Kebijakan Wajib Uji Swab Masuk ke Aceh Sengsarakan Rakyat

Kebijakan Wajib Uji Swab Masuk ke Aceh Sengsarakan Rakyat
Ilustrasi uji swab. | Foto: Ist

Di Medan biaya uji swab sekitar Rp1,5 juta dan rapid test Rp450 ribu.


KBA.ONE, Banda Aceh -  Sejumlah pedagang di Aceh mulai resah usai dikeluarkan ketentuan wajib uji swab bagi masyarakat yang masuk ke Aceh lantaran meningkatnya jumlah positif orang terjangkit virus corona (Cohid-19).

"Ibarat jatuh ketimpa tangga, kemudian digigit pula oleh anjing, begitulah nasib bedagang di tengah -wabah Covid 19," ujar Rusli, pedagang asal Bireuen, kepada KBA.ONE, Sabtu 27 Juni 2020, usai bongkar dagangan sayuran di pasar Penayong, Banda Aceh.

Rusli mengaku kaget dengan aturan wajib uji swab bagi masyarakat yang masuk ke Aceh, sebab dirinya pernah mengurus biaya swab bagi keluarganya untuk pulang ke Aceh dengan harga fantastis bagi seorang masyarakat yang hidup pas - pasan. "Di Medan biaya uji swab Rp1,5 juta dan rapid test Rp450 ribu," katanya.

Untuk seorang pedagang seperti Rusli yang mengambil buah - buahan dan sayuran dari Berastagi, Sumatera Utara, hampir setiap empat hari sekali, tentunya mengeluarkan cost yang besar.

Sementara, keuntungan yang diperoleh sangat sedikit karena akan mengeluarkan biaya tambahan di jalanan, "jika ada penambahan biaya untuk mengurus swab tidak mungkin usaha saya bisa jalan," ujarnya Rusli.

Saat ini Rusli mengaku terus dibayang - bayangi cicilan pinjaman bank dan biaya cicilan truk pengangkut dagangannya. Sejauh ini, janji pemerintah dapat keringanan pinjaman hanya isapan jempol belaka, katanya.

Pengamat ekonomi Universitas Syiah Kuala, Rustam Effendi, menilai langkah wajib uji swab yang akan dilakukan Pemerintah Aceh sah-sah saja. Selain itu, langkah untuk menutup perbatasan yang sedang dipertimbangkan oleh Pemerintah Aceh juga merupakan kebijakan wajar dan dapat dipahami. 

Rustam Effendi. | Foto: Ist

"Apalagi info terakhir telah terjadi penularan infeksi Covid-19 yang dibawa oleh orang luar Aceh," jelasnya.

Akibatnya, sebut Rustam,  membuka peluang terjadinya transmisi lokal sehingga jumlah mereka yang terpapar virus mematikan ini melonjak tajam dalam minggu ini.

"Sebab yang dibatasi hanya mobilitas orang. Sedangkan arus pengangkutan logistik, barang-barang kebutuhan seperti sembako yang masih bergantung pada provinsi tetangga masih diizinkan," kata Rustam Effendi.

Bagi pedagang, Rustam menyarankan, untuk  sementara waktu sebaiknya dapat melakukan transaksi ekonomi tanpa harus hadir secara fisik. Dengan kemudahan jaringan komunikasi dan era digital tentu ini bukan perkara sulit. Jika pun ingin tetap bepergian, harus membawa surat hasil swab yang biaya tesnya mencapai Rp1,5 juta.

Dalam hal ini, pihak pedagang tentu akan membuat hitungan sendiri. Mereka pasti akan memilih risiko yang paling ringan. Meskipun sanggup membayar biaya tes swab dengan omzet keuntungan yang bakal diperoleh, mereka juga harus mempertimbangkn faktor risiko terpapar virus ganas ini.

Sebaiknya, pedagang memilih risiko yang paling minimal, termasuk ikut menjaga agar daerah Aceh tidak makin diserbu wabah ini. "Ingat, pedagang juga punya keluarga," kata Rustam.

Secara bisnis, dengan kebijakan penutupan perbatasan ini membuat aktivitas usaha pasti akan terganggu dan omzet penjualan ikut menurun. Kondisi serupa juga sedang dirundung ekonomi nasional akibat adanya wabah Covid-19.

Untuk sementara waktu, saran Rustam, transaksi bisnis sebaiknya dilakukan lewat komunikasi dengan memanfaaatkan kemudahan jaringan tanpa hrs hadir scara fisik. Apalgi ini utk sementara waktu saja. "Semoga covid 19 segera tertangani," harap Rustam Effendi. ***

Komentar

Loading...