Kasus Gugat Cerai di Aceh Mencapai 1.317, Aceh Utara di Peringkat Pertama

Kasus Gugat Cerai di Aceh Mencapai 1.317, Aceh Utara di Peringkat Pertama
Ilustrasi. | Foto: Ist

KBA.ONE, Banda Aceh – Selama 2021, kasus cerai gugat atau gugatan cerai di Aceh mencapai 1.317 perkara. Kabupaten Aceh Utara berada di peringkat pertama dalam kasus ini, yaitu tercatat 173 perkara. Kemudian disusul Kabupaten Aceh Tengah 148 perkara dan Pidie 120 perkara.

Hal ini disampaikan Panitera Muda (Panmud) Hukum Mahkamah Syar’iyah Aceh, Abdul Latif, kepada KBA.ONE, Kamis 25 Maret 2021, di ruang kerjanya.

Abdul Latif mengatakan penyebab tingginya perceraian di tiga daerah tersebut karena perselisihan dan pertengkaran terus-menerus, meninggalkan salah satu pihak, Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), dan faktor ekonomi.

“Kemudian, karena poligami, zina, mabuk, madat, judi, di hukum penjara, cacat badan, kawin paksa, dan murtad,” sebut Latif.

Panitera Muda (Panmud) Hukum Mahkamah Syar’iyah Aceh, Abdul Latif. | Foto: KBA.ONE, Tasya

Menurut Latif, untuk menghindari terjadinya perceraian, sebaiknya saat awal pembinaan keluarga sebelum dilangsungkan pernikahan, ada peran yang maksimal dari pemerintah daerah setempat melalui Kantor Urusan Agama (KUA) di masing-masing kecamatan. Dalam hal ini bimbingan teknis perkawinan terhadap calon pengantin yang maksimal dari pihak KUA.

Kata dia, dengan cara itu setiap pasangan menyadari bagaimana menyatukan dua karakter yang berbeda agar saling memahami, supaya pernikahan itu berjalan langgeng.

Selain itu, Latif menyampaikan di tahun ini pihaknya juga banyak menangani isbat nikah, sebanyak 444 perkara, dispensasi kawin 187 perkara, dan P3HP/penetapan ahli waris 222 perkara.

Sebelumnya, Latif juga menyebutkan di tahun 2020, Mahkamah Syar'iyah Aceh menerima sebanyak 13.083 perkara, “termasuk dengan yang sisa di tahun lalu sedikitnya 387 perkara, sedangkan pada tahun 2019 perkara yang diterima sebanyak 13.520 perkara,” sebutnya.***| TASYA, Kontributor Banda Aceh

Komentar

Loading...