Jeratan Tengkulak di Tengah Pandemi

Jeratan Tengkulak di Tengah Pandemi
Kopi arabika Gayo. | Foto: KBA.ONE, Karmiadi

Kopi tak lagi bisa diandalkan sejak harganya anjlok digempur pandemik Corona.

KBA.ONE, Takengon – Wajah Amran tampak lesu. Ia seperti tak bersemangat menggiling butiran biji kopi arabika yang sudah ia keringkan berhari-hari. Padahal, Amran baru saja tergesa-gesa memetik biji kopi itu di kebunnya. Ia takut hasil panen kopi kali ini keburu disikat musang karena berbarengan musim penghujan.

Di sela kesibukannya, petani kopi asal Blang Gele, Takengon, ini bercerita kepada KBA.ONE soal cuaca ekstrem yang mengganggu siklus musim panen. Bulan-bulan ini cuaca tidak stabil, kata Amran. “Hujan berhari-hari, makanya panen harus dikebut biar buah kopi nggak busuk.”

Menurut Amran, jika musim hujan tiba, buah kopi gampang rontok. Di situlah ia terpaksa saling kebut dengan musang. “Siapa duluan cepat, kami atau musang itu yang memanen kopi,” jelas Amran.

Selain ancaman hama musang, Amran juga bercerita soal kejatuhan era kejayaan kopi di pasar lokal dan dunia gara-gara pandemi Covid-19. Tapi, Amran mencoba bertahan demi menghidupi keluarga. Apalagi kopi adalah sumber penghasilan masyarakat di Kabupaten Aceh Tengah.

Data Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Aceh Tengah menyebut jumlah petani kopi di Aceh Tengah mencapai 34.476 kepala keluarga. Sementara menurut data agregat kependudukan 2020, Aceh Tengah saat ini memiliki 63.277 kepala keluarga, sebanyak 53.139 kepala keluarga laki-laki, dan 10.138 kepala keluarga perempuan. Sementara total warga laki-laki berjumlah 108.942 jiwa dan perempuan 106.526 jiwa.

Pemetik kopi di daerah Aceh Tengah. | Foto: KBA.ONE, Karmiadi

Anjloknya harga kopi di dunia mengganggu denyut ekonomi warga di daerah penghasil Kopi Arabika terluas di Asia Pasifik itu.

Komentar

Loading...