Kerasnya Kehidupan di Ibu Kota

Kerasnya Kehidupan di Ibu Kota
Kiri Teguh, Kanan Fajar, Pengamen Ondel-Ondel | Foto: Khadafy

Masa Kecil mereka terampas waktu dan jalanan. Walaupun diterpa teriknya matahari, langkah itu tidak membuat mereka resah. Sambil bercanda, dua bocah itu menelusuri hitamnya aspal di siang hari tersebut

KBA.ONE, Jakarta - Teriknya matahari Kota Jakarta, di Pasar Baru, sangat menyengat kulit. Namun hal itu tidak dirasakan kedua bocah berusia 10 tahun ini yang sedang mengais rezeki. Langkah kakinya tidak surut, sambil memegang satu ember kecil warna merah jambu (pink), mereka mengadahkan dua tangannya demi berharap lembaran ribuan serta recehan kepingan uang logam. Dengan mengenakan boneka ondel-ondel, berbaju tradisional adat Betawi, dua bocah kecil tersebut melakukan atraksi mengikuti alunan suara musik dari tape recorder modifikasi.

Boneka ondel-ondel itu menari dan bergoyang yang digerakkan satu bocah berada di dalam boneka. Satu bocah lainnya, dengan ember di tangan menghampiri orang-orang sekitar. Hanya satu harapan di hati mereka, belas kasihan dari recehan yang diberikan.

Melihat hal itu mengingatkan satu lagu yang dinyanyikan musisi ternama tanah air, yaitu Sore di Tugu Pancoran, berlirik, si Budi kecil kuyup menggigil menahan dingin tanpa jas hujan di simpang jalan tugu Pancoran. Tunggu pembeli jajakan koran. Menjelang magrib hujan tak reda, si Budi murung menghitung laba. Surat kabar sore dijual malam, selepas isya melangkah pulang.

Isi lirik dari lagu itu memang berbeda kisah dari dua bocah ini. Namun yang perlu diingat, adakah anak sekecil itu yang sanggup berada di dua sisi, terpaksa, dipaksa, antara pekerjaan dan sekolah. Ia berkelahi dengan waktu demi satu impian yang kerap menganggu tidurnya.

Rabu siang, 30 Oktober 2019, KBA.ONE melangkahkan kakinya di salah satu gerai jajanan berada di Gang Kelinci, Pasar Baru, Jakarta Pusat. Mata saya tertuju pada dua bocah berkulit hitam, berbaju kaos lusuh, mengenakan sandal jepit butut sedang berada di depan gerai jajanan dengan mengadahkan ember kecil berisi uang recehan.

Dalam hati bertanya, di mana orang tua dua bocah yang baru selesai atraksinya mengenakan boneka ondel-ondel itu? 

Ibu kota memang kejam. Seharusnya anak seusia mereka mendapatkan perhatian khusus serta kasih sayang kedua orang tua, kenyataan kehidupan berkata lain.

Dua bocah bernama Fajar dan Teguh, telah duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar itu terpaksa mengais rezeki demi memenuhi kebutuhan jajannya. Masa kecil mereka terenggut oleh keadaan. Sungguh miris melihat kehidupan tersebut.

Beberapa orang berpakaian rapi dengan kendaraan mentereng singgah di gerai itu sambil membeli makanan kecil serta rokok. KBA  memesan satu cup coffee Americano dan memberikan dua botol air mineral dingin ke tangan dua bocah yang berpeluh sebagai pengganti dahaga mereka bekerja di bawah teriknya sinar matahari menerpa.

Sambil duduk santai di depan gerai, KBA memanggil dua bocah Fajar dan Teguh, untuk duduk di samping.

Lalu, satu bocah membuka percakapan saat saya tanyakan tentang pekerjaan mereka. "Kerjaan ini sudah tiga bulan kami lakoni om," ujarnya.

Sebelumnya kami mengamen, terang Fajar, menjawab pertanyaan KBA.ONE. Hilir mudik kendaraan dan riuhnya suasana sekitar terlihat di lokasi itu. Tukang parkir beseragam biru dengan pluit di bibirnya mengatur lalu lalang kendaraan yang singgah parkir.

Fajar melanjutkan ceritanya, bahwa ayahnya sudah meninggal. Tinggal ibunya yang bekerja sebagai ojol alias ojek online. "Saya anak ketiga dari tiga bersaudara," ucap bocah itu dengan raut wajah sedih.

Katanya, ia melakukan pekerjaan ini agar uang yang didapat bisa ditabung dan membantu ibu dalam keuangan.

"Kalau sekolah, saya masih. Sekarang duduk di kelas tiga di salah satu sekolah dasar negeri. Pagi saya pergi sekolah, pulang sekolah siang hari hingga magrib, ini pekerjaan kami. Malamnya saya belajar dan buat pekerjan rumah (PR) dari sekolah," cerita Fajar.

Hal sama juga disampaikan teman Fajar. Teguh, bocah kecil berkulit hitam legam itu mengakui pekerjaan dilakoni ini demi jajan sehari-sehari.

"Uang yang didapat memang tidak banyak, tapi bisa lepas jajan dan ditabung," ucap Teguh, menghela nafasnya.

Orang tua teguh bekerja aebagai buruh bangunan. Pendapatannya pas-pasan aementata kebutuhan banyak. "Jadi dengan kerjaan ini kan saya bisa bantu-bantu di rumah juga," kata Teguh, kepada KBA.ONE.

Boneka ondel-ondel ini, karya bapak Teguh. "Dengan adanya ondel-ondel ini saya juga bisa mencari uang. Kalau sekolah, itu hal utama bagi saya," tegas Teguh.

"Saya dengan Fajar satu sekolah, juga tetanggaan. Selesai sekolah kami kerja seperti ini. Kalau hari biasa kami dapat sekitar 50 ribu rupiah. Tetapi kalau hari Sabtu dan Minggu bisa lebih besar, sekitar 150 ribu atau 100 ribu. Tempat ini kan ramai pengunjung bila hari libur," terang Teguh.

Apa cita-cita kalian? Fajar menjawab ingin menjadi polisi. Alasannya kalau jadi Polisi nanti saya bisa menolong orang lain yang memerlukan.

Sedangkan Teguh menambahkan, kalau cita-citanya ingin menjadi TNI. Pake baju hijau loreng itu, katanya,  gagah.

"Nanti kan saya juga bisa menjaga negara ini kalau saya jadi tentara dan bisa bertugas di manapun," tutup kedua bocah kecil itu sambil tertawa renyah, seakan pekerjaan itu bukan menjadi beban walaupun indahnya masa kecil terlewati oleh waktu dan kerasnya kehidupan di ibu kota. Itulah cerita dan cita-cita mereka. Semoga.***

Komentar

Loading...