Kesiapan Beribadah di Tengah Pandemi Covid-19

Kesiapan Beribadah di Tengah Pandemi Covid-19
Sharfina. | Foto: ist

Direktur Jenderal World Health Organization (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, Rabu 11 Maret 2020, mengumumkan status Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) sebagai pandemi global. Kriteria spesifik untuk pandemi menurut WHO, tidak ditentukan secara universal, tetapi ada tiga kriteria umum yakni virus yang dapat menyebabkan penyakit atau kematian, penularan virus orang ke orang yang berkelanjutan, dan bukti penyebaran ke seluruh dunia.

WHO mendefinisikan pandemi sebagai penyebaran penyakit baru di seluruh dunia. Tercatat, ada beberapa penyakit pandemi yang paling mematikan sepanjang sejarah, salah satunya cacar, campak, tifus, flu spanyol, black death, dan HIV/AIDS.

Di dalam istilah kesehatan, disebut pandemi karena telah menyerang banyak korban, secara serempak di berbagai negara.

Penetapan pandemi oleh WHO itu sekaligus mengonfirmasi bahwa Covid-19 merupakan isu darurat internasional. Hal tersebut berarti setiap rumah sakit dan klinik di seluruh dunia disarankan untuk dapat mempersiapkan diri menangani pasien penyakit tersebut, meskipun belum ada pasien yang terdeteksi.

Untuk diketahui, Covid-19 adalah keluarga besar virus yang dapat menginfeksi burung dan mamalia, termasuk manusia. Menurut WHO, Covid-19 dapat menyebabkan penyakit mulai dari flu ringan hingga infeksi pernapasan yang lebih parah, seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS-CoV) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS-CoV).

Awal kemunculan Covid-19 yaitu di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, China, pada Desember 2019. Dalam beberapa bulan, virus ini menular dengan sangat cepat dan menyebar hampir ke semua negara di dunia, salah satunya Indonesia. Sehingga, Rabu 11 Maret 2020, WHO mendeklarasikannya sebagai pandemi global.

Hal tersebut membuat beberapa negara menerapkan kebijakan untuk memberlakukan lockdown, dalam rangka mencegah penyebaran Covid-19.

Berbeda halnya dengan Indonesia, dalam menanggapi Covid-19, Indonesia tidak menggunakan penerapan lockdown, melainkan mencari jalan keluar lain untuk melakukan berbagai upaya, baik imbauan maupun kebijakan dalam mencegah penyebaran Covid-19 yang lebih terukur.

Kebijakan Pemerintah Indonesia dalam penanganan Covid-19, seperti belajar dari rumah, bekerja dari rumah, dan beribadah di rumah. Kebijakan ini untuk mengurangi tingkat penyebaran Covid-19 dengan tetap mempertahankan pelayanan kepada masyarakat, baik urusan kebutuhan pokok, pelayanan kesehatan, dan pelayanan publik lainnya.

Dengan demikian, transportasi publik tetap harus disediakan oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Dengan catatan meningkatkan tingkat kebersihan moda-moda transportasi tersebut, baik itu kereta api, bus kota, Mass Rapid Transit (MRT) , Light Rapid Trans (LRT), bus trans. Yang penting bisa mengurangi tingkat kerumunan, mengurangi antrian, dan mengurangi tingkat kepadatan orang di dalam moda transportasi tersebut, sehingga masyarakat bisa menjaga jarak satu dengan lainnya.

Namun, beberapa waktu lalu, di sebagian daerah di wilayah Jabodetabek telah diberlakukan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk menekan penyebaran virus ini. Dengan peraturan yang lebih ketat.

Tidak hanya di Jabodetabek, kepala daerah di seluruh provinsi di Indonesia lainnya pun berbondong-bondong mengeluarkan imbauan serta kebijakan untuk penanganan Covid-19. Mulai dari penggunaan masker, menggunakan hand sanitizer dan pelindung diri lainnya.

Di Provinsi Aceh sendiri, Pemerintah Aceh bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Aceh, mengeluarkan maklumat bersama untuk memberlakukan jam malam di Aceh, yang diberlakukan mulai Minggu malam, 29 Maret 2020 sampai dengan Jum'at 29 Mei 2020.

Kebijakan itu dikeluarkan guna membatasi aktivitas masyarakat di luar rumah pada malam hari, sehingga penyebaran Covid-19 dapat diputuskan.

Maklumat tersebut ditetapkan di Banda Aceh, pada 29 Maret 2020. Ditandatangani oleh Wali Nanggroe Aceh, Malik Mahmud Al Haytar, Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Aceh, Dahlan Jamaluddin, Kapolda Aceh Wahyu Widada, Pangdam Iskandar, Muda Teguh Arief Indratmoko, dan Kepala Kejaksaan Tinggi Aceh, Irdam.

Diantara poin penting dari maklumat tersebut adalah mengimbau masyarakat agar tidak melakukan aktivitas di luar rumah pada penerapan jam malam sejak pukul 20.30 WIB sampai pukul 05.30 WIB.

Namun, kebijakan tersebut harus berhenti ditengah jalan, dikarenakan banyak masyarakat yang merasa dirugikan dengan pemberlakuan jam tersebut. Hal itu disebabkan banyak Warung Kopi (Warkop) yang terpaksa tidak beroperasi dan tempat mencari nafkah lainnya. Alhasil pemberlakuan jam malam itupun terpaksa harus dihentikan.

Pandemi Covid-19 tetap saja masih berada di tengah masyarakat di seluruh dunia. Ada yang berbeda yang dirasakan oleh umat Islam yang ada di seluruh dunia dalam menyambut bulan suci Ramadan 1441 Hijriah kali ini.

Bulan suci Ramadan merupakan bulan yang penuh berkah, rahmah dan maghfirah. Pada bulan Ramadan setiap muslim diwajibkan untuk menjalankan ibadah puasa, melakukan amalan-amalan sunah lainnya, termasuk menjalan ibadah salat Tarawih.

Sebagaimana diketahui, Indonesia merupakan negara dengan mayoritas penduduk Islam. Ditengah pandemi seperti sekarang ini, sebagian masjid di Indonesia tidak melaksanakan salat Tarawih, termasuk Masjid Istiqlal, Jakarta, yang merupakan masjid termahsyur bagi penduduk Indonesia yang tidak menggelarkan ibadah salat Tarawih.

Meski ditengah Covid-19, di Aceh belum ada kabar yang tersiar adanya masjid yang tidak menggelarkan ibadah salat Tarawih, melainkan ada sebagian masjid yang menerapkan physical distancing dan penggunaan masker.

Seperti salah satu desa di Kota Bireuen, Aceh, yaitu Lhok Awe-awe, menurut pantauan Sharfina, terlihat masyarakat meskipun ditengah Covid-19, salat Tarawih tetap berjalan dengan mematuhi protokol penanganan pencegahan Covid-19 dengan menggunakan masker.

Kepala Desa Lhok Awe-awe, H. Maimun Ar, Sabtu 25 April 2020, persiapan yang dilalukan di desanya dalam beribadah di tengah pandemi Covid-19, di meunasah (musala) disediakan tempat untuk mencuci tangan, sebelum masuk dan keluar meunasah harus mencuci tangan, dianjurkan untuk memakai masker ketika salat berlangaung.

"Kita terapkan saat beribadah itu memakai masker dan mencuci tangan. Masyarakat tidak merasa khawatir saat beribadah karena di desa tidak ada yang positif covid-19, tapi kita tetap menjaga dan menghindari," kata Maimun akrab disapa Keuchik Mun.

Kegiatan seperti berbuka puasa, lanjutnya, tetap dilaksanakan tetapi dibatasi. Biasanya dilakukan setiap hari, namun disituasi seperti sekarang ini dilaksanakan berbuka puasa tiga kali dalam satu bulan, berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.

"Tidak diterapkan jaga jarak ketika salat, namun tetap memakai masker. Rencananya beberapa hari kedepan akan dibagikan seribu masker gratis untuk seluruh warga desa lhok awe-awe," ujar Keuchik Mun.

Selain itu, Forkopimda Kabupaten Bireuen sebelumnya juga telah menyampaikan hal-hal yang harus diperhatikan oleh umat Islam yang ada di Bireuen dalam pencegahan penyebaran Covid-19 di bulan suci Ramadan ditengah pandemi Covid-19. Diantaranya,

1. Melaksanakam ibadah puasa dengan sempurna dan terus meningkatkan dengan mengedepankan keamanan, ketertiban masyarakat.

2. Meningkatkan amal ibadah untuk memperoleh maghfirah dan nilai-nilai ketaqwaan kepada Allah Swt dengan tetap mengikuti petunjuk pemerintah, MUI pusat, MPU Aceh maupun ulama kharismatik dikabupaten Bireuen.

3. Masyarakat mematuhi instruksi dan protocol yang ditetapkan oleh pemerintah dalam menghadapi wabah penyakit epidemic COVID-19 seperti tidak melakukan perjalan jauh, tetap berada dirumah bila tidak ada keperluan yang mendesak dan tetap menjaga jarak aman ditempat keramaian.

4. Bagi masyarakat yang pulang mudik dari luar daerah dapat melapor kepada kepala desa dan melakukan karantina secara mandiri selama 14 hari.

5. Wajib berikhtiar menjaga dan menjauhkan dirinya dari wabah penyakit menular COVID-19 dengan senantiasa memperhatikan petunjuk medis dan protocol kesehatan.


Penulis: Sharfina (Mahasiswa Fakultas Psikologi UIN Ar-Raniry di bawah bimbingan Harri Santoso S.PSI, M.Ed)

Komentar

Loading...