Kisah di Balik Profesi Juru Parkir, Penghasilan tak Menentu

Kisah di Balik Profesi Juru Parkir, Penghasilan tak Menentu
Abdul Manaf. | Foto: KBA.ONE, Tasya

KBA.ONE, Banda Aceh – Menjadi juru parkir, inilah profesi yang ditekuni Abdul Manaf sejak 2007 silam. Walaupun penghasilannya tidak menentu, bahkan sesekali tak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya.

Pria paruh baya ini mengaku upah yang diterimanya dalam sehari tidak menentu, terkadang setelah disetor ke Dinas Perhubungan (Dishub) Aceh, ia membawa uang ke rumah berkisar antara Rp50-100 ribu. “Kadang-kadang pun Rp2 ribu perak itu rezekinya. Mau beli apa kita pulang ke rumah?” kata Abdul dengan mata berkaca-kaca.

Ia menyebutkan nominal yang disetor ke dinas terkait cukup besar. Dari pagi hingga petang, uang yang harus disetor seluruhnya sebanyak Rp330 ribu. Lanjutnya, dari jumlah Rp330 ribu tersebut yang disisihkan ke dishub Rp280 ribu,dan Rp50 ribunya untuk pengurus di area tersebut. Apabila uangnya tidak mencukupi, maka para juru parkir harus bersedia untuk menombok.

Sejak lebaran hingga sekarang, Abdul mengatakan sudah harus menombok sebanyak Rp260 ribu. Namun ia baru bisa menyicil Rp100 ribu, sementara sisanya masih utang. Menurutnya, upah yang minim tersebut tentu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, apalagi jumlah tanggungannya di rumah ada 10 orang.

Abdul mengungkapkan upah yang diterimanya manjadi juru parkir saat ini sedang menurun, apalagi selama adanya pandemi Covid-19. Padahal, kata dia, sebelum pandemi dalam sehari bisa membawa pulang uang Rp150-200 ribu setelah menyetor ke dishub.

Lain hal dengan pengakuan salah seorang juru parkir lainnya di Banda Aceh, Suprapto, yang baru bekerja selama satu bulan. Diketahui ia merupakan salah satu pasien yang tinggal di Rumah Singgah BFLF Pusat, sedang berobat di Rumah Sakit Umum Daerah Zainoel Abidin (RSUDZA) dan baru selesai operasi penyempitan saraf tulang belakang pada tiga minggu yang lalu.

Surapto. | Foto: KBA.ONE, Tasya

Suprapto menyebutkan dalam sehari ia menerima upah Rp40 ribu. Selebihnya harus menyetor ke Dishub Rp40 ribu dan pemilik parkir Rp20 ribu. Sejauh ini, ia sudah nombok Rp30 ribu karena faktor cuaca sehingga pembeli berkurang. “Sebenarnya enggak cukup, karena kan kita ganti perban sehari Rp30 ribu. Cuma dicukup-cukupi kak,” ungkapnya penuh syukur kepada KBA.ONE, Senin 20 September 2021.

Biasanya, terkadang dalam sehari dia mendapat gaji Rp80 ribuan mulai pukul 11.30-17.00 WIB. Hal ini lantaran di area tersebut terdapat tiga orang juru parkir. “Sebenarnya yang cadangan saya,” tambahnya.  

Sebelum menjalani profesi tersebut, Suprapto bekerja sebagai perawat di Rumah Sakit Umum Pusat H Adam Malik, Medan, Sumatera Utara. Tetapi, karena jatuh sakit ia memutuskan resign dari pekerjaan tersebut, dan sempat berjualan di desanya, Bireuen.

Ia mengataka meski beberapa orang dermawan memberi bantuan untuknya dari segi apapun. Namun ia tidak ingin terus merepotkan apalagi mengharap belas kasihan dari orang lain. Karena itu, walau dalam kondisi belum begitu pulih, tetap berusaha untuk bekerja keras. │TASYA, Kontributor Banda Aceh

Anara

Komentar

Loading...