Khasiat Ganja untuk Kesehatan - Dunia - Kantor Berita Aceh (KBA)

Khasiat Ganja untuk Kesehatan

Khasiat Ganja untuk Kesehatan
Ilustrasi ganja | pixabay

Hasil ladang ganja di dalam negeri Italia diharapkan dapat memenuhi kebutuhan mariyuana untuk pengobatan bagi sekitar 2.000 pasien.

KBA.ONE - Ganja bila disalahgunakan bisa merusak kesehatan. Tapi dalam dosis yang tepat, tumbuhan ini bisa menyelamatkan nyawa manusia dari berbagai jenis penyakit. Dikutip dari dw.com, beberapa manfaat ganja yang telah dibuktikan oleh sains seperti mencegah serangan epilepsi.

Pada 2013, peneliti Virginia Commonwealth University menemukan senyawa dalam mariyuana bisa mencegah serangan epilepsi. Studi yang dipublikasikan di jurnal ilmiah, Journal of Pharmacology and Experimental Therapeutics, itu menyebut senyawa cannabinoids bekerja dengan mengikat sel otak yang bertanggungjawab mengatur rangsangan dan rasa tenang pada manusia.

Sejak lebih dari sepuluh tahun silam National Eye Institute atau NEI di Amerika Serikat telah menyarankan penggunaan ganja untuk mengurangi gejala glaukoma. Penyakit ini memicu pembesaran bola mata yang kemudian menekan saraf mata dan menyebabkan gangguan penglihatan. Mengonsumsi ganja dengan menghisapnya, menurut NEI, dapat meringankan tekanan pada saraf mata.

Sebuah studi yang dipublikasikan di The Journal of Alzheimer’s Disease mengungkapkan, dosis kecil tetrahydrocannabinol, senyawa di dalam tumbuhan mariyuana, dapat memperlambat pembentukan plak amiloid yang membunuh sel otak dan bertanggungjawab atas penyakit alzheimer. Selama eksperimen peneliti menggunakan minyak cannabis.

Pada 2015, Pemerintah Amerika Serikat akhirnya mengakui khasiat mariyuana memerangi penyakit kanker. Sebelumnya sebuah studi yang dipublikasikan di situs pemerintah cancer.org mengungkap senyawa cannabinoids mampu membunuh sel kanker dan memblokir sejumlah pembuluh darah yang dibutuhkan tumor untuk tumbuh. Cannabinoids antara lain efektif mengobati penyakit kanker usus, kanker payudara dan kanker hati.

Namun, di Amerika, walapun lebih dari dua lusin negara bagian di Amerika melegalkan beberapa bentuk ganja untuk penggunaan medis atau rileksasi, obat tersebut tetap ilegal di tingkat federal.

Berbagai studi juga mengungkapkan ganja sangat efektif meredakan dampak samping kemoterapi, yakni rasa mual, muntah dan hilang nafsu makan. Badan Pengawas Obat Amerika Serikat, FDA, sejak beberapa tahun telah mengizinkan terapi obat-obatan berbasis cannabinoid untuk pasien kanker yang menjalani kemoterapi.

Ganja juga dapat meredakan penyakit autoimun yang terjadi ketika sistem kekebalan tubuh manusia membunuh sel-sel sehat ketimbang memerangi penyakit. Hasilnya organ tubuh sering diserang radang. Pada 2014 peneliti dari University of South Carolina menemukan senyawa THC di dalam ganja mampu mengubah molekul dalam DNA yang bertanggungjawab mempercepat proses peradangan. Sejak saat itu cannabis digunakan untuk merawat pasien autoimun.

Sementara itu, peneliti dari University of Nottingham berhasil membuktikan ganja mampu melindungi otak dari kerusakan yang disebabkan serangan stroke. Studi tersebut menyebut ganja membatasi area di dalam otak yang terkena dampak stroke. Kendati belum diuji klinis, temuan tersebut memperkuat teori lain bahwa mariyuana juga mampu meminimalisir kerusakan akibat trauma atau geger otak.

Fungsi lainnya, ganja menghambat sklerosis ganda; gangguan pada sistem kekebalan tubuh yang merusak lapisan lemak pelindung saraf manusia. Akibatnya saraf mengeras dan menyebabkan kejang-kejang yang memicu rasa sakit luar biasa. Sebuah studi yang dipublikasikan di Canadian Medical Association Journal tahun lalu menyebut Cannabis dapat meringankan gejala kejang pada pasien sklerosis ganda.

Sebagian penderita diabetes mengalami kerusakan saraf di bagian kaki dan tangan. Gejalanya adalah rasa terbakar di bagian tubuh tersebut. Belum lama ini peneliti University of California menemukan cannabis efektif meringankan rasa sakit yang disebabkan oleh kerusakan saraf. Namun hingga kini Badan Pengawasan Obat AS, FDA, belum memberikan lampu hijau buat terapi ganja untuk pasien diabetes.

Serupa obat kanker, terapi obat buat meredam hepatitis C memicu efek samping seperti lelah, mual, otot pegal, kehilangan nafsu makan dan depresi. Namun studi yang diterbitkan di European Journal of Gastroenterology and Hepatology, mengungkap lebih dari 86 persen pasien mampu menuntaskan terapi hepatitis C dengan mengonsumsi ganja. Cannabis diyakini mampu meredam efek samping terapi hepatitis C.

Hingga kini, beberapa negara lain yang melegalkan ganja untuk pengobatan adalah Italia dan Jerman. Di Jerman, penggunaan ganja diizinkan berdasarkan resep dokter. Penggunaannya untuk ringankan simptoma beragam penyakit berat dan kronis. Syaratnya pasien harus ikut studi ilmiah untuk meneliti lebih lanjut efek medis dari mariyuana.

Sementara di Italia, dengan dilegalkannya ganja untuk pengobatan, militer Italia menjadi satu-satunya produsen ganja di negara Uni Eropa ini. Selain menjaga keamanan negara, militer Italia juga mengemban tugas sebagai petani ganja. Lewat proyek mariyuana untuk pengobatan yang mulai digelar pada 2007, pemerintah Italia menunjuk militernya pada September 2014 untuk mengelola ladang ganja di Florence.

Tidak diberitakan berapa volume ganja yang dipetik dalam panen perdana pada Juni 2016. Namun Italia berharap, dari ladang di Florence ini bisa diproduksi 80 sampai 100 kilogram ganja setiap tahunnya. Dan dengan produksi dalam negeri, diharapkan harga ganja dapat ditekan sampai di bawah 15 Euro per gram. Karena jika suplai ganja masih tergantung pada Belanda, harga jual ganja impor itu 35 Euro atau sekitar Rp500 ribu per gram.

Italia memang memperbolehkan penggunaan ganja untuk pengobatan dengan resep dokter. Hasil ladang ganja di dalam negeri Italia diharapkan dapat memenuhi kebutuhan mariyuana untuk pengobatan bagi sekitar 2.000 pasien. Meski manfaat ganja dalam dunia medis masih diperdebatkan, namun sebagian besar peneliti menganggap tumbuhan ini jika dikonsumsi dalam dosis tepat bisa dijadikan obat ampuh bagi beberapa jenis penyakit.

Komentar

Loading...