Kisah Abdullah, 16 Tahun Bertahan Hidup Jadi Penambal Ban di Gubuk Reyot

Kisah Abdullah, 16 Tahun Bertahan Hidup Jadi Penambal Ban di Gubuk Reyot
Lokasi tambal ban milik Abdullah. | Foto KBA.ONE: Komar

"Hanya orang-orang yang ikhlas yang dapat melihat kemuliaan dari pekerjaannya. Mereka yang tak melihat kemuliaan itu takkan pernah mencintai pekerjaannya," begitulah penggalan tulisan Andrea Hirata dalam buku 'Orang-orang Biasa' halaman 22.

Penggalan itu menggambarkan sosok Abdullah, 56 tahun, meski di usia menjelang lansia, Abdullah yang berprofesi sebagai penambal ban, masih memiliki semangat bekerja luar biasa. Baginya yang terpenting adalah rezeki halal tanpa mengganggu hak orang lain. 

Lapak jasa tambal ban milik Abdullah berada di Jalan Pocut Baren, Lorong Aneuk Galong, Gampong Mulia, Kecamatan Kuta Alam, Kota Banda Aceh. Lapak itu berada di lorong pemisah antara Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Jemaat Banda Aceh dan Kantor Cabang Pembantu (KCP) Bank Syariah Indonesia (BSI) Simpang Panglima Polem atau bekas KCP Bank Mandiri. 

Abdullah tinggal di gubuk reyot berukuran 2 x 1,5 meter, sempit dan pengap. Satu ruangan digunakan untuk makan, tidur, salat dan menyimpan barang. Dinding dan atap gubuk itu terbuat dari seng aluminium bekas, beberapa bagian menggunakan kayu untuk perekat seng. Lantai beralaskan kayu yang disusun rapi, tanpa jendela, yang ada, hanya satu pintu sebagai akses keluar masuk.

Sementara kamar mandi dibuat kecil di sebelah utara gubuk, hanya muat satu orang dewasa tanpa sumur. "Kalau mau mandi harus angkut air dulu di tempat orang, yang berada di sekitar sini," ungkap Abdullah.

Hunian tak layak ini menempel di pagar tembok KCP BSI Panglima Polem. Di sebelah selatan gubuk, di bawah pohon nangka yang rindang, ada ruang kosong, yang dimanfaatkan sebagai lapak jasa tambal ban. Memberikan keteduhan dan ketenangan bagi para pelanggan saat menunggu tambal ban.  

Gubuk peristirahatan Abdullah. | Foto KBA.ONE: Komar.

Rabu, 10 November 2021, saat membawa sepeda motor yang bocor. Di pinggir pagar GPIB Jemaat Banda Aceh atau di depan gubuknya, Abdullah tampak sedang sibuk membereskan tumpukan kayu, mencabut satu persatu paku yang tertancap pada kayu. 

Abdullah terlihat gagah dengan kemeja bercorak batik, warna merah muda. Raut wajahnya seketika berseri-seri, menunjukkan ekspresi bahagia, sepertinya saya pelanggan pertamanya di pagi menjelang siang itu. Dalam sekejap, ia
meninggalkan kesibukannya dan menghampiri kendaraan saya yang bocor.

Tak perlu menjelaskan panjang lebar, secara sigap, pria paruh baya itu mengambil semua peralatan yang memiliki fungsinya masing-masing. Ember berisikan air misalnya, itu berfungsi untuk memeriksa sumber ban bocor. Dilakukan dengan cara, ban terlebih dahulu diisikan angin, lalu dicelupkan ke dalam air. Maka, sumber bocor nantinya akan mengeluarkan buih-buih kecil.

Kemudian, tabung kompresor angin, berfungsi untuk mengambil udara atau gas dari sekitar yang kemudian akan diberi tekanan di dalam tabung, lalu disalurkan kepada pengendara yang mengalami kempes atau bocor ban. Selain itu, alat tambal ban bakar pres, berfungsi untuk mengepres ban yang akan ditambal, sehingga karet merekat erat pada ban.

Peralatan itu sudah disusun rapi di samping Abdullah. Dia sangat lihai, hanya butuh waktu tiga menit untuk mengetahui sumber ban bocor. Kayu-kayu yang dirapikan tadi di pinggir pagar GPIB Jemaat Banda Aceh, rupanya dikumpulkan untuk digunakan sebagai bahan bakar. Kayu itu dipotong kecil-kecil, lalu dimasukkan ke bagian bawah alat pres.

Cara tersebut tergolong masih tradisional, dibandingkan tempat lain yang mulai menggunakan cara-cara modern. Meski demikian, Abdullah tidak mengalami kesulitan saat menyalakan api. Hanya sekali percobaan, api langsung menyala. Ban bocor tadi pun di pres dengan tekanan kuat.

Abdullah usai menambal ban. | Foto: KBA.ONE: Komar.

Alu alang kendaraan di Jalan Pocut Baren, sesekali mampu mengalihkan pandangan saya yang sedang fokus melihat sekeliling lapak tambal ban milik Abdullah. Saya menunggu di kursi santai napolly, di bawah pohon nangka yang sudah mulai berbuah.

Abdullah memang bukan tipikal orang yang suka duduk, meski usianya sudah tidak muda lagi. Sembari menunggu ban yang sedang ditambal, ia kembali membereskan kayu yang tadi belum selesai. 

Tidak lama berselang, dua pria berboncengan berhenti di depan lapak tambal ban. Mereka berhenti untuk mengisi angin pada ban motor yang kempes. "Isi angin satu ban Rp1 ribu aja, kalau dua ban Rp2 ribu. Sedangkan untuk tambal ban Rp15 ribu," kata Abdullah.

Sepuluh menit dibuat menunggu, karet yang di tambal pada ban sudah melekat dengan baik. Kemudian dipasang kembali ke roda dan siap untuk dikendarai lagi.

Kepada KBA.ONE, Abdullah, mengatakan sudah 16 tahun berprofesi sebagai tukang tambal ban dan tinggal di gubuk reyot itu. Penghasilannya sehari-hari sebagai tukang tambal bal pun tidak menentu. Bahkan pernah dalam sehari, lapak yang dibukanya mulai pukul 09.00 WIB - 22.00 WIB itu, tidak ada orang sama sekali, baik yang menambal ban maupun sekedar mengisi angin.

"Sehari biasa ada 3 sampai 5 orang yang menambal ban. Penghasilan perhari kisaran Rp50-70 ribu. Tapi itu tidak menentu, kadang ada hari ini, tidak ada hari esok," cerita Abdullah.

Abdullah hijrah ke Banda Aceh usai Tsunami Aceh tahun 2004. Ekonomi yang sulit membuatnya terpaksa meninggalkan istri dan delapan orang anak di kampung. Saat ini, kata Abdullah, ke delapan anaknya bersama istri masih tinggal di kampungnya, di Sigli.

"Keluarga masih ada, delapan orang anak. Saya biasa sebulan sekali pulang kampung," ungkap Abdullah dengan tatapan kosong, seakan sedang merindukan keluarganya.

Abdullah tak berharap muluk-muluk, cukup mensyukuri apa yang telah diberikan Allah. Meski memiliki penghasilan tak menentu, setidaknya masih diberikan rezeki yang halal oleh-Nya. "Makan tetap sehari tiga kali, kadang kalau lagi gak ada pelanggan harus irit-irit, untuk jaga-jaga," tutup Abdullah. ***

Anara

Komentar

Loading...