Laga Pedang Dua Ulee Balang

Laga Pedang Dua Ulee Balang
Ilustrasi | ist

Munculnya kedua bangsawan ini menyiratkan Golkar bukan sebagai proletar tapi makin meneguhkan diri sebagai partai borjuis.

PARTAI GOLKAR ACEH telah bersiap menggelar Musyawarah Daerah (Musda) - XI. Sebagai hajatan politik, tentu selalu ada dinamika menarik di arena. Apalagi untuk partai se-berkelas golkar: beringin tua yang telah ada sepanjang orde baru hingga orde baik berdiri memerintah negara ini.

Sebagai partai tua, dosa Golkar kelewat banyak di masa orde baru. Ikut berkomplot dengan pemerintah demi memuluskan kelakuan dan kebusukan atas nama politik.

Golkar juga pernah coba dibubarkan tapi tidak berhasil. Yang terjadi justru setelah reformasi banyak aktivis-aktivis masuk berteduh dan berlindung ke Golkar. Alasannya selalu klasik; untuk melakukan reformasi. Tapi, realitanya, "cita-cita" mulia itu selalu terkubur ambisi. Kebanyakan dari mereka lebih memuluskan hajat pribadi; kekuasaan dan kekayaan.

Tradisi purba itu terjadi dan mengakar di daerah-daerah. Golkar mulai disusupi aktivis-aktivis, baik aktivis baik,  maupun aktivis bengal. Baik yang santun maupun yang punya barisan preman di belakangnya.

Terlepas dari itu, tujuannya tentu baik--masih dalam kacamata politik yang nggak baik-baik  amat--untuk mengubah pola pikir partai agar tak melulu jumud.

Makanya ada Musda, sebagai kesempatan dan ruang untuk mengubah. Walaupun, sebagai outsider kita pasti melihat Golkar akan sulit diubah.

Di Musda Partai Golkar Aceh kali ini bakal muncul dua nama, Teuku Muhamnad Nurlif dan Teuku Husein Banta. Untuk Golkar Aceh, nama keduanya sangat familiar. Dalam beberapa hal, mereka adalah patron bagi kader Golkar yang lain.

Mereka berdua juga bangsawan Aceh. Sebuah sisi yang kerap membuat terpukau orang-orang  jelata. Gelar kebangsawanan di Aceh menjadi modal sosial  penting untuk menaikkan pamor, terutama dalam politik.

Namun, di sisi lain, munculnya kedua bangsawan ini menyiratkan Golkar bukan sebagai proletar tapi makin meneguhkan diri sebagai partai borjuis.

Ya, orang-orang miskin tak bermodal memang susah menjadi ketua partai. Cost politiknya teramat tinggi. Tapi, kita doakan dengan hati lapang, Musda Golkar Aceh berjalan baik dan memilih ketua dengan figur terbaik; mampu menjadikan mesin partai bekerja baik dan penuh inovasi.

Yang kita muak, jangan jadikan pohon besar beringin sebagai "rumah hantu", menyatroni rakyat, berebut proyek dan kue kekuasaan. Agregasikanlah  kepentingan rakyat dengan sungguh-sungguh. Agar "laga pedang" dua ulee balang berakhir manis untuk kepentingan rakyat, bukan malah membangun kerajaan uang, kekuasaan, dan perempuan. ***

Komentar

Loading...