Koalisi Gempa Mengancam Aceh

Koalisi Gempa Mengancam Aceh

Mitigasi harus melibatkan kebijakan pemerintah. Termasuk dengan merancang bangunan dan fasilitas fisik yang tahan gempa.

KBA.ONE, Pidie - Gempa 5,1 SR yang turut berdampak di Kecamatan Geumpang, Pidie 8 Februari 2018, mengungkap fakta bahwa Geumpang, Manee dan Tangse berada di patahan Sumatera. Patahan ini memanjang dari Aceh hingga Lampung.

Patahan yang terdiri dari patahan lain yang kerap disebut segmen tersebut mengakibatkan gempa terbagi dalam kategori gempa laut dan darat.

"Segmen lain adalah Tripa, Seulimum dan Batee," kata Kepala Tim Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Wilayah Barat Supartoyo, kepada KBA, Selasa 13 Februari 2018.

Beberapa peristiwa gempa darat, kata Supartoyo, seperti gempa yang terjadi di Desa Ketol, Kecamatan Lampahan, Aceh Tengah pada 2013, disebabkan sesar Ketol. Kemudian disusul gempa di Pidie Jaya, Desember 2016, yang disebabkan oleh sesar Meureudue.

Supartoyo mengatakan saat ini terungkap banyak sumber patahan baru. Ini menyebabkan intensitas gempa bumi semakin bertambah. "Jadi patahan Sumatera yang menyebabkan adanya patahan besar di Aceh, terbagi menjadi empat segmen, Ketol dan Meureudue, selain segmen Tripa, Seulimum dan Batee," kata Supartoyo.

Menurut Supartoyo, bila keempat segmen berkolisi akan menimbulkan efek yang cukup menghancurkan. Beruntung, kata dia, selama ini tidak ada segmen Aceh yang bergerak secara bersamaan. Pergerakan segmen secara bersamaan diprediksi akan memicu magnitudo maksimum sekitar 7 skala richter di darat.

Gempa berkekuatan seperti ini pernah terjadi sekitar 300 tahun lalu. Setelah itu, patahan ini “tidur”. Namun saat sesar atau patahan itu bergerak seperti di Pidie Jaya telah menumpuk energinya. Menurut dia, sekali dilepaskan, kekuatannya akan menimbulkan kerusakan dan korban jiwa yang besar.

Patahan Sumatera, kata Supartoyo, disebabkan tumbukan antara lempeng Samudera dengan lempeng benua dan terjadi sekitar 60 juta tahun yang lalu. Kawasan Geumpang, Manee dan Tangse, jelas Supartoyo, merupakan daerah yang dilalui patahan segmen Aceh. Ini memicu gempa berulang secara reguler atau iregular.

"Periode berulangnya bisa puluhan tahun atau ratusan tahun kemudian. Nah, salah satunya upaya yang dilakukan adalah dengan mitigasi,” ujar Suparyoto.

Menurut Suparyoto, ada dua pola mitigasi; yakni mitigasi struktural dan nonstruktural. Mitigasi pertama melibatkan kebijakan pemerintah. Mereka harus merancang bangunan dan fasilitas fisik yang tahan gempa. Pembangunan juga harus memperhatikan jalur evakuasi, termasuk membangun pusat-pusat pemantauan gempa.

Sedangkan di sektor mitigasi nonstruktural dilakukan dengan meningkatkan kapasitas masyarakat dan aparatur pemerintah agar tanggap bencana. Hal ini dapat dilakukan dengan meningkatkan durasi sosialisasi dan simulasi. 

"Pada dasarnya masyarakat yang hidup berdampingan dengan bencana harus dilatih sehingga saat gempa tidak timbul kepanikan dan telah mengetahui jalur evakuasi sekaligus tempat yang aman," ungkap Supartoyo.

Tim observasi Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Wilayah Barat menemukan titik kerusakan yang terkonsentrasi di wilayah Geumpang dan Mane usai gempa 8 Februari lalu. Dalam observasi yang dilakukan selama tiga hari di wilayah Geumpang tim juga menemukan fakta bahwa Mane menjadi titik awal kerusakan.

“Kami akan membuat peta intensitas sebaran tingkat kerusakan di Kecamatan Geumpang dan Manee dan akan dibuat parameter dan situasi gempa bumi, termasuk kondisi daerah yang berdampak, termasuk kondisi geologi," ungkap Supartoyo.

Kontributor Marzuki

Komentar

Loading...