Kasus COVID-19 Selalu 'Ngegas' Usai Libur Panjang

Kasus COVID-19 Selalu 'Ngegas' Usai Libur Panjang
Foto: ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya

Menurut Prof Wiku, pelanggaran protokol kesehatan COVID-19 masih terus terjadi di masyarakat.

KBA.ONE, Jakarta - Presiden Joko Widodo mendorong agar libur akhir tahun bisa dikurangi. Hal ini untuk mencegah terjadinya risiko klaster COVID-19 baru pasca libur panjang.

Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 menjelaskan beberapa tren kenaikan kasus positif COVID-19 saat libur panjang. Tren kenaikan tertinggi dilaporkan terjadi pada libur Idul Fitri 22 hingga 25 Mei 2020 lalu dan libur panjang Hari Kemerdekaan Agustus lalu.

Sementara kenaikan kasus COVID-19 per 8 hingga 22 November tercatat sebanyak 17 hingga 22 persen. Prof Wiku menyoroti catatan ini menjadi kehati-hatian dalam menghadapi liburan panjang akhir tahun 2020 di masa pandemi COVID-19.

"Ini menjadi evaluasi dan pembelajaran bagi kita semua dalam menghadapi libur panjang akhir tahun 2020. Libur panjang akhir tahun 2020 memiliki durasi yang lebih panjang," jelas Prof Wiku dalam siaran pers Setpres Selasa 24 November 2020 seperti dilansir laman health.detik.com.

Prof Wiku bahkan menyebut kenaikan kasus COVID-19 bisa saja meningkat dua hingga tiga kali lebih tinggi dibandingkan libur panjang sebelumnya. Pasalnya, menurut Prof Wiku, pelanggaran protokol kesehatan COVID-19 masih terus terjadi di masyarakat.

Selama ini pelanggaran protokol COVID-19 paling banyak tercatat pada persoalan jaga jarak dan menjauhi kerumunan. Maka dari itu, Prof Wiku menyebut perlunya kehati-hatian dalam menghadapi liburan panjang akhir tahun 2020 karena memiliki durasi yang lebih panjang.

"Bisa dua hingga tiga kali lebih besar dari libur panjang sebelumnya, disebabkan oleh penularan yang masih terjadi akibat kurang protokol kesehatan terutama dalam menjaga jarak dan menjauhi kerumunan,"pungkasnya. ***

Komentar

Loading...