Kejari Sabang Stop Kasus Polisi Gadungan Tipu Pacar

Oleh ,
Kejari Sabang Stop Kasus Polisi Gadungan Tipu Pacar
Pemberhentian kasus Polisi tipu pacar oleh Kejari Sabang. | Foto: KBA.ONE, Diki Arjuna

KBA.ONE, Sabang - Kejaksaan Negeri (Kejari) Sabang menghentikan penuntutan terhadap HG, polisi gadungan yang diduga menipu pacarnya.

Kasus tersebut diselesaikan dengan menerapkan keadilan restoratif sesuai Peraturan Kejaksaan nomor 15 tahun 2020 tentang penghentian penuntutan berdasarkan keadilan restoraktif.

"Hari ini kita melakukan penghentian penuntutan perkara tindak pidana penipuan (Pasal 378 KUHP) sesuai dengan Peraturan Kejaksaan nomor 15 tahun 2020 tentang penghentian penuntutan berdasarkan keadilan restoratif," sebut Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Sabang, Choirun Parapat kepada awak media, Senin 21 September 2020.

Dikatakannya, proses penghentian penuntutan dilakukan di Kejari Sabang, sebelumnya terdakwa mendekam di penjara dan kini dibebaskan.

Menurut Choirun, kasus dugaan penipuan ini bermula saat HG yang mengaku sebagai polisi berdinas di Polda Aceh berjanji akan menikahi korban. Ia meminta sejumlah uang kepada korban senilai Rp9 juta dengan alasan untuk mengurus pernikahan.

Korban merasa tertipu setelah mengetahui HG bukan polisi. Pernikahan yang dijanjikan terdakwa juga tidak terlaksana hingga akhirnya melaporkan kasus tersebut ke polisi.

"Penyidikan kasus ini ditangani polisi, dan setelah lengkap berkasnya (P-21) terdakwa diserahkan kepada penuntut umum tanggal 4 September," terangnya.

Choirun menjelaskan, penghentian penuntutan ini dilakukan berdasarkan Perja nomor 15 tahun 2020 dengan mengedepankan keadilan restoratif yang melibatkan terdakwa, korban, keluarga korban, dan perangkat gampong. Alasan utamanya telah ada pemulihan kembali pada keadaan semula dari pihak korban dengan telah ada penggantian kerugian yang dilakukan terdakwa disertai adanya perdamaian antara korban dengan terdakwa.

Lebih lanjut dijelaskan, pelaksanaan penerapan Peraturan Kejaksaan nomor 15 tahun 2020 tentang penghentian penuntutan berdasarkan keadilan restoratif ini merupakan penerapan penyelesaian kasus ketiga di Aceh dan yang pertama di Sabang.

Ini juga sebagai bentuk sosialisasi keadilan restoratif yang merupakan suatu jalan untuk menyelesaikan kasus pidana yang melibatkan masyarakat, korban, dan pelaku kejahatan, agar tercapai keadilan bagi seluruh pihak sehingga diharapkan terciptanya keadaan yang sama seperti sebelum terjadinya kejahatan dan mencegah terjadinya kejahatan lebih lanjut.

"Tercapainya penghentian penuntutan berdasarkan keadilan restoratif tersebut diawali dengan tercapai kesepakatan perdamaian antara terdakwa dengan pihak korban yang difasilitasi oleh Jaksa Kejari Sabang," ujar Choirun.

Penghentian penuntutan diajukan jaksa Kejari Sabang secara berjenjang kepada Kajari Sabang. Selanjutnya diajukan ke Kepala Kejaksaan Tinggi Aceh hingga mendapat persetujuan untuk dihentikan penuntutannya. Setelah mendapat persetujuan dari Kajati Aceh selanjutnya jaksa melakukan penghentian penuntutan terhadap perkaranya.

"Jadi hari ini terdakwa HG yang sebelumnya mendekam di penjara sekitar dua bulan kita keluarkan atau kita bebaskan," ungkapnya.

Pembebasan HG dari rutan Sabang dihadiri Choirun, Kasi Pidum Muhammad Rizza, Jaksa Fungsional Fickry Abrar Pratama, serta keluarga terdakwa.***

Komentar

Loading...