Tabrani Yunis, Pemerhati Pendidikan

Jadikan Hardikda Momentum Minat Baca

Jadikan Hardikda Momentum Minat Baca
Tabrani Yunis | Foto: Ist

KBA.ONE, Banda Aceh - Hari pendidikan daerah tak cuma menyita perhatian kaum birokrat di Aceh. Di luar pagar lembaga birokrasi pemerintah itu, seorang pemerhati pendidikan Aceh juga ikut ambil bagian melempar pendapat dan masukan.

“Sebenarnya, akar permasalahan pendidikan di Aceh adalah rendahnya minat baca generasi muda, bahkan kalangan pendidik. Daya baca rendah, daya analisis rendah, berakibat kepada daya solusi rendah. Makanya Hardikda 2018 ini harus menjadi momentum untuk menumbuhkan minat baca di Aceh,” kata Tabrani Yunis, pemerhati pendidikan di Aceh.

Menurut Tabrani Yunis, jika minat baca peserta didik atau para guru rendah, ini bisa berakibat rendahnya mutu pelajaran bagi anak didik. Sebab, kemampuan menganalisis pola belajar dari guru pasti menjadi rendah juga.

"Bagaimana guru mampu menurunkan ilmu kepada anak didik sedangkan ilmu yang dimiliki guru rendah," kata Tabrani Yunis, di sebuah cafe kawasan Ulee Kareng, Banda Aceh, Rabu sore, 29 Agustus 2018.

Program pemerintah Aceh yang menjadi visi misinya Irwandi - Nova menempatkan posisi pendidikan sebagai prioritas dalam membangun Aceh lewat Aceh Carong. Program ini mengarah kepada perbaikan mutu pendidikan yang manfaatnya sudah mulai dirasakan masyarakat Aceh. “Tapi, ke depan harus lebih fokus dalam memperkuat mutu para guru lewat gemar membaca,” kata Tabrani.

Tabrani mengaku prihatin melihat tren anak-anak sekolah, baik siswa SMA atau SMP, menggandrungi warung kopi walau hanya untuk membuat PR atau bermain game saja. Harusnya, siswa itu sesering mungkin berada di sekolah sehingga tercipta habitat belajar kepada anak-anak dan tumbuhnya minat baca siswa dengan diawasi oleh para guru.

Dalam pandangan Tabrani, pendidikan di Aceh butuh strategy plan yang baru dengan program -program kekinian di mana pola belajar anak didik lebih melihat aspek kekinian seperti menempatkan sarana teknologi informasi menjadi yang utama.

Kemudian, mutu guru juga harus terus dipantau karena saat ini guru di Aceh masih kurang kompeten dalam mentransfer mata pelajaran kepada anak didik. Indikator lemahnya pola didik bagi siswa terlihat ketika Ujian Nasional (UN) Aceh sering di urutan belakang. “Ternyata, ketika dievaluasi, Aceh kurang melakukan latihan bagi siswa dalam penyelesaian jawaban - jawaban UN,” katanya

Pola seperti itu harus diubah dan dievaluasi. Semua pihak dalam dunia didik di Aceh harus naik kelas, jangan selalu berada di urutan terakhir. "Ke depan, pendidikan di Aceh harus lebih baik sebab anggaran sudah sangat mendukung," jelas Tabrani Yunis yang juga Pemimpin Redaksi Majalah Potret dan Majalah Anak Pintar.

Tabrani menakar pola pendidikan di Aceh perlu terus mengikuti ajang exebisi atau berbagai lomba bagi siswa hingga ke tingkat internasional dengan melibatkan kemitraan penyelenggaraan pendidikan luar sekolah yang saat ini telah mendapatkan hati di masyarakat.

Jumlah ini telah memberi kontribusi terhadap meningkatnya Angka Partisipasi Kasar (APK) Pendidikan Tinggi. Di masa mendatang, perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta, diharapkan dapat memperbesar kontribusi dalam menjawab tantangan pembangunan di Aceh.

“Kita memerlukan hasil kajian berbasis perencanaan dalam pembangunan dan desiminasi hasil pengembangan inovasi teknologi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sebagai prasyarat mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran,” katanya. ***

Komentar

Loading...