Kopi Mobil, Cara Lain Menyeruput Si Hitam

Kopi Mobil, Cara Lain Menyeruput Si Hitam
Ilustrasi | pojokbisnis.com

Konsep berjualan kopi di mobil kini mulai menjamur dan digemari kalangan kawula muda di Aceh. Dataran Tinggi Gayo dan Banda Aceh adalah salah satunya.

BANYAK cara dilakukan orang untuk bisa menikmati secangkir kopi. Ada duduk di lobi hotel berbintang dengan harga ratusan ribu hingga jutaan rupiah sembari bicara bisnis dan melobi proyek raksasa, ada juga yang sekadar duduk khusus di kafe sambil "cuci mata". Itu tak masalah meski harus merogoh kocek ratusan ribu demi secangkir kopi. Yang penting hati puas dan pikiran menjadi tenang.

Bagi yang isi kantongnya pas-pasan, warung kopi (warkop) adalah tempat paling layak untuk menyeruput kopi. Cukup dengan uang Rp10.000,- "penggila" kopi di Aceh, misalnya, sudah bisa mencicipi secangkir kopi,  dua potong kue, plus membaca surat kabar gratis yang tersedia di warkop tersebut.

Begitulah ragam cara yang dilakukan orang untuk menikmati secangkir kopi, dari Rp5000/cangkir hingga, barangkali, jutaan per cangkir. Apapun dan berapapun harganya, seakan tak jadi persoalan, sejauh kenikmatan dan kepuasan itu tercapai.

Namun, seiring  tren menyeruput kopi saat ini, kreativitas penjual kopipun terus berkembang. Ada yang berjualan kopi di  ladang kopi itu sendiri, seperti di Seladang, Kabupaten Bener Meriah. Ada juga yang menyulap rumah-rumah tempat tinggal menjadi warung kopi. Konsep ini tak lain hanya ingin memanjakan para penikmat si "hitam manis" itu; seolah mereka menyeruput kopi di rumah, tapi dilayani bak bos-bos atau eksekutif muda.

Konsep berjualan kopi di rumah ini banyak ditemukan di Banda Aceh dan sejumlah tempat di berbagai daerah di Aceh. Penikmatnya pun datang dari berbagai kalangan, ada orang kantoran, pengusaha, ibu rumah tangga dan para sosialita.

Tapi, menariknya, dari sekian banyak konsep berjualan kopi tersebut, kini ada satu konsep yang mulai menjamur dan digemari kalangan kawula muda di sejumlah daerah, yakni berjualan dengan menggunakan mobil khusus.

Kopi mobil ini bisa bergerak dari satu tempat ke tempat lain, tergantung situasi dan selera penjualnya. Salah satunya seperti yang dilakukan Kenawat Redelong (Kenred) yang kini memiliki beberapa unit mobil untuk berjualan kopi. 

Menikmati sajian Kopi Mobil di Blangkejeren, Gayo Lues, Aceh. | Foto: Buku Iranda

“Kopi itu minuman rakyat, jadi bisa dinikmati kapan dan di mana saja. Tidak mesti di warkop, kafe, atau hotel. Tapi, di pinggir jalan atau di lokasi wisata seperti danau juga bisa dinikmati,” cerita Genaceng, salah seorang pengusaha gerai kopi di Bener Meriah.

Hal itulah yang dinikmati penulis dengan sejumlah teman-teman saat bertandang ke Gayo Lues. Meski jam sudah menunjukan pukul 23.00 wib ditambah dinginnya udara malam kota “Seribu Bukit” itu, menikmati kopi mobil Kenred di salah satu sudut kota Blangkejeren, rasanya bisa membunuh rasa dingin yang menusuk hingga ke sumsum.

Konsep Mobil Kopi ini, menurut Genaceng, sudah dilakukannya dalam dua tahun terakhir. Bahkan, ia terus menjelajah ke sejumlah daerah untuk menawarkan sensasi kopi arabika miliknya yang bercita rasa tinggi dan berbeda.

“Kita punya kafe di Simpang Tiga Redelong, namun mobil kopi ini khusus mobile atau bergerak ke mana saja, sesuai keinginan,” ujar Genaceng yang malam itu merupakan malam keduanya di Blangkejeren. Kebetulan, saat itu bersamaan dengan acara pelantikan Bupati Gayo Lues H. Muhammad Amru.

Selain berjualan kopi di mobil, Genaceng juga menjual kopi dalam kemasan dengan merek Kenred. Kopi Kenred ini merupakan hasil racikan dan rosting sendiri dari kebun kopi pribadi yang ada di Kenawat Redelong, Bener Meriah.

“Saya memiliki cara tersendiri untuk meracik kopi, mulai dari pengutipan, penggilingan buah, penjemuran, sortir hingga rosting dan penyajiannya,” beber Genanceng yang mengaku omzet dari penjualan kopi mobil ini tak kalah dengan hasil jualan di kafe.

Bila Anda berjalan dari Takengon, Aceh Tengah ke Bener Meriah, maka mobil kopi Kenred ini bisa dijumpai di sepanjang jalan. Bukan cuma Kenred tentunya, namun sejumlah mobil kopi lainnya juga kerap dijumpai.

Ada rasa yang berbeda memang dengan menikmati kopi mobil ini, selain bisa ngopi di alam terbuka, kita juga bisa merasakan kopi itu memang minuman rakyat. Kapan dan di mana saja bisa dinikmati.

Sensasinya tetap berada di ujung lidah, setelah itu kopipun hanya tinggal cerita, tentang nikmat, aroma, cita rasa dan kelezatan serta gurih yang tersisa di bibir dan lidah. Selebihnya, seperti minuman dan makanan lain, hilang di antara tenggorokan hingga perut dan usus.

Karenanya, kita memang butuh cara lain untuk menyeruput gurihnya cita rasa si hitam itu, salah satunya nongkrong di kopi mobil. Anda mau coba? Datanglah ke Aceh!

Catatan: Iranda Novandi

Komentar

Loading...