Kisah Haru Juru Kunci Kuburan Datuk di Lawe Sikap

Kisah Haru Juru Kunci Kuburan Datuk di Lawe Sikap
Gubuk reot milik Bobob. | Foto: KBA.ONE, Bulkaini

Tanpa bantuan rutin dari pemerintah daerah, Sang Panjaga Makam Maulana Malik Ibrahim bertahan hingga 25 tahun. Apa yang dia cari?

KBA.ONE, Aceh Tenggara- Gubuk itu sungguh memilukan. Tak layak dijadikan tempat istirahat sepasang suami istri. Selain kumuh, luasnya juga cuma 2 x 2 meter, sumpek. Bangunannya didirikan asal jadi. Lebih layak kandang sapi.

Penyangga tiang gubuk terbuat dari batang pohon, dinding seng bekas, lantainya tepas bambu, atapnya dari plastik dan terpal loak. Hanya ditimpa potongan-potongan kayu. Agar tidak bocor disiram hujan dan tidak terbang disapu angin.

Tapi, di gubuk buruk itu, Sahbudin alias Bobob, 52 tahun, tampak biasa, kerap bercengkerama bersama istrinya. Mereka menggunakan bahasa isyarat tangan dan mimik wajah. Karena Bobob tuna rungu; berkebutuhan khusus.

Warga Batu Mbulan Asli Kecamatan Babussalam, Aceh Tenggara, ini adalah penjaga makam seorang pejuang masyhur di masa koloni Belanda. Namanya Maulana Malik Ibrahim. Pembawa kabar gembira tentang Islam. 

Piigura Makam Maulana Malik Ibrahim. | Foto: KBA.ONE, Bulkaini,

Atau, orang-orang di Kutacane, Aceh Tenggara, lebih akrab menyapa makam itu sebagai "Kuburan Datuk". Lokasinya di seberang Kali Alas, di kawasan objek wisata Lawe Sikap, Bukit Mbarung, Kecamatan Babusalam, Aceh Tenggara.

Seperempat abad (25 tahun) sudah Bobob menjadi juru kunci di makam itu. Tapi garis hidupnya datar, tak berubah. Bahkan sekali waktu  menukik, seperti layang-layang jatuh.

Dia memegang tampuk juru kunci hanya karena warisan orang tuanya; menjaga kebersihan dan melayani para peziarah saat berkunjung ke lokasi makam itu .

Selain kondisi gubuknya reot, Bobob tergolong warga miskin yang juga tidak mampu berkomunikasi dengan baik layaknya lelaki normal.

Bapak empat anak ini tidak memiliki pekerjaan tetap, apalagi penghasilan tetap. Hidupnya hanya bergantung belas kasihan dan sumbangan ikhlas dari warga yang berkunjung dan berziarah di makam itu.

Sepertinya cuma hari Jumat yang menjadi hari berkah bagi Bobob dan istri. Karena di hari Jumat para peziarah lumayan ramai dibandingkan hari-hari biasa. Di saat inilah Bobob ketiban rezeki lumayan dari sumbangan para peziarah.

Japar, 35 tahun, tetangga Bobob, bercerita secuil tentang keahlian lelaki bertubuh gempal ini. Selain menjaga makam, Bobob juga punya kepintaran mengusuk badan (urut). "Jasa Bobob sering dimanfaatkan warga untuk meringankan badan yang pegal-pegal," kata Japar yang rumahnya cuma sepelemparan batu dari rumah Bobob.

Dari jerih payah urut dan menjaga makam itulah Bobob menghidupi istri dan empat anaknya yang sudah beranjak dewasa; satu perempuan dan tiga laki-laki. Bobob harus banting tulang bekerja serabutan untuk bangkit dari keterpurukan ekonomi. Apalagi di tengah pandemi.

Keempat anak Bobob tinggal terpisah di rumah bantuan dari pemerintah yang didapat pada 2006 di Desa Batu Mbulan Asli, sekitar lima kilo meter dari gubuk reot yang ia tinggali.

"Bobob pulang ke kampung di Desa Batu Mbulan Asli untuk mengantarkan belanja dan kebutuhan anaknya tiga kali dalam seminggu. Kadang-kadang Bobob dan istrinya tidur menginap bersama anak-anaknya, sementara aktifitas pada siang hari ia lebih memilih berada di sekitar makam dan berteduh di gubuk mungil itu," terang Japar

Menggunakan bahasa isyarat, KBA.ONE mencoba berkomunikasi dengan Bobob pada Jumat 13 Nopember 2020 ketika berkunjung sambil berziarah ke makam itu.

Dari isyarat yang ditangkap, Bobob dan istri berharap perhatian pemerintah setempat melalui Bupati Agara agar dapat membantu secara ekonomi untuk kebutuhan hidup sehari-hari mereka.

Dedikasi Bobob sudah dia buktikan. Meski tanpa honor rutin dan ekonomi serba terbatas, Bobob dan istri tetap setia meneruskan amanah almarhum orang tuanya untuk menjaga Makam Datuk Maulana Malik Ibrahim yang ia sendiri tidak mengenalnya.

Makam Maulana Malik Ibrahim. | Foto: KBA.ONE, Bulkaini.

Pembawa ajaran Islam

Ya. Makam Datuk Maulana Malik Ibrahim adalah salah satu situs wisata religi di Kabupaten Aceh Tenggara. Letaknya di tepi sungai Lawe Alas pada ketinggian sekitar 45 meter dari permukaan sungai Lawe Alas, tepatnya di atas bukit Mbarung.

Dari pusat ibukota Aceh Tenggara, Kutacane, makam ini hanya berjarak sekitar 5 kilometer ke arah objek Wisata Lawe Sikap atau lima menit jika ditempuh dengan kendaraan bermotor.

Meski pemerintah Agara melakukan pemugaran melalui anggaran APBK 2019, tidak ditemukan informasi lengkap di makam itu terkait asal-muasal dan kapan wafatnya Datuk Maulana Malik Ibrahim. Bahkan, di dunia literasi, jejaknya pun tersamar, hampir tak tampak.

Warga di sekitar makam juga banyak yang tak tau histori Malik Ibrahim, seperti halnya aparatur di pemerintahan setempat.

Tapi, Wikipedia menulis, kedatangan Malik Ibrahim diperkirakan setelah abad ke 12, ketika Raja Lambing hijrah dari Tanah Karo ke Tanah Alas dan bermukim di Desa Batu Mbulan. Dia menyusul Raja Dewa yang istrinya merupakan putri dari Raja Lambing.

Kemudian Raja Lambing menyerahkan tampuk kepemimpinan raja kepada Raja Dewa (menantunya), yang kemudian dikenal dengan nama Malik Ibrahim, yaitu pembawa ajaran Islam termasyhur ke Tanah Alas. Bukti situs sejarah ini terpatri di Muara Lawe Sikap, Desa Batu Mbulan, yang kelak sohor dengan nama Makam Maulana Malik Ibrahim.

Malik Ibrahim mempunyai satu orang putera bernama ALAS. Dan hingga tahun 2000, putra Alas telah mempunyai keturunan ke 27 yang bermukim di wilayah Kabupaten Aceh Tenggara, Banda Aceh, Medan, Malaysia dan tempat lainnya.

Pertanyaannya, 25 tahun Bobob dan istri menjadi juru kunci di makam itu, apakah keturunan 27 Malik Ibrahim yang tersebar di beberapa daerah dan negara itu pernah peduli kepada Bobob?

Seperti kisah-kisah juru kunci makam di antero negeri ini, yang tersisa dari hidup Bobob hanya kisah-kisah pilu yang memalukan. Di mana negara? Mungkin itu sejuta tanya dari Bobob, jika ia bisa bicara seperti kita, dan Anda Bupati Aceh Tenggara!

Komentar

Loading...