Jalan untuk Perkebunan Kelapa Sawit di Aceh Timur Merusak Hutan dan Habitat Satwa, Ini Videonya!

Jalan untuk Perkebunan Kelapa Sawit di Aceh Timur Merusak Hutan dan Habitat Satwa, Ini Videonya!
Foto udara perusakan hutan oleh PT. Nia Yulided. Oktober 2020. | Foto: leuserwatch.org

Rainforest Action Network (RAN), melalui leuserwatch.org, baru-baru ini melakukan monitoring dan pengawasan terhadap aktivitas deforestasi yang terjadi di Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) lanskap hutan hujan tropis seluas 2,6 juta hektar yang penting secara global. Kabar terkini dari Leuser Watch baru saja menemukan adanya aktivitas perusakan hutan hujan dataran rendah di Aceh Timur yang menjadi habitat penting bagi satwa terancam punah seperti orangutan, badak, gajah, dan harimau Sumatra. Berikut laporan LEONI RAHMAWATI dari RAN yang dikirim ke email redaksi KBA.ONE, Selasa 10 November 2020.

------------------------------

TIM INVESTIGASI LAPANGAN Rainforest Action Network (RAN) mengungkap deforestasi terbaru di hutan hujan dataran rendah tersisa Kawasan Ekosistem Leuser yang dikenal sebagai ‘Ibukota Orangutan Dunia’.

Perusakan hutan tersebut mengakibatkan seekor orangutan Sumatera berjuang sendirian bertahan hidup akibat pembangunan jalan dan penebangan liar di perkebunan kelapa sawit dua perusahaan kelapa sawit kontroversial–PT. Nia Yulided (NY) dan PT. Putra Kurnia (PK). 

Seekor orangutan Sumatera terisolasi, bertahan hidup di sisa petak hutan yang terfragmentasi akibat jalan yang baru saja dibuka oleh perusahaan perkebunan kelapa sawit PT. Nia Yulided, di Aceh Timur Oktober 2020. | Foto: leuserwatch.org

Meskipun praktik kontroversial kedua perusahaan minyak sawit tersebut terungkap berulang kali, hingga saat ini di antara perusahaan raksasa pembeli minyak sawit, hanya Unilever yang mengumumkan bahwa kedua perusahaan tersebut berada dalam daftar pemasok yang ditangguhkan.

Sedangkan Nestlé, Mars, dan Mondelēz gagal menanggapi pelanggaran deforestasi ini secara publik atau mengeluarkan kedua perusahaan ini dari daftar pasok mereka. Tidak ada satupun perusahaan merek dunia yang terlibat ataupun mengkomunikasikan secara langsung kebutuhan untuk menghentikan deforestasi maupun pembukaan jalan baru yang merusak hutan dan penebangan liar kepada kedua perusahaan tersebut. 

“Kegagalan Unilever, Nestlé, Mars dan Mondelēz untuk terlibat dalam dialog dengan para produsen nakal ini telah menunda berakhirnya deforestasi untuk produksi minyak sawit di Kawasan Ekosistem Leuser dan terus menempatkan kawasan hutan hujan dataran rendah yang luas dalam bahaya”, ungkap Gemma Tillack, Direktur Kebijakan Hutan, RAN. 

Rekaman drone dan gambar di atas menunjukkan skala kerusakan yang terus berlanjut di dua wilayah konsesi perusahaan yang menjadi wilayah habitat kritis bagi orangutan, gajah, badak dan harimau Sumatera yang terancam punah, serta menjadi daerah tangkapan air penting bagi masyarakat lokal.

Sejak awal tahun 2020, PT. NY ditemukan telah mengurangi tegakan hutan dari 1.624 hektar menjadi 1.411 hektar, atau total kehilangan 213 hektar ketika pandemi COVID-19 kian memburuk di Indonesia hingga mendorong peningkatan deforestasi di hutan hujan dataran rendah di Kawasan Ekosistem Leuser.

Pada Juni 2020, penyidik lapangan RAN juga menemukan pembukaan lahan dan jalan baru yang merusak hutan hujan dataran rendah oleh PT. Putra Kurnia (PK). Total areal konsesi yang dikuasai oleh PT. PK seluas 5.107 hektar, perusahaan ini telah mengurangi tegakan hutan dari 437 hektar menjadi 374 hektar sejak awal tahun dan mulai menanami lahan yang dibuka dengan kelapa sawit baru.

Citra satelit juga menunjukkan pembukaan hutan di perusahaan itu terjadi sepanjang April dan Mei 2020. 

Kayu yang ditebang secara ilegal ditemukan di sepanjang jalan PT. Putra Kurnia, Juni 2020. Koordinat 04º27’37.46 ″ N 97º47’50.96 ″ E. | Foto: leuserwatch.org

Maraknya deforestasi oleh PT. Nia Yulided dan PT. Putra Kurnia menjadi bukti bahwa perusahaan merek-merek dunia perlu lebih serius menegakkan kebijakan Nol deforestasi. Mereka harus ikut terlibat dalam dialog dengan perusahaan perkebunan bermasalah dan meminta untuk segera menghentikan aktivitas deforestasi untuk minyak sawit.

Selain itu, mereka juga harus mengambil tindakan tegas yang kolektif untuk melindungi ribuan hektar hutan hujan dataran rendah tersisa di Aceh Timur yang masuk dalam Kawasan Ekosistem Leuser. Penyelesaian peninjauan izin perkebunan kelapa sawit juga sangat dibutuhkan untuk memastikan bahwa hutan hujan di seluruh Ekosistem Leuser yang sangat penting ini bisa dilindungi dari konversi perkebunan kelapa sawit. *

Penulis: LEONI RAHMAWATI

Indonesia Communications Coordinator
RAINFOREST ACTION NETWORK

Komentar

Loading...