Kebanalan Pejabat

Kebanalan Pejabat
Otto Syamsuddin Ishak | Foto : fb

Oleh: Otto Syamsuddin Ishak

 Selepas beberapa hari kunjungan Presiden Jokowi, dengan agenda khusus untuk sosialisasi vaksinasi di kalangan pesantren dan warga setempat. Masalahnya, progres vaksinasi di Aceh masih rendah dari rata-rata capaian nasional atau propinsi-propinsi lain.

Aceh baru mencapai 18,5 persen untuk vaksinasi tahap pertama; dan pada tahap kedua 9,2 persen. Sedangkan untuk kalangan usia remaja (usia pelajar), vaksinasi dosis pertama mencapai 3,4 persen. Dan kedua 2,3 persen. Sementara situasi pandemic berada pada zone merah.

Jika demikian faktanya, bagaimana Aceh dengan populasi 5,7 juta jiwa dapat mencapai herb immunity? Bahkan, dengan perlambatan vaksinasi itu, Aceh berpotensi menjadi salah satu kantong covid, manakala propinsi lain sudah masuk tahap herb immunity.

Nampaknya, perlambatan vaksinasi bukan saja dari masyarakat dayah, tetapi juga dari kalangan para pelajar. Karena itu, para pejabat menjadikan kelompok sasaran vaksinasi dari kalangan santri dan pelajar. 

Kemudian, Kadisdik Aceh Alhudri mendorong vaksinasi di kalangan pelajar. Masalahnya muncul ketika ia menyampaikan instruksi bernada ancaman: “Ini saya tegaskan kepada kepala sekolah SMA, SMK dan SLB, jika tidak mampu maka saya persilakan mundur saja."  

Hal itu dipertegas oleh Sekda Aceh Taqwallah, lagi-lagi terkait dengan dunia pendidikan pelajar. Ia kira-kira mengatakan dengan nada serupa (ancaman) bahwa dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) tidak akan direalisasikan (atau tidak cair) seandainya vaksinasi pelajar tidak berhasil.

Duh, dana BOS cair saja, mutu pendidikan pelajar rendah, apa jadinya bila dana BOS tidak cair? Reaksi pun bermunculan dari para wali murid, para guru dan public. Dalam situasi pandemic yang sudah berdampak pada penurunan kualitas hidup (karena semakin miskin), mengapa para pejabat justru melontarkan ancaman, bukan kesejukan dalam mengorientasikan perilaku masyarakat? Publik mulai membayangkan efek domino dari ucapan kedua pejabat tersebut. 

Agak menurunkan tensi, manakala Wakil Ketua DPRA Hendra Budian, di dalam silaturrahmi dengan pengurus PGRI, menyatakan: pernyataan para pejabat itu bermuatan ancaman, sekaligus mencerminkan arogansinya, serta menciptakan suasana kegaduhan, atau instabilitas social yang bisa menjurus terganggunya stabilitas keamanan. Lalu, Hendra memberikan garansi: “bahwa tidak ada pecat-memecat dan penghentian dana BOS.”

Nampaknya, kedua pejabat tersebut berada dalam situasi tertekan dengan capaian vaksinasi di Aceh. Apalagi jika pejabat itu mempunyai perilaku suka menekan di dalam mencapai output kerjanya, maka sesungguhnya ia sendiri rentan terhadap situasi kerja yang menekan. Meskipun, di dalam setiap pelelangan jabatan structural, sekarang kejiwaan merupakan salah satu syarat utama. Karena diasumsikan bahwa memegang kewenangan berarti hidup dalam situasi tertekan. Semakin tinggi eselonnya, maka semakin besar tekanan kerjanya. 

Pejabat yang tidak biasa kerja di dalam situasi tekanan, maka ia akan cenderung destruktif di dalam menjalankan kebijakannya. Oleh karena itu, pengelolaan pemerintahan, khususnya dalam memberikan pelayanan kepada public akan menjadi “hanco klaha”. Oleh karena itu, terkait dengan perilaku kedua pejabat tersebut, nampaknya nilai uji psikologis tak dipertimbangkan sebagai factor yang penting dalam pengangkatannya sebagai pejabat.

Apalagi, secara sosiologis, perilaku pejabat tersebut merefleksikan karakter yang tak memiliki empati terhadap kondisi masyarakat dan situasi psikologis tim kerja kolegialnya. Oleh karena itu, sebuah tim kerja yang dipimpinnya, akan selalu meraih capaian (output) yang rendah (sisa anggaran) dan kacau (penggunaan anggaran yang serampangan). 

Secara keseluruhan, kita dapat mengatakan fenomena tersebut menunjukkan banalitas pejabat di Aceh. Banal di dalam bahasa Indonesia adalah kasar. Jika kita kaitkan dengan kapasitas pejabat, maka dapat dikatakan pemikirannya dangkal atau kapasitas intelektualnya rendah, yang dia sendiri tak menyadarinya, kalau sedang merosot karena kerja di bawah tekanan.*

*Penulis adalah sosiolog yang tinggal di Banda Aceh.

Anara

Komentar

Loading...