Jaminan Kemudahan Investasi dari Nova Iriansyah

Oleh ,
Jaminan Kemudahan Investasi dari Nova Iriansyah
Pelaksana Tugas Gubernur Aceh, Nova Iriansyah menerima kunjungan Konsulat Jenderal RI untuk Turki Herry Sudrajat, di Aula Meuligoe Wakil Gubernur Aceh, Selasa (11/7/2018) pagi | Humas Pemerintah Aceh

KBA.ONE, Banda Aceh - Berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal atau BKPM RI, hingga Juni 2017 Aceh bertengger di peringkat 21 untuk realisasi investasi Penanaman Modal Dalam Negeri. Sedangkan dalam hal Penanaman Modal Asing atau PMA, Aceh berada di peringkat 34 dari seluruh provinsi.

Rinciannya, jika mengacu data BPKM yang dirilis 12 April 2018, sepanjang 2017 investasi modal asing di Aceh mencapai USD 23,245 dari sekitar 89 proyek. Nilai ini tentu saja menurun jika dibandingkan 2016 yang berjumlah USD 134,505 dari 69 proyek. Namun, agak sedikit tinggi ketimbang 2015 dengan nilai investasi USD 21,189 dari 78 proyek.

Melihat data tersebut, pada rentang 2010 hingga 2017, 2012 menjadi tahun terbanyak nilai investasi asing. Jumlahnya mencapai USD 172,272 dari 26 proyek.

Posisi Aceh di nomor 34 bukan sebuah hal menggembirakan bagi Pelaksana Tugas Gubernur Aceh Nova Iriansyah. Karena itu, di dalam berbagai kesempatan, Nova selalu menekankan kemudahan investasi di Aceh kepada para investor baik nasional maupun asing. "Kami berharap siapa saja dapat berinvestasi di Aceh. Kami jamin tidak ada masalah dalam proses investasi di Aceh, dan pemerintah akan memberi berbagai kemudahan,” ujar Nova Iriansyah saat menerima Konsulat Jenderal RI untuk Turki Herry Sudrajat, yang membawa rombongan investor asal Turki, di Rumah Dinas Wakil Gubernur Aceh di Banda Aceh, Selasa, 11 Juli 2018.

Provinsi Aceh, kata Nova, masih sangat membutuhkan kerjasama dari para investor untuk mendorong perekonomian serta mengurangi angka kemiskinan dan pengangguran. "Aceh harus dibantu, karena saat ini angka-angka statistik masih belum berpihak kepada kami. Angka kemiskinan Aceh masih cukup tinggi, pertumbuhan ekonomi kita masih di bawah nasional dan inflasi juga tinggi," ujar Nova saat itu.

Untuk keluar dari permasalahan itu, solusinya harus meningkatkan nilai investasi di Aceh, dengan menawarkan berbagai kemudahan dan fasilitas serta insentif bagi investor.

Bahkan, Nova juga telah mengingatkan SKPA atau Satuan Kerja Pemerintah Aceh terkait untuk membantu memberi kemudahan kepada para investor yang akan berinvestasi di Aceh dengan berbagai kemudahan perizinan. Termasuk juga kepada investor yang ingin membangun industrinya di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun Lhokseumawe.

Realisasi Penanaman Modal Asing di Aceh | dpmptsp.acehprov.go.id

Investor Tertarik

Sepanjang 2018, sudah mulai terlihat adanya pergerakan yang menggembirakan terkait iklim investasi modal asing di Aceh. Selain Turki, beberapa investor dari mancanegara juga menyampaikan ketertarikannya untuk berinvestasi di Aceh.

Ketika diterima di Aula Meuligoe Wakil Gubernur Aceh saat itu, Herry Sudrajat memaparkan sejumlah peluang investasi yang dilirik rombongan investor yang datang bersamanya ke Aceh. Bahkan Managing Director Hitay Energy Holdings, Julfi Hadi, yang turut dalam rombongan tersebut menyampaikan komitmen perusahaannya untuk berinvestasi di bidang energi panas bumi di Burni Telong, Kabupaten Bener Meriah.

Selain itu, General Manager Dunya Kozmetik Sanayi AS, Aydin Cicek, pada kesempatan itu juga menyampaikan ketertarikannya untuk berinvestasi di Aceh. Intinya, perwakilan perusahaan Turki lainnya juga memberikan apresiasi positif untuk berinvestasi di Aceh. Misalnya, General Manager PT Rosin Trading International dan Wangsa Energi Prakarsa.

Sebelumnya, pada Mei 2018 perusahaan energi asal Korea Selatan, BS Energy, menyatakan sangat tertarik untuk menggarap potensi pembangkit listrik Krueng Tripa di Gayo Lues dan Nagan Raya, sebesar 306 Mega Watt (MW).

Ketika itu, Wakil Presiden BS Energy Mr Kwon mengungkapkan, perusahaan mereka telah berpengalaman berinvestasi di bidang energi di Indonesia. Sebelumnya BS Energy telah menggarap Pembangkit Listrik Tenaga Air Wampu di Sumatera Utara (45 MW), PLTA Semangka di Lampung (56 MW), dan PLTA Siborpa (114 MW).

Untuk menggarap potensi pembangkit listrik Krueng Tripa di Gayo Lues dan Nagan Raya, BS Energy akan berinvestasi USD 1.050. Rinciannya, Tripa 2 senilai USD 400 (114 MW) dan Tripa 3 senilai USD 650 (192 MW).

Nova Iriansyah melalui Kepala Biro Humas dan Protokol Rahmad Raden pada November tahun lalu mengatakan, seluruh proses perizinan awal untuk realisasi investasi perusahaan energi Korea itu, sudah diselesaikan. Kedua perusahaan tersebut, kata Rahmad, kini sedang pada tahap prakualifikasi dari PLN.

Selain Korea dan Turki, pada September 2018 Nova Iriansyah menerima kunjungan Political Officer Carolyn Wilson didampingi Detective Inspector Julian Rinckes dari Kedutaan Besar Selandia Baru. Kedatangan mereka untuk menjajaki peluang kerjasama investasi.

Di dalam pertemuan itu, Nova bersama Carolyn dan Julian mendiskusikan berbagai peluang investasi dan kerjasama antara Pemerintah Aceh dengan Selandia Baru. Bidang-bidang yang menjadi bahan diskusi adalah bidang energi, pariwisata, agroindustri, dan pendidikan.

Di bidang energi, pada kesempatan itu Nova Iriansyah mengungkapkan bahwa Pemerintah Aceh sedang menggarap beberapa proyek geotermal di Jaboi, Sabang; Gunung Seulawah, dan Gunung Geureudong. Potensi panas bumi di Jaboi diperkirakan mencapai 80 MW. Hingga kini pengeboran yang telah selesai dilakukan menghasilkan 16 MW. Sedangkan proyek geotermal Seulawah dan Geureudong masih dalam tahap survei potensi energi untuk diketahui seberapa besar yang akan dihasilkan.

Pada kesempatan tersebut, kata Rahmad Raden, Plt Gubernur Aceh juga menyampaikan peluang investasi kepada Selandia Baru, dalam bidang pariwisata di Sabang dan Pulau Banyak. Sebenarnya, ada beberapa negara yang tertarik untuk berinvestasi di Aceh. Bahkan sebagian sudah memulai investasinya, misalnya di bidang pertambangan emas dan mineral. Belum lagi perusahaan yang akan berinvestasi di kawasan KEK Arun Lhokseumawe.

Tentu saja ini akan menjadi tugas berat Nova Iriansyah, untuk meningkatkan kinerja tim ekonomi. Sehingga para investor tertarik untuk membangun industrinya di Provinsi Aceh. Nova tentu lebih mengetahui apa yang harus dia lakukan untuk kembali membangun optimisme di masa depan Aceh.***ADV

Komentar

Loading...