Sidang Dugaan Korupsi Telur Ayam UPTD BTNR Saree

Kadisnak Aceh Diperiksa Sebagai Saksi

Kadisnak Aceh Diperiksa Sebagai Saksi
Kedua terdakwa dugaan kasus korupsi hasil penjualan telur ayam UPTD BTNR Saree. | Foto: KBA.ONE, Komar

KBA.ONE, Banda Aceh - Kepala Dinas Peternakan Aceh, Rahmandi, diperiksa sebagai saksi dalam sidang kasus dugaan tindak pidana korupsi sebesar Rp2,6 miliar dari hasil penjualan telur ayam hasil produksi Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Balai Ternak Non Ruminansia (BTNR) di Saree, Aceh Besar.

Dalam sidang yang digelar pada Rabu 24 Juni 2020, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Banda Aceh, majelis hakim diketuai oleh Dahlan, dengan hakim anggota Edwar dan Juandra. Sedangkan, Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Aceh Besar, Ronald Ragen Siagian.

Sidang itu turut dihadiri kedua terdakwa, yaitu Ramli Hasan sebagai Kepala UPTD BTNR didampingi pengacaranya, Jalaluddin, dan terdakwa Muhammad Nasir sebagai pembantu bendahara penerimaan UPTD BTNR, yang didampingi kuasa hukumnya Junaidi dan Syahrul.

Selain pemeriksaan terhadap Rahmandi, dalam persidangan itu diperiksa juga sembilan saksi. Para saksi itu ada yang dari staf pegawai,  baik dari Dinas Peternakan (Disnak) Aceh maupun UPTD BTNR, pembeli, serta penjaga dan pemasok pakan ayam petelur. Para saksi yang diperiksa bersangkutan dengan kasus tersebut terhitung dari 2016-2018.

Kepala Dinas Peternakan Aceh, Rahmandi, dalam keterangannya dipersidangan itu, banyak menjawab tidak tahu apa yang ditanyakan oleh para majelis hakim, terkait pengawasan di UPTD BTNR di Sare Aceh Besar.

Sementara itu, Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejari Aceh Besar, Ronald Ragen Siagian, mengatakan pada sidang selanjutnya juga akan diperiksa dua saksi mantan Kepala Disnak (Kadisnak) Aceh.

"Pada sidang selanjutnya kita akan panggil dua mantan Kadisnak Aceh sebelumnya, diantaranya, Raihanah dan Zulia Zaini Yahya," kata Ronald.

Kata dia, seharusnya saksi dari mantan Kadisnak Aceh berjumlah tiga orang. Namun, dikarenakan mantan Kadisnak Aceh tahun 2016, M. Yunus, telah meninggal dunia. Sehingga yang akan diperiksa ke depannya hanya dua orang saksi.

Pada sidang sebelumnya, dalam dakwaan yang dibaca Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejari Aceh Besar, Ronald, mendakwa kedua pelaku terlibat kasus korupsi di UPTD BTNR di bawah kendali Dinas Peternakan Aceh, yang merugikan negara sebesar Rp2,6 miliar.

"Namun, berdasarkan hasil audit dari Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Aceh, menunjukkan pada tahun 2016, penerimaan hasil penjualan telur ayam sebesar Rp846 juta lebih, pada 2017 sebesar Rp668 juta lebih, dan 2018 sebesar Rp11 miliar lebih," baca Ronald.

Sementara itu, tahun 2016 penyetoran hasil penjualan hanya sebesar Rp85 juta, pada 2017 Rp60 juta, dan tahun 2018 sebesar Rp9,7 miliar lebih.

"Terdakwa tidak mencatat hasil penjualan telur pada buku kas umum serta uang hasil penjualan tersebut tidak disetor ke kas daerah dalam rentang waktu 2016 hingga 2018," kata Ronald.

Komentar

Loading...