Uniknya 'Kueh Seupet' Penganan Lebaran Khas Aceh

Oleh ,
Uniknya 'Kueh Seupet' Penganan Lebaran Khas Aceh
Kueh Seupat, kue lebaran khas Aceh | KBA/Mila Zarni

Kueh seupet merupakan kue khas Aceh yang disajikan untuk menjamu tamu saat lebaran. Warga Aceh Besar menyebutnya “spet kuet”.

KBA.ONE - Kueh seupet merupakan kue khas Aceh. Kue ini biasanya disajikan untuk menjamu tamu saat lebaran. Warga Aceh Besar menyebutnya dengan nama “spet kuet”. Beberapa daerah lainnya di Aceh menyebutnya “kueh seupet”. Artinya, kue yang dijepit. Kueh ini dibuat dengan cara dijepit dua cetakan lempeng besi.

Bentuk kue beragam. Setelah dibakar, saat masih panas, kue dibentuk menjadi segitiga, bulat atau digulung. Warnanya juga bervariasi. Bisa putih, kekuningan, atau sedikit kecoklatan, tergantung lamanya waktu membakar kue. Rasa kueh seupet ini renyah dan lemak.

Di Banda Aceh, ada beberapa pembuat kue tradisional ini. Salah satunya Salmiah. Ia membuat kueh seupet sejak 1993. Janda 55 tahun ini selalu menyajikan kue tersebut saat lebaran. Mulanya, ia membuat untuk keperluan sendiri. Setelah itu, Salmiah mulai mendapat orderan.

Salmiah awalnya hanya membantu orang tuanya membuat kueh seupet ketika lebaran. Menurutnya, “Ini kue wajib saat lebaran tiba.” Sejak itu, Salmiah mampu mengolah adonan kueh seupet tanpa bantuan ibunya. “Sebenarnya tidak susah membuat kue ini. Hanya perlu beberapa bahan pokok yang ada di rumah,” jelas Salmiah ketika ditemui di rumahnya, Jalan Puni Mata Ie, Banda Aceh, Rabu, 14 Juni 2017.

Salmiah menggunakan dapur berukuran 4x3 meter sebagai tempat memproduksi kue. Hari itu, ia telah menyiapkan beberapa alat dan bahan untuk membuat adonan kue. Bahan-bahan itu antara lain 1 kilogram tepung roti, tiga buah kelapa yang sudah diperas menjadi santan, tiga butir telur, 1 kilogram gula, tiga bungkus vanili, dan dua ons mentega. “Pertama aduk tepung, gula, dan mentega hingga rata. Setelah itu kita tambah santannya, sedangkan telur harus dipisah dulu. Setelah semua diaduk rata, baru dicampurkan dengan telur,” ujar Samiah.

Setelah adonan jadi, Salmiah keluar dari pintu belakang, menyiapkan tungku untuk membakar kue. Tungku yang dibuatnya sangat sederhana. Ia hanya meletakkan dua keping batu bata kiri dan kanan. Kayu bakar dan sabut kelapa sebagai bahan bakar tersusun rapi di antara bata. Di atas bata tersebut, diletakkan sepotong besi yang melintang sepanjang setengah meter. Sementara, di sisi tungku, Salmiah menaruh potongan batang pisang. Fungsinya, menahan cetakan lempeng besi untuk membakar kue. “Saya lebih suka membakarnya dengar cara orang zaman, biar kueh seupetnya ada aroma arangnya sedikit, supaya lebih khas lagi rasanya,” ungkap Salmiah.

Ia mulai membakar kue. “Tidak perlu waktu yang lama tunggu membakarnya, cuma karena cetakan yang saya pakai bentuknya kecil, jadinya lama,” ujarnya. Cetakan kueh seupet yang dipakai Salmiah sudah ada sejak dulu. Bisa dibillang barang langka. Cetakan itu warisan dari ibunya dulu. Cetakan ini mirip raket tenis meja tapi gagangnya lebih panjang dan bercabang dua.

Proses membakar kueh seupet | KBA/Mila Zarni

Kueh seupet buatan Salmiah memang tiada dua. Menjelang lebaran, biasanya Salmiah kebanjiran pesanan. Banyak orang memesan kueh seupet buatannya. Harga kue Salmiah tergolong murah. “Kalau misalnya bahannya sudah sama saya, harganya cuma sembilan puluh ribu rupiah dalam satu kilogram," ujarnya. Jika bahannya dari si pemesan, kata Salmiah, ia hanya mengambil ongkos pembuatan Rp50 ribu untuk satu kilogram.

Salmiah sebelumnya tinggal di Lhoong, Aceh Besar. Namun, ketika ia pindah ke Mata Ie, para pelanggan tetap setia memesan kueh seupet buatannya. Salah seorang pelanggannya, Nurlinda. Walaupun tinggal di Lhoong, perempuan yang kerap disapa Lin ini tetap memesan kueh seupet untuk lebaran kepada Salmiah. "Saya suka spet kuet yang dibuat Salmiah, karena beda. Cetakan yang dipakai Salmiah memang cetakan kueh seupet sebenarnya,” ujar Lin.

Ia sengaja memesan kue lebaran itu jauh-jauh hari. "Kalau nggak pesan terus, bisa tidak kebagian, duluan ramai yang pesan,” jelas Lin sembari tersenyum.

Penghasilan membuat kueh seupet menjadi tambahan pendapatan bagi Salmiah untuk menghidupi lima anaknya. Ia terpaksa berjuang sendiri dan menjadi tulang punggung keluarga karena suaminya telah menghadap Sang Khalik. Hari-hari biasa, Salmiah membuat kue basah dan menitipkannya ke warung-warung kopi di dekat rumahnya.

Komentar

Loading...