Koperasi Ilegal Marak di Aceh Tengah, Haji Uma Meradang

Koperasi Ilegal Marak di Aceh Tengah, Haji Uma Meradang
Anggota DPD-RI, Sudirman alias Haji Uma. | Foto: Trinunnews.com

KBA.ONE, Takengon – Salah satu Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD-RI) Sudirman, geram melihat rentenir berkedok koperasi di Kabupaten Aceh Tengah. Ia sempat terjun langsung ke kabupaten berhawa sejuk itu, dan menemukan sejumlah koperasi diduga ilegal.

Pria yang kerap disapa Haji Uma itu bertandang ke kabupaten penghasil kopi arabika terbaik dunia itu pada, Senin 17 Oktober 2021, ditemukan empat unit koperasi diduga ilegal menjadi target ia meluapkan kekesalanya.

Menurut Haji Uma, rentenir berkedok koperasi tidak punya tempat di Aceh yang kental dengan nuansa syariat Islam, semua jenis koperasi di Aceh harus sesuai dengan undang-undang nomor 11 tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh.

“Rentenir berkedok koperasi ini hanya menerapkan bunga tetap, hal ini tidak sesuai dengan qanun nomor 11 tahun 2018 tentang Lembaga Keuangan Syariah (LKS) di Aceh,” terang Komite IV DPD RI asal Aceh itu tanpa menyebutkan nama koprasi yang ia sebut ilegal itu.

Dengan lantang ia katakan harus ditertibkan. Dari segi regulasi kata dia, tidak masuk dalam undang-undang dalam perkoperasian, apalagi dikaitkan dengan undang-undang nomor 11 tahun 2020 tentang cipta kerja.

Dalam struktur koperasi terdapat badan pengawas, tertera nomor izin koperasi, memiliki pajak retribusi untuk daerah dimana koperasi itu didirikan. “Temuan kita sejumlah koperasi ini tidak memiliki badan pengawas, tidak tertera nomor izin koperasi, lalu pajak retribusi untuk daerah berapa, ini juga tida terakumulasi,” kata Sudirman.

“Yang paling penting dan krusial adalah, suasana transaksi keuangan di Aceh, minsal dalam simpan pinjam kita tidak bisa menganut sistem konvensional lagi di Aceh, harus menganut pada keuangan syariah, apakah ini diterapkan, tentu tidak karena yang utama mereka terapkan adalah bunga tetap," tambahnya.

Pengutipan bunga tetap, menurutnya sangat melanggar Qanun Syariat Islam yang notabenenya seluruh bank konvensional tidak dibenarkan berdiri lagi di Aceh, apalagi rentenir berkedok koperasi sudah jelas melanggar undang-undang dan Qanun Aceh.

“Ini harus diberantas dan harus dihapuskan. Penegak hukum kita dorong untuk menertibkan mereka dan mengusir mereka dari Aceh, pulangkan mereka ke daerah asalnya, kita prediksi mereka dominan berasal dari luar daerah. Jika imbauan ini tidak ada reaksi, saya rasa diberlakukan saja hukum cambuk, cambuk mereka seperti hukum bagi pelaku maisir dan Khamar,” tegas Haji Uma berharap penegak hukum mendengar.

Kehadiran koperasi yang tidak  mengindahkan undang-undang dan Qanun Aceh katanya sudah jelas merugikan daerah. Selain itu, menodai kekhususan Aceh dan menodai kehormatan hasil Memorandum of Understanding (MoU).

“Dengan hadirnya koperasi ilegal ini, sudah jelas mengobok obok kedaulatan Aceh dan perdaban Aceh yang kental denagn nuansa syariat Islam,” timpalnya.

Empat koperasi yang diminta disegel di Aceh Tengah itu kata dia, merupakan sample serta menjadi contoh bagi koperasi lainnya yang ada diwilayah Aceh. Untuk itu ia menghimbau yang berbau rentenir tidak usah dibayar lagi, jika tentang utang piutang dibayar sesuai dengan yang dipinjam masih bisa ditolerir. Jika sudah berbau bunga sudah condong ke hukum haram dan tidak dibenarkan oleh Qanun Aceh, terlebih lagi berstatus koperasi ilegal.

“Pejak retribusi daerah tidak didapatkan, sementara mereka hanya mengeruk hasil, potensi yang ada digerogoti dari masyarakat, tapi feed back untuk daerah tidak ada, mereka ambil hasil dan bawa ke daerahnya, mereka membangun di san. Ini bentuk penjajahan ekonomi, perampokan namanya, ini harus ditertibkan detik ini juga,” ujarnya.

Ia meminta pemerintah daerah harus menertibkan dengan pihak kepolisian, kepala desa dengan semerta merta bisa menegakkan aturan ini. "Harus mengantongi izin yang jelas, yang sudah kami jadikan sample ini ilegal, caranya juga ilegal, sistem berusahanya juga ilegal, usir saja dari Aceh,” tutup Haji Uma.

Anara

Komentar

Loading...