Kasus Positif Covid-19 pada Anak Tinggi di Aceh, 21 Orang Meninggal Dunia

Kasus Positif Covid-19 pada Anak Tinggi di Aceh, 21 Orang Meninggal Dunia
Ilustrasi kasus positif Covid-19 tinggi di Aceh. | Foto: Kompas.com

KBA.ONE, Banda Aceh - Tingginya kasus penyebaran Covid-19 di Aceh, telah menyasar ke anak-anak. Dari catatan Ikatan dokter Anaka Indonesia (IDAI) Aceh, sejak Mei 2020 hingga 20 Juni 2021 tercatat 1,831 anak di Aceh positif Covid-19, 21 diantaranya meninggal dunia.

Ketua IDAI Aceh, dr Herlina Dimianti, mengatakan jumlah itu merupakan data akumulatif selama pandemi di Aceh, yang dikumpulkan melalui laporan IDAI seluruh kabupaten/kota terkait perkembangan Covid-19 setiap pekan.

“Sampai Minggu 20 Juni 2021 malam, ada total 1,831 anak di Aceh yang konfirmasi positif Covid-19, dan yang meninggal dunia ada 21 orang, artinya angka kematian anak memang tinggi,” kata Herlina, Senin 28 Juni 2021.

Herlina menyebutkan dari total keseluruhan, sebanyak 1,284 orang positif terinfeksi Covid-19 tetapi tidak memiliki gejala, sehingga hanya membutuhkan isolasi mandiri di rumah agar tidak menularkan ke warga lainnya. Sedangkan 547 anak lainnya memiliki gejala, sehingga membutuhkan perawatan di rumah sakit rujukan.

Kasus Covid-19 pada anak tersebut, kata dia, tersebar di seluruh kabupaten/kota di Aceh, namun paling banyak berasal Kota Banda Aceh mencapai 829 anak, Kabupaten Aceh Besar 186, dan Bireuen 154 anak.

“Itu data secara akumulatif yang kita kumpulkan sejak Mei 2020. Artinya sekarang sudah banyak juga yang selesai isolasi dan perawatan sehingga sudah dinyatakan sembuh,” katanya.

Herlina menjelaskan pada awal laporannya, memang Covid-19 dominan menyerang orang dewasa. Namun karena penyakit itu disebabkan oleh virus, maka siapapun berpotensi terinfeksi, termasuk kelompok anak, yakni mereka yang masih berumur 0-18 tahun, apalagi dalam komunitasnya terdapat orang yang positif.

Bahkan, kata dia, data yang dikumpulkan IDAI di seluruh Indonesia angka kematian pada anak akibat virus corona mulai 3-5 persen. Di Aceh, penyebab kematian anak terinfeksi Covid-19 sama dengan orang dewasa, yang juga memiliki penyakit penyerta (komorbid).

“Data yang ada pada kita ini, komorbid yang ada sama anak itu seperti gizi, penyakit jantung, ada juga masalah neurologi. Jadi anak memiliki penyakit dasar lain, terinfeksi Covid-19, maka terjadilah kondisi yang memburuk,” katanya.

Menurut dia, kelompok anak mayoritas tertular dari klaster keluarga, yakni ketika salah satu anggota keluarga positif maka anak ikut pelacakan (tracing) dan pemeriksaan (testing). Ada juga yang tertular di lingkungannya, karena Aceh sudah terjadi transmisi lokal tinggi, sehingga jika ada anggota keluarganya tidak ada yang positif tetapi anak terkonfirmasi Covid-19.

Tingginya penularan kasus Covid-19 pada anak di Aceh, menurut IDAI, salah satu pemicunya adalah masih renggangnya penerapan protokol kesehatan. Oleh sebab itu, ia mengimbau agar masyarakat setempat terus disiplin menerapkan protokol kesehatan, terutama memakai masker dan menjaga jarak saat beraktivitas di tengah masyarakat.

“Dari awal sudah dikatakan bahwa protokol kesehatan itu sangat penting dalam upaya pengendalian penyebaran Covid-19 ini,” tutup Herlina. | FITRI, Kontributor Banda Aceh

Komentar

Loading...