Ketika Kanot Bu Melawan Lewat Resistancoustic

Ketika Kanot Bu Melawan Lewat Resistancoustic
Perhelatan Resistancoustic di Rumoh Budaya Banda Aceh, Ahad, 15 Oktober 2017 | KBA.ONE/Nurnisa

Di setiap lagu, para penampil mengajak penonton berdiskusi sekenanya. Mereka juga menceritakan makna dari lagu sembari diisi guyonan yang mengundang gelak tawa penonton.

KBA.ONE, Banda Aceh - Dari balik rumah tua warisan Belanda di tepi Simpang Lima Banda Aceh, suara protes kembali bergema. Bukan lewat unjuk rasa tapi melalui deretan lirik-lirik lagu berisi kritik sosial.

Ahad sore kemarin, 15 Oktober 2017, Komunitas Kanot Bu menggelar Resistancoustic di Rumoh Budaya Banda Aceh. Konser akustik ini memang tak mirip perhelatan unplugged-nya Nirvana di MTV. Pun tak aksi heboh memecahkan gitar seperti yang dilakukan Kurt Cobain pada 1990-an itu, ketika sebagian punggawa Kanot Bu masih bocah.

Alunan musik beberapa kali terdengar mendayu dibawa angin lalu. "Pesan dalam beberapa lirik lagu kadang tidak terdengar jelas," ujar seseorang yang meminta namanya dirahasiakan, yang datang hari itu sebagai penonton tapi di akhir acara ia ikut menggulung kabel. Tentu, maksud si penonton ini bukan untuk menyalahkan angin atau panitia bagian penata suara.

Di panggung mini di belakang Rumoh Budaya itu penonton menyaksikan acara secara lesehan. Sementara di depan, beberapa musisi muda Banda Aceh duduk di kursi dengan "alat tempur" masing-masing. Ada Zulfan Amroe, Fuadi Keulayu, Iqbal Ubit dan Agus Fernanda.

Mereka menyanyikan beberapa lagu yang yang diciptakan dan diaransemen sendiri. Lagu yang ditampilkan berisi sindiran dan perlawanan atas isu-isu dan fenomena sosial yang sedang hangat. Soal ini, Kanot Bu memang "rajanya".

Di setiap lagu, para penampil mengajak penonton berdiskusi sekenanya. Mereka juga menceritakan makna dari lagu sembari diisi guyonan yang mengundang gelak tawa penonton. Misalnya, lagu 'Jak Lam Gampong' yang diciptakan Majelis Permusyawaratan Lirik. lagu ini mengkritik perilaku orang-orang dari kota yang masuk ke dalam gampong dan bergaya angkuh. "Jak lam gampong, bek peu kota droe. Bek neu pikee droe ka hayeue raya."

Ada juga lagu yang mengkritik gaya politisi yang berjiwa koruptor seperti 'Hypocraczy Politisi'. Lagu ini menceritakan tentang politisi yang mencuri uang negara demi keluarganya. Sedangkan ia hanya duduk ongkang kaki saban hari cuma terima gaji buta.

Terhitung belasan lagu yang dikumandangkan selepas azan Asar. Melihat dari buku panduan acara yang dicetak dalam kertas tapioka, semua liriknya berbahasa Aceh. Tanpa arti dalam bahasa Indonesia. Sore itu, memang tidak ada penonton yang protes karena tak mengerti lirik. “Aku datang ke sini untuk menghilangkan stres, seru acaranya dan aku sangat menikmati acara ini,” ujar Zuhri, seorang penonton.

Koordinator acara Zulham Yusuf mengakui para penonton kebanyakan masih sejawatnya Kanot Bu. Ada yang bersahabat dekat, ada yang satu kerjaan, ada pula yang mengenal dari teman ke teman. "Ini cara kami mencari suasana baru, sebelumnya kan selalu di sekretariat komunitas di Bivak Emperom," ujar Zulham sambil mengibaskan rambutnya yang mulai gondrong.

Dua tahun terakhir, komunitas tersebut telah menggelar satu forum diskusi berkelanjutan tentang pelbagai isu sosial melalui perspektif seni, yang diberi nama terassore. "Telah banyak wacana yang hadir dalam forum tersebut. Tapi akhirnya kami sadar bahwa berwacana belaka tidak akan menghasilkan apa pun kecuali dilanjutkan dengan suatu aksi nyata," tulis Zulham di bagian "Peh Asam" buku panduan acara.

Maka, panggung itu sendiri akhirnya memang menjadi semacam takdir akan aksi nyata. "Untuk kali ini, menyesuaikan tema diskusi pertama 'Musik dan Kepekaan Sosial', terassoreaksi meresponnya dengan sebuah panggung musik bertajuk resistancoustic," tulis Zulham, masih di buku panduan itu.

Konser kecil itu berakhir beberapa menit sebelum magrib dengan lagu 'Tanoh Kamoe'. Ketika lampu panggung dipadamkan dan penonton satu per satu menghilang, Zulham masih manggut-manggut, saat sebuah pertanyaan terlontar kepadanya. "Kenapa orang atau tokoh yang dikritik dalam lagu tidak dihadirkan juga ke panggung? Biar lebih seru."

Zulham menjawab, "Itu akan kita upayakan nanti." Baginya, menghadirkan aksi nyata tersebut sementara lebih dari cukup. Sekaligus membuktikan, mereka bisa berkarya dengan kantong terbatas. "Ke depan, kita buat lebih bagus lagi," ujarnya. Sebuah kata-kata semangat yang membuktikan Kanot Bu tak pernah diam dalam berkarya dengan gaya khas mereka.

Kontributor Banda Aceh, Nurnisa

Komentar

Loading...