Kisah Labi-labi Menunggu Mati

Kisah Labi-labi Menunggu Mati
Labi-labi di Banda Aceh | KBA.ONE/Syukran Jazila

Setelah proses rekonstruksi dan rehabilitasi Aceh selesai, penumpang labi-labi sedikit demi sedikit berkurang.

KBA.ONE, Banda Aceh - Di tengah rintik hujan Jumat pagi, 13 Oktober 2017, Efendi dengan lahap menikmati sepiring mie Aceh di bak belakang labi-labinya. Labi-labi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti kura-kura kecil yang hidup dalam air tawar. Tapi labi-labi yang ini jenis angkutan dalam kota yang dimodifikasi dari mobil bak terbuka.

Sepiring mie itu tandas dalam beberapa menit saja. Namun, belum ada penumpang yang naik. Di dekat labi-labi Efendi, ada beberapa angkutan serupa yang juga ikut mangkal. Mereka berjejer menunggu penumpang di Jalan Perdagangan, Banda Aceh, di sebelah kiri Masjid Raya Baiturrahman.

Sepinya penumpang dirasakan Efendi dan para supir labi-labi lainnya sejak beberapa tahun belakangan. Kondisi ini berbeda pada 2005 ketika Efendi memulai pekerjaannya itu. Saat itu, Kota Banda Aceh masih remuk redam setelah tsunami. Banyak orang dari luar Aceh terutama pekerja kemanusiaan lalu lalang di kota. Penumpang labi-labi pun melimpah, terutama ke Darussalam yang menjadi rute Efendi. "Alhamdulillah saat itu sehari dapat rezeki Rp100 ribu sampai Rp200 ribu," ujar Efendi.

Setelah proses rekonstruksi dan rehabilitasi Aceh selesai, penumpang labi-labi sedikit demi sedikit berkurang. Lalu sekarang, "sehari Rp100 ribu nggak dapat," ujar Efendi. Ia pun ditinggalkan kernet yang telah beberapa tahun menemaninya. "Karena pendapatan berkurang, makanya dia nggak sanggup kerja lagi."

Sekarang Efendi bekerja sendiri tanpa kernet. Jumlah penumpang pun kian berkurang. Seharian, kadang ia hanya mengangkut tiga atau empat penumpang saja.

Efendi menilai sepinya penumpang labi-labi karena masyarakat sekarang mulai suka menggunakan angkutan online. "Apalagi masuk (bus) Trans Kutaraja, banyak mahasiswa dan umum lebih memilih naik angkutan itu, karena tidak bayar," keluhnya.

Trans Kutaraja sejenis angkutan massal yang diluncurkan pemerintah pertengahan tahun ini. Sejak dioperasikan pada 29 Mei lalu, angkutan ini digratiskan bagi seluruh penumpang. Seperti dilansir dari situs Dinas Perhubungan Aceh, hingga Mei trayek yang telah beroperasi adalah Darussalam-Pusat Kota. Di jalur ini, ada 11 bus Trans Kutaraja yang mengangkut penumpang. Jalur tersebut sama seperti rute labi-labi yang dikemudikan Efendi.

Sepinya penumpang memaksa Efendi mencari strategi lain. Ia tidak pernah masuk terminal khusus labi-labi di kawasan Keudah. Dia memilih untuk menunggu di tempat-tempat lain, yang tak terjangkau dengan Trans Kutaraja. "Di Keudah saja tidak mangkal lagi, kadang mutar-mutar. Di sini dekat masjid raya kalau mangkal," ujarnya. Adapun terminal labi-labi tersebut jika malam sekarang digunakan sebagai lapak para pedagang sepatu.

Labi-labi yang dikemudikan Efendi bukan miliknya melainkan kepunyaan seorang toke. Karena itu, saban hari ia mesti menyetor setidaknya Rp80 ribu untuk si toke. "Itu pun kalau ada segitu. Dulu toke punya mobil 20 unit, semua ngangkut. Sekarang 10 mobil terpaksa mangkal di rumah, bahkan ada yang dibuat jadi mobil (untuk) kios jualan," ungkapnya.

Tarif labi-labi Efendi Rp4 ribu untuk mahasiswa dan Rp5 ribu bagi penumpang umum. Tarif ini naik seribu dibandingkan beberapa tahun lalu. "Kalau Trans (Kutaraja) bahkan nggak bayar," ujar Efendi.

Selain Trans Kutaraja, Efendi juga melihat angkutan online turut bertanggungjawab dalam menggerus penumpang labi-labi. "Sempat ribut kemarin di Lampineung, karena kami ambil penumpang di sana tiba-tiba ada angkutan online (taksi). Permainan harga mereka lebih murah ketimbang kami. Kalau (tarif) kami Rp3 ribu Lampineung ke Rumah Sakit Jiwa (Aceh), mereka bisa pasang harga Rp2 ribu," ujarnya.

Kurangnya penumpang juga dirasakan Syarifuddin, supir labi-labi lainnya. Dulu pendapatannya Rp200 ribu sehari. "Sekarang Rp100 ribu saja sekarat kita cari," keluhnya.

Syarifuddin merasakan berkurangnya penumpang sejak dua tahun belakangan. Hal itu diperparah dengan kehadiran angkutan online dan Trans Kutaraja. "Sebelum ada mereka sanggup kita bawa pulang belanja ke rumah, sekarang harus ke sana sini cari penumpang yang banyak."

Di tengah kondisi itu, Syarifuddin juga harus terus memikirkan kondisi labi-labinya. "Ini mobil (Suzuki) Carry tipe lama, kalau rusak ya sudah nggak ngangkut lagi."

Syarifuddin berharap Pemerintah Aceh jangan hanya memikirkan program yang baru apalagi terkait usaha angkutan umum online. "Seharusnya mereka pikir juga kayak kami ini, labi-labi. Ini trans, taksi online, gojek-gojek itu di mana-mana ada mereka," ujar Syarifudin dengan nada tinggi; menyiratkan dia tak rela jika angkutan yang pernah mengisi hari-hari masyarakat Banda Aceh ini "mati".

Komentar

Loading...