Kasus Melonjak Kurang dari 10 Hari, Singapura Batal `Berteman` dengan Covid-19

Kasus Melonjak Kurang dari 10 Hari, Singapura Batal `Berteman` dengan Covid-19
Ilustrasi Singapura.|Foto: Ist

Singapura kembali memberlakukan larangan makan di tempat hingga 18 Agustus 2021.

KBA.ONE - Rencana pemerintah Singapura `bersahabat` dengan wabah Covid-19 terancam buyar. Peningkatan kasus hingga 100 pasien dalam waktu kurang dari 10 hari, membuat negara tetangga Indonesia itu menghadapi risiko baru dalam upayanya mempercepat program vaksinasi.

Kamis, 22 Juli 2021, menjadi deja vu bagi penduduk Singapura dengan diberlakukannya kembali larangan makan di restoran seperti yang terjadi dua bulan lalu.

Singapura mewaspadai penyebaran varian Delta Covid-19 yang endorong peningkatan kasus Covid-19 di seluruh dunia, termasuk negara-negara tetangga yang lebih parah terkena dampaknya seperti Malaysia dan Indonesia.

Para pejabat memutuskan rencana pembukaan kembali Singapura terpaksa mundur sementara. Penundaan dilakukan untuk mengejar jumlah lebih besar warganya yang diinokulasi.

Rencana untuk berteman dan hidup berdampingan dengan Covid-19 juga kemungkinan batal terealisasi bulan ini. Pejabat Singapura sebelumnya sempat mengumumkan Covid-19 bakal dianggap sebagai penyakit endemik pada Juli.

Tetapi, mereka menolak penguncian tegas yang terlihat di tempat lain. Singapura memilih untuk menargetkan kegiatan yang dianggap berisiko lebih tinggi.

Lebih dari 50 persen dari populasi 5,7 juta jiwa telah menerima dua dosis vaksin, dan pada akhirnya Singapura berencana untuk memperlakukan virus corona sebagai penyakit endemik yang tidak terlalu mengancam seperti influenza.

Pengelola Restoran Gigit Jari Lagi

Untuk saat ini, restoran-restoran yang kehabisan 1,5 tahun pandemi menghadapi tantangan berat lainnya dengan larangan makan di tempat yang berlaku hingga 18 Agustus.

"Ini benar-benar membuat frustrasi," ujar manajer outlet restoran kebab di pusat Singapura, Preston Samuel.

Dia memperkirakan setidaknya pengelol bisnis makanan yang menawarkan layanan antar akan mengalami penurunan pendapatan 50 persen pada bulan depan.

"Dari segi makanan, seperti Anda membeli kebab dan membawanya, itu tidak akan sesegar bagaimana Anda memakannya di tempat," kata Samuel.

Gara-gara Klub Karaoke

Dia menunjukkan bagaimana restoran bergantung pada pelanggan yang datang. Di dinding tempat usaha Samuel digantungkan papan pengumuman berlaminasi yang memberi tahu pelanggan hanya pasangan yang diizinkan untuk makan di dalam sesuai aturan yang berlaku.

Kurang dari sepekan, nasihat yang terpampang di seluruh Singapura itu menjadi terlihat usang. Pejabat Singapura telah bolak-balik menerapkan aturan berbeda soal pengunjung rumah makan karena situasi Covid-19 telah berfluktuasi selama beberapa pekan terakhir.

Tahun lalu, Singapura memerangi wabah muncul di asrama padat pekerja migran. Meski bisa dikendalikan dengan cara mengisolasi para pekerja, sekarang ketakutan akan penularan serupa dapat terjadi pada areal yang lebih luas.

Tudingan sumber penularan mengarah pada pengelola klub karaoke yang beroperasi dengan kedok menyamar sebagai tempat makan dan minum. Di tempat tersebut, pengelola dituding menawarkan pendampingan kepada pelanggan.

Dugaan lain sumber penularan yang telah teridentifikasi adalah pelabuhan perikanan. Temuan ini menimbulkan kecurigaan virus mungkin terbawa oleh kapal penangkap ikan Indonesia atau kapal lain yang mengangkut hasil laut.

Pasar ikan serta kawasan perumahan juga menunjukkan bukti terjadinya penularan sehingga memicu kekhawatiran tingkat penyebaran di antara penduduk.

Pertemuan Sosial Boleh Cuma 2 Orang

Upaya pencegahan dilakukan Singapura dengan kembali membatasi pertemuan sosial menjadi maksimal dua orang, dari sebelumnya lima orang. Museum juga beroperasi dengan mengurangi kapasitas dan bioskop dilarang menjual makanan dan minuman.

Pengetatan kembali aturan bagi masyarakat ini akan dilakukan dengan tujuan tercapainya proporsi ideal populasi yang telah mendapat vaksinasi, melindungi masyarakat yang lebih rentan seperti lanjut usia dan belum divaksinasi.

Namun para pejabat tetap menegaskan Covid-19 tidak mungkin hilang dan tetap dengan keyakinannya bahwa Covid-19 merupakan penyakit endemik yang dapat dikelola.

"Dengan persentase yang jauh lebih tinggi dari populasi kami yang divaksinasi penuh, kami kemudian dapat membuka kembali industri, dengan keyakinan bahwa bahkan jika kasus mencapai 100 hingga 200 kasus seperti hari ini, atau bahkan lebih tinggi, kami tahu kami dapat tetap aman dan bisnis dapat berlanjut dan kehidupan dapat terus berlanjut," kata Menteri Kesehatan Singapura Ong Ye Kung awal pekan ini.

Singapura sendiri telah menetapkan target dua pertiga penduduknya sudah mendapat suntikan vaksin dua dosis saat merayakan hari kemerdekaan pada 9 Agustus mendatang.

Aliansi Pedagang Menjerit

Di balik keyakinan para pejabat dengan startegi tersebut, Alliance of Frontline Business Trade Associations yang mewakili kepentingan perusahaan di sektor makanan dan minuman, ritel dan usaha kecil di Singapura telah menyampaikan kecemasannnya. 

"Semua sektor bisnis garis depan ... sangat prihatin dengan keberlanjutan bisnis kami," kata aliansi itu dalam sebuah pernyataan seray, meminta adanya relaksasi tarif sewa lapak.

"Setelah 16 bulan krisis pandemi berjalan seperti roller-coaster, bisnis yang berhasil bertahan sejauh ini dibebani oleh hilangnya pendapatan dan kemampuan mereka untuk mempertahankan pekerjaan dan membayar sewa," ungkap asosiasi pedagang tersebut, dikutip dari Nikkei.

Anara

Komentar

Loading...