Jejak Perjuangan Cut Meutia Dipentaskan di Taman Budaya

Jejak Perjuangan Cut Meutia Dipentaskan di Taman Budaya
Poster pementasan Jejak Perjuangan Mutia Rimba - Tjoet Njak Meutia | Ist

KBA.ONE, Banda Aceh - Kiprah pahlawan nasional asal Aceh, Cut Meutia, bakal dipentaskan dalam pertunjukan seni teater oleh Lembaga Seulanga. Pementasan bertajuk 'Jejak Perjuangan Mutia Rimba - Tjoet Njak Meutia' itu dihelat pada Sabtu nanti, 13 Oktober 2018, di Taman Seni dan Budaya Aceh, Seutui, Banda Aceh.

Penulis naskah pementasan tersebut, Kaka Zaffana, menyebutkan isi pertunjukan menggambarkan sejarah Aceh masa lalu pada awal abad 18 masehi. Sejak Belanda mengeluarkan maklumatnya untuk memerangi Kerajaan Aceh pada 26 Maret 1873, kata Kaka, generasi-generasi terbaik saat itu menyahutinya dengan penuh suka cita untuk berjihad melawan penjajah. "Teuku Umar Johan Pahlawan, Cut Nyak Dhien, Panglima Polem dan ribuan mujahid nanggroe ini telah memberikan pelajaran terbaiknya kepada kita tentang tekad dan keteguhan hati dalam memperjuangkan agama dan harga diri sebuah bangsa," ujar Kaka, Selasa, 9 Oktober 2018.

Cut Meutia sendiri memulai perlawan pada 1901 setelah Cut Nyak Dhien berpulang. Ia bersama suaminya Teuku Chik Tunong mengambil alih perjuangan dari pesisir Aceh Utara. Tepatnya di Keureutoe, Pirak, yang juga tempat lahir Cut Meutia. "Ia membuka front perlawanan melawan penjajah Belanda secara bergerilya di daerah Pasai. Belanda pun merasakan betapa gigihnya kilatan pedang Dan tikaman rincong para pejuang," ujar Kaka.

Namun, Chik Tunong ditangkap Belanda dan dihukum mati di tepi pantai Lhokseumawe. Sebelum meninggal, ia berpesan kepada sahabatnya Pang Nanggroe agar mau menikahi istrinya dan merawat anaknya Teuku Raja Sabi.

Cut Meutia kemudian bangkit dan terus melakukan perlawanan bersama sisa-sisa pasukkannya. Ia menyerang dan merampas pos-pos kolonial sambil bergerak menuju Gayo melewati hutan belantara. Namun pada ia bersama pasukannya bentrok dengan Belanda di Alue Kurieng. Di dalam pertempuran itu Cut Meutia gugur. "Itulah penggalan peristiwa sejarah yang kami lewat media pertunjukan dan multimedia oleh lembaga Seulanga yang bekerja sama dengan Taman Seni dan Budaya Aceh yang disponsori Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Kesenian," ungkap Kaka.

Seulanga, kata dia, sebuah organisasi berbasis kebudayaan yang menitikberatkan program terhadap pelestarian, pendidikan dan pengembangan seni budaya Aceh. "Dengan sumber dana dari swakelola, Seulanga telah menghasilkan banyak kegiatan terhadap langkah-langkah pelestarian, pendidikan kebudayaan Aceh serta sadar wisata sebagai bentuk tanggung jawab yang telah diamanahkan para pendahulu," ujarnya. Keberhasilan tersebut, tambah Kaka, karena dukungan dari seluruh masyarakat Aceh dan instansi-instansi terkait. "Baik dukungan pikiran, moril dan materiil. Seulanga hanya memiliki ide dengan daya pengembangan yang strategis tentang pelestarian, pengembangan dan pendidikan seni budaya Aceh."

Komentar

Loading...