Jelang Idul Adha 1442 H, Harga Bahan Pokok Diperkirakan Naik

Jelang Idul Adha 1442 H, Harga Bahan Pokok Diperkirakan Naik
Jelang Idul Adha 1442 Hijriah Harga Bahan Pokok Diperkirakan Naik. | Foto: dok. KBA.ONE

KBA.ONE, Banda Aceh - Menjelang Hari Raya Idul Adha 1442 Hijriah (H), sejumlah bahan kebutuhan pokok diperkirakan mengalami kenaikan harga, seperti kelompok perikanan, cabai merah dan rawit. Hal ini dipicu kenaikan permintaan dan pasokan terbatas.

Wali Kota Banda Aceh, Aminullah Usman, mengatakan berdasarkan data historis, inflasi akan meningkat menjelang Idul Adha, rata-rata berada di angka 1,92% (tahunan) dan 0,26% (bulanan).

“Sedangkan pada tahun 2020 inflasi tercatat sebesar 3.59% (tahunan), di saat pertumbuhan ekonomi menurun dan banyak masyarakat kehilangan pekerjaan akibat Covid-19,” ungkap Aminullah, dalam kegiatan High LeveL Meeting TPID Kota Banda Aceh, Senin 21 Juni 2021.

Karena itu, kata dia, pemerintah telah melakukan berbagai upaya dalam rangka pemulihan ekonomi Aceh melalui empat program prioritas, yakni pemulihan agroindustri dan pemberdayaan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berdaya saing, penguatan ketahanan dan kemandirian pangan, peningkatan kualitas pelayanan kesehatan.

“Berbagai program tersebut diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan pendapatan masyarakat Aceh. Namun, upaya tersebut perlu diimbangi dengan pengendalian inflasi dalam rangka tetap menjaga daya beli masyarakat dan mencegah masyarakat masuk ke garis kemiskinan,” harap Aminullah.

Dalam hal ini, Aminullah menyampaikan peran pemerintah melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), menjadi sangat penting demi menjaga stabiltas harga. Selain itu, beberapa upaya kegiatan dan program pengendalian inflasi dibutuhkan sinergi, dukungan, koordinasi, dan komitmen berbagai pihak, baik dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, Bank Indonesia, Bulog, kepolisian, serta pihak terkait lainnya.

“Dalam mengendalikan inflasi, TPID Kota Banda Aceh menerapkan kebijakan 4K, yakni Ketersediaan pasokan, Keterjangkauan harga, Kelancaran distribusi, dan Komunikasi ekspektasi,” sebutnya.

Sementara itu, mengingat pandemi Covid-19 khususnya di Aceh belum berakhir, Aminullah juga mengingatkan masyarakat agar mematuhi protokol kesehatan untuk mencegah penyegaran Covid-19 yang saat ini diindikasikan sedang terjadi gelombang kedua akibat munculnya varian baru.

Kepala Bank Indonesia (BI) Perwakilan Aceh, Achris Sarwani, mengatakan melihat inflasi Kota Banda Aceh secara historis di tiga tahun terakhir terjadi peningkatan pada Hari Raya Idul Adha.

Tahun 2021, kenaikan laju inflasi diperkirakan terjadi pada pertengahan Juli. Namun inflasi tahunan tercatat lebih rendah dari tiga tahun sebelumnya. Hingga bulan Mei 2021, inflasi Kota Banda Aceh tercatat sebesar 0,17% (mtm) dan 1,73% secara yoy.

“Apabila dilihat dari komoditas penyumbang inflasi di Kota Banda Aceh secara tiga tahun terakhir, seringkali utamanya disebabkan oleh komoditas bahan pangan, utamanya komoditas pada kelompok perikanan (ikan kembung, udang basah, cumi-cumi, ikan tongkol, cabai rawit, dan ikan tuna),” kata Achris.

Achris berharap optimalisasi proyeksi laju inflasi Provinsi Aceh tahun 2021 dan 2022 tetap memperhatikan faktor 4K, yaitu Ketersediaan pasokan, Kelancara distribusi, Keterjangkauan harga, dan Komunikasi efektif.***

Komentar

Loading...