Jurnalis di Banda Aceh Minta Kekerasan Terhadap Jurnalis Nurhadi Diusut Tuntas

Jurnalis di Banda Aceh Minta Kekerasan Terhadap Jurnalis Nurhadi Diusut Tuntas
Aksi solidaritas yang digelar sejumlah jurnalis di Banda Aceh. | Foto: Ist

KBA.ONE, Banda Aceh - Sejumlah jurnalis yang berhimpun dalam Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Banda Aceh menggelar aksi solidaritas untuk jurnalis Tempo, Nurhadi, yang menjadi korban penganiayaan saat menjalankan tugas liputannya, di Surabaya, Sabtu 27 Maret 2021. Aksi tersebut digelar di depan Mapolda Aceh, Banda Aceh, Kamis 15 April 2021.

Dalam aksi itu, para jurnalis menghamparkan beberapa spanduk yang berisi protes, serta kecaman terhadap pelaku kekerasan yang dilakukan kepada Nurhadi diantaranya bertuliskan, “stop kekerasan terhadap jurnalis”, “ada rilis kami kau undang, tendang-menendang soal di belakang”, “tindak aparat brutal pembangkang UU pers”, “stop kekerasan, aparat hormati kerja jurnalis”, dan beberapa tulisan lainnya.

Ketua AJI Banda Aceh, Juli Amin,  menilai penganiayaan itu merupakan bentuk serangan terhadap kebebasan pers. Secara hukum, tindakan tersebut jelas-jelas telah melanggar Undang-Undang (UU) Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Karena itu, kata dia, AJI Banda Aceh mengutuk keras penganiayaan terhadap Nurhadi, mendesak penegak hukum untuk segera mengusut tuntas kasus ini, dan menghukum tegas pelakunya.

Karena itu, dalam aksi ini AJI Banda Aceh menyatakan beberapa sikap:

1. Mendesak penyidik Polda Jawa Timur segera menetapkan tersangka dalam peristiwa ini, dan menjerat mereka dengan delik pers yakni menghalang-halangi kerja jurnalis dalam menjalankan profesinya, sebagaimana diatur Pasal 18 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, para pelaku juga dijerat Pasal 170 KUHP tentang Kekerasan Dengan Pengeroyokan.

2. Meminta Polda Aceh untuk turut menyampaikan aspirasi para jurnalis Aceh ini ke Mabes Polri, agar kasus menimpa Nurhadi diusut tuntas.

3. Meminta penegak hukum di Aceh segera menyelesaikan kasus-kasus kekerasan terhadap jurnalis di Aceh, salah satunya peristiwa pembakaran rumah jurnalis Asnawi Luwi di Aceh Tenggara tahun 2019 lalu.

4. Meminta penegak hukum tetap berpegang pada MoU Dewan Pers-Mabes Polri dalam menangani setiap sengketa pers.

5. Mengimbau para jurnalis, agar dalam menjalankan profesinya tetap menaati Kode Etik Jurnalistik.

Sebelumnya, Nurhadi diketahui sedang menjalankan tugasnya sebagai jurnalis untuk meliput kasus suap di Ditjen Pajak Kementerian Keuangan, Jakarta.

Saat kejadian, Nurhadi sedang melakukan reportase dengan meminta konfirmasi kepada mantan Direktur Pemeriksaan Ditjen Pajak Kemenkeu, Angin Prayitno Aji. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) secara resmi telah menetapkan angin sebagai tersangka dalam kasus tersebut.

Sebelum kejadian, sejumlah pengawal Angin Prayitno Aji menuduh Nurhadi masuk tanpa izin ke acara resepsi pernikahan anaknya di Gedung Graha Samudera Bumimoro (GSB) di Kompleks Komando Pembinaan Doktrin Pendidikan dan Latihan TNI Angkatan Laut (Kodiklatal), Surabaya, Jawa Timur, pada Sabtu 27 Maret 2021 malam.

Saat ditanyai, Nurhadi juga telah menjelaskan statusnya sebagai wartawan Tempo. Namun seketika ponselnya dirampas, Nurhadi lalu ditampar dan dipukul di beberapa bagian tubuhnya. Ia bahkan sempat ditahan selama dua jam di sebuah hotel Surabaya. Diduga, kekerasan terhadap Nurhadi dilakukan oleh anggota Polri dan TNI.*** | TASYA, Kontributor Banda Aceh

Komentar

Loading...