Kenikmatan Yang Langka di Sudut Kota Padang

Oleh ,
Kenikmatan Yang Langka di Sudut Kota Padang
Suasana satu dari sedikit kafe di Padang, Sumatera Barat. Foto: KBA/Azhari Bahrul.

"Kopi enak langsung ketahuan dari aromanya," kata Mohsa el Ramadan.

KBA.ONE, Padang - Ketika pesawat yang membawa rombongan peserta Hari Pers Nasional (HPN) dari Persatuan Wartawan Indonesia Aceh, mendarat di Bandara Internasional Minang Kabau, Padang, 6 Februari 2018, pikiran mulai menerawang, "ngopi di mana ya?".

Benar saja ketika perasaan galau muncul keinginan untuk minum kopi. Suasana berbeda sangat kelihatan dalam perjalanan dari Bandara Minang Kabau ke penginapan. Tak terlihat satupun warung kopi atau kafe menawarkan kopi arabika, tak seperti di Aceh.

Spontan saja pertanyaan yang sama tertuju kepada sopir yang menjemput rombongan Aceh. Reza, nama sopir itu, berkata bahwa di Padang sulit untuk menemukan warkop. "Warung nasi, banyak."

Reza menjelaskan kalaupun ada warkop jumlahnya tidak banyak paling hanya puluhan dan menu kopi hanya kopi saset atau kopi siap saji. Tentu ini sangat berbeda dengan warkop di Banda Aceh dengan sebutan kota 1.000 warkop.

Kegalauan rombongan PWI Aceh terus berlanjut hingga hari kedua ketika rombangan kedua Aceh tiba, pada 7 Februari 2018.  Sehari setelah rombongan tiba, ternyata kopi juga menjadi langkah awal di Padang oleh rekan-rekan insan pers dalam mengikuti HPN di Padang.

Untung adap Irfan. Sopir yang satu ini mengarahkan rombongan ke Jalan Mongonsidi. Tanpa banyak pertimbangan, tawaran itu langsung disambut. Rombongan bergegas ke lokasi yang dimaksud Irfan--begitu kami memanggilnya. 

Sebuah kafe yang didisain dengan suasana vintage seperti memberikan tanda. Namun yang membuat rombongan memutuskan singgah di kafe itu adalah kata-kata Mohsa el Ramadan, CEO KBA, setelah menghidu aroma tajam kopi. "Kopi enak langsung ketahuan dari aromanya," kata dia.

Pemilik Cafe Lalito, Arthur Oyong, menjelaskan bahwa cafe yang menyediakan kopi arabika belum banyak. Hanya ada empat kafe yang representatif. Saat ini bubuk kopi Arabika seperti pear bery, di datangkan dari Sumut juga dari lokal, namun harga bubuknya masih tergolong mahal rata- rata sekitar Rp 200 ribu-Rp500 ribu. 

Alhasil, segelas singel espresso dijual Rp 20 ribu. Jauh berbeda dengan harga di Aceh, yang sangat "merakyat".

"Dalam satu hari income bersih atau omzetnya bisa Rp 2 juta hingga lebih dari jumlah pengunjung bisa mencapai 50 hingga 100 orang per hari, namun peminatnya masih kaula muda dan tamu luar daerah," ujar Arthur Oyong.

Tapi apapun ceritanya, menemukan sebuah kafe dengan sajian kopi nikmat seperti menemukan oase di padang pasir. Di sini, kerinduan akan segelas kopi dan perbincangan yang akrab, terbayarkan. Sah.

Komentar

Loading...