyuapan atau percobaan penyuapan yaitu memberi atau menjanjikan sesuatu kepada seseorang dengan maksud untuk membujuk supaya orang itu berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu dalam tugasnya, yang berlawanan dengan kewenangan atau kewajibannya yang menyangut kepentingan umum. Hal itu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 UU Nomor 11 Tahun 1980 tentang Tindak Pidana Suap.

Selain itu, Bareskrim juga sudah menjadwalkan pemanggilan kepada saksi-saksi lainnya. Mereka adalah Sekretaris Menteri Pemuda dan Olahraga Gatot Dewa Broto. Dia akan dipanggil pada Rabu pekan depan. Lalu CEO PT LIB Risha Adi Wijaya serta wasit M. Reza Pahlevi dan Agung Setiawan pada Kamis pekan depan. Sehari sesudah itu, giliran Ketua Komisi Disiplin PSSI Asep Edwin, mantan Exco PSSI Hidayat, dan Karo Hukum Kemenpora Sanusi yang dipanggil.

Sayangnya, Erwanto belum mau mengungkapkan pemeriksaan ini secara detil terkait pertandingan apa dan kapan. "Masih diselidiki."

Sebelumnya, PSSI mengatakan akan memanggil semua pihak yang pernah membongkar serta membeberkan kasus pengaturan skor yang diduga terjadi di liga Tanah Air melalui beragam media baik media elektronik, cetak maupun media sosial.

Wakil Ketua Umum PSSI Joko Driyono menyebutkan, PSSI mengirimkan surat resmi kepada pihak-pihak tersebut yang intinya meminta mereka mengatakan semua hal yang diketahuinya tentang pengaturan skor di Indonesia disertai bukti-bukti valid. "Kami memohon semuanya untuk menyampaikan kepada PSSI apa yang pernah mereka kemukakan di media-media. Tentu harus disertai bukti agar kami selanjutnya bisa diambil langkah yang tepat," ujar Joko di Jakarta, Kamis.

Joko menegaskan, PSSI akan menanggapi dan memproses semua laporan yang masuk sesuai dengan aturan yang berlaku. PSSI pun siap memberikan tindakan tegas kepada siapa saja yang memang terbukti melakukan pengaturan skor. "Kami tidak peduli meski seandainya levelnya sampai ketua umum. Ketua Umum PSSI Edy Rahmayadi sendiri sudah setuju dengan inisiatif kolektif ini."

Seandainya pihak-pihak yang dipanggil tidak berkenan memberikan keterangan, Joko menyebut PSSI akan berupaya mendorong mereka membuat laporan kepada kepolisian. Kebijakan itu diambil demi mendorong terbukanya skandal pengaturan skor yang diduga terjadi di liga Indonesia dan menghindarkan sepak bola dari tindakan-tindakan non-olahraga yang merugikan.

Bukan cuma orang, permintaan resmi PSSI untuk membongkar dugaan kasus pengaturan skor juga menyasar kepada puluhan akun media sosial. PSSI mencatat ada 76 akun media sosial yang pernah mengunggah dan menyebarkan kabar tentang pengaturan skor. Para pemilik akun ini diimbau untuk datang ke PSSI dan memberikan keterangan.

"Akun-akun ini sepertinya memiliki fakta tetapi tidak memiliki akses untuk menyampaikan temuannya kepada federasi. Jadi kami mengundang mereka. Akun-akun media sosial ini memiliki ribuan bahkan jutaan pengikut atau 'followers'. Kami membutuhkan keterangan mereka untuk pendalaman awal terhadap kasus ini," ujar Kepala Staf Ketua Umum PSSI Iwan Budianto.

Isu dugaan pengaturan skor terus bergulir sejak acara "Mata Najwa" di Trans 7 yang tayang pada akhir November 2018. Acara ini membongkar kasus tersebut disertai nama-nama terduga pelaku.

PSSI terseret ke dalam isu itu karena diduga ada anggotanya yang ikut "bermain". Salah satunya, anggota komite eksekutif PSSI periode 2016-2020, Hidayat. Di dalam sidang Komite Disiplin PSSI, Hidayat terbukti berupaya suap dengan menawarkan sejumlah uang kepada klub Liga 2 Madura FC.

Hidayat pun dilarang beraktivitas di dunia sepak bola selama tiga tahun dan wajib membayar denda sebesar Rp150 juta. Selain itu, dia juga tidak diperkenankan memasuki stadion selama dua tahun.

Dugaan pengaturan skor juga diutarakan tokoh sepakbola nasional Andi Darussalam Tabusala. Andi ketika manajer timnas Indonesia di Piala AFF 2010, mengaku menemui kejanggalan partai final. Ketika itu, skuat Garuda kalah tiga gol tanpa balas atas Malaysia dan gagal keluar sebagai juara.

Pertandingan final Piala AFF dihelat dalam dua leg. Pada leg pertama, Indonesia berkunjung ke Malaysia lebih dulu dan secara mengejutkan kalah dengan skor 3-0. Padahal, ketika itu, Garuda menjadi tim yang diunggulkan karena menang dengan skor telak 5-1 ketika bersua Malaysia di fase grup.

Selepas pertandingan, isu pengaturan skor mulai bermunculan. Hanya saja, ketika itu masih sebatas rumor tanpa bukti yang kuat. Andi pun selaku manajer langsung dicurigai sebagai salah satu pihak yang "bermain".

Hamka Hamzah cs sempat membalas Malaysia dengan skor 2-1 pada leg kedua di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta. Namun, hasil itu tak bisa menyelamatkan gelar Piala AFF 2010 karena kalah agregat 4-2.

"Setahun kemudian setelah itu, saya kenal beberapa orang-orang Malaysia ini. Waktu itu saya tanya bagaimana Anda bisa mainkan itu sampai saya kalah. Di situlah mereka terbuka bicara, Bang kalau kami tidak mainkan orang Abang itu, enggak bisa menang kami ini," ujar Andi di acara Mata Najwa.

Ketika dicurigai sebagai otak pengaturan skor, Andi justru termotivasi mencari tahu apa kebenarannya. Ia pun bersedia diinterogasi polisi untuk memberikan keterangan lebih jauh. Secara pribadi, Andi ingin insiden memalukan delapan tahun silam itu bisa terbongkar. "Saya yakin pertandingan 3-0 itu dimainkan. Tetapi saya tidak punya bukti untuk menuduh orang seperti itu, namun dari cara bermain kita bisa lihat."

Komentar

Loading...