Langkah Nova Memperbaiki Lima Isu Kesehatan

Oleh ,
Langkah Nova Memperbaiki Lima Isu Kesehatan
Nova Iriansyah dan istri di deklarasi gerakan pencegahan stunting di Lapangan Blang Padang, Banda Aceh | Humas Pemerintah Aceh

Nova Iriansyah mengatakan kesehatan menjadi program prioritas Pemerintah Aceh. Salah satunya, membebaskan Aceh dari stunting pada 2022.

KBA.ONE, Banda Aceh - Kesehatan merupakan isu sangat penting dan mendapat perhatian dari Pemerintah Aceh. Oleh sebab itu,  program kesehatan menjadi program utama dan berada di atas program pendidikan dan lingkungan hidup. "Karena apapun tidak dapat dilakukan tanpa adanya kesehatan," ujar Pelaksana Tugas Gubernur Aceh Nova Iriansyah saat membuka rapat kerja kesehatan daerah di Hermes Palace Hotel, Banda Aceh, Senin, 4 Maret 2019.

Nova menilai kualitas kesehatan di Aceh belum memuaskan. Setidaknya, ada lima isu tentang kesehatan yang kini ditangani Pemerintah Aceh: pencegahan stunting, penanganan penyakit tidak menular, tuberculosis, peningkatan cakupan dan mutu imunisasi, serta angka kematian ibu dan angka kematian neonatal. Untuk memperbaiki kelima isu ini, tambah Nova, langkah  yang dilakukakan tidak hanya melalui pengobatan tapi juga pencegahan.

Selain itu, kata Nova, Pemerintah Aceh kini telah memberikan sistem pelayanan kesehatan kepada masyarakat sesuai standar yang ditetapkan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pelayanan tersebut tidak hanya dihadirkan di provinsi saja tapi juga hingga pelosok desa.

Adapun program JKA Plus, kata Nova, merupakan tekadnya untuk memberikan akses pelayanan kesehatan kepada masyarakat yang berkualitas dan masif. Namun, terkait peningkatan kualitas kesehatan, Aceh masih kerap didera beragam tantangan seperti kekurangan tenaga dokter. Terutama di rumah sakit daerah dan belum ada tenaga medis yang memadai di Puskesmas. "Ditambah lagi, masih banyak kekurangan kesadaran masyarakat untuk menjaga kesehatan. Selain stunting, Aceh juga rentang terkena penyakit jantung dan stroke," ujarnya.

Nova menuturkan, Pemerintah Aceh sedang menyiapkan dan menyusun aksi penanganan dan pencegahan untuk mendapat hasil yang lebih baik dalam pembangunan kesehatan ke depan. Selain aksi pencegahan dan penanganan, ia mengingatkan kepada seluruh stakeholder dalam bidang kesehatan untuk memverifikasi data kesehatan. Sebab, data tersebut sangat menentukan rencana, aksi, dan tindakan agar bisa tepat sasaran.

Nova menilai bekerja di bidang kesehatan membutuhkan nalar, kerja keras, kesabaran, dan keikhlasan. Atas nama Pemerintah Aceh ia mengapresiasi semua langkah yang telah dilakukan komunitas kesehatan mulai dari pemerintah, TNI-Polri, lembaga nasional, hingga lembaga swasta. "Saya berharap nanti Ibu Menteri menyampaikan langkah yang harus kami lakukan untuk memperkuat pelayanan kesehatan sehingga visi misi Irwandi Nova dalam mewujudkan program kesehatan bisa tercapai."

Sementara itu, Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nila Moeloek mengatakan, angka kematian ibu di Indonesia masih tinggi dibandingkan Filipina, Vietnam, dan Singapura. Adapun di Aceh, kata Nila, tren status kekurangan gizi balita masih cukup tinggi. Menurutnya, semua pemangku kepentingan kesehatan harus banyak melakukan konsultasi agar anak Aceh tidak menderita stunting. "Selain itu, kita juga perlu memotivasi pencegahan terhadap penyakit diabetes."

Selain itu, tambah Nila, Kementerian Kesehatan tidak hanya ingin meningkatkan usia harapan hidup masyarakat Indonesia. Lebih lanjut, ia ingin usia kehidupan masyarakat Indonesia berkualitas.

Umur harapan hidup indonesia dari tahun 1990 sampai 2017 mengalami peningkatan yakni 71,5 persen. Namun untuk Aceh, tutur Nila, usia harapan hidup masih memperihatinkan karena di bawah presentase nasional, yakni 67,8 persen. "Insya Allah Pak Plt Gubernur sangat mementingkan isu kesehatan, sehingga outcome yang kita dapat adalah kesehatan yang berkualitas," ujarnya.

Nila mengajak seluruh stakeholder dalam pembangunan kesehatan untuk menggaungkan gerakan masyarakat sehat atau germas serta penguatan layanan kesehatan. Selain itu, untuk menguatkan mutu kesehatan di Aceh, Kementerian Kesehatan telah mengirim tenaga medis dan berusaha untuk mengembalikan dokter spesialis ke setiap kabupaten dan kota.

Nova Iriansyah membuka rapat kerja kesehatan daerah di Hotel Hermes | Dinkes Aceh

***

Sehari sebelum membuka rapat kerja kesehatan daerah tersebut, Nova Iriansyah memimpin deklarasi gerakan pencegahan stunting di Lapangan Blang Padang, Banda Aceh. "Deklarasi ini sangat penting karena Indonesia sedang mempersiapkan generasi terbaik dalam menyongsong bonus demografi di tahun 2025 hingga tahun 2036 mendatang. Angka stunting harus kita tekan agar anak-anak kita menjadi generasi unggul dan mampu bersaing dengan bangsa mana pun di masa mendatang," ujar Nova, Ahad, 3 Maret 2019.

Deklarasi Gerakan Pencegahan Stunting atau Geunting tersebut, kata Nova, bertujuan mengikat komitmen dan kerjasama pemerintah daerah, tokoh agama, tokoh masyarakat, akademisi, dunia usaha dan setiap organisasi beserta seluruh rakyat untuk membebaskan Aceh dari stunting tahun 2022. "Semua pihak dan sektor harus turut berperan dalam upaya pencegahan dan penanganan stunting di Aceh, karena sangat berimbas bagi pembangunan karakter sumber daya manusia dan mental generasi penerus bangsa. Karena itu, sangat penting untuk mengikat dan mengingatkan, bahwa gerakan ini adalah kewajiban semua pihak," tegas Nova.

Dia mengimbau semua pihak mendukung langkah Pemerintah Aceh yang bertekad mengurangi angka stunting, mengingat Aceh merupakan wilayah yang memiliki anak penderita stunting tertinggi di Indonesia. Data dari Unicef menyebutkan, prevalensi stunting di Aceh mencapai 37,9 persen. "Aceh berada di posisi ketiga tertinggi sebagai provinsi dengan jumlah anak penderita stunting tertinggi, yaitu di angka 37,9 persen. Meski kita masih terus mengumpulkan data untuk memastikan apakah benar angkanya sebesar itu, namun langkah-langkah untuk menekan angka stunting juga harus segera kita lakukan," ujarnya.

Nova mengimbau para bupati dan wali kota segera melakukan aksi-aksi nyata di lapangan agar dua tahun mendatang angka stunting di Aceh dapat turun. "Target minimalnya tentu di bawah rata-rata nasional."

Kini, Plt Gubernur Aceh telah menerbitkan Peraturan Gubernur Nomor 14 tahun 2019 tentang Pencegahan dan Penanganan Stunting Terintegrasi di Aceh. Peraturan ini hadir sebagai landasan menggalang komitmen para pihak untuk mengakomodir kebutuhan pelayanan bagi setiap anak di daerah ini. "Pelayanan yang dimaksud bersifat komprehensif, mulai dari masalah kesehatan, sosialisasi, peningkatan gizi, pemantauan, evaluasi dan sebagainya. Intinya, Pemerintah dan semua pihak harus meningkatkan perhatian bagi tumbuh kembang anak di Bumi Serambi Mekah ini."

Wakil Ketua TP PKK Aceh Dyah Erti Idawati dalam simposium stunting di Hotel Kyriad Banda Aceh | Humas Pemerintah Aceh

Wakil Ketua Tim Penggerak PKK Aceh Dyah Erti Idawati mengatakan penyebab utama stunting karena kurangnya perhatian bagi tumbuh kembang anak, terutama asupan gizi. Hal ini mengakibatkan tubuh si anak menjadi pendek dan daya tahannya tidak terlalu kuat. Faktor ini akan sangat mempengaruhi perkembangan fisik dan kemampuan sang anak saat usia dewasa.

Aceh, sambung Dyah, termasuk dalam daerah dengan prevalensi gizi buruk cukup tinggi di Indonesia. Ada banyak faktor penyebab terjadi kasus ini, antara lain, minimnya kesadaran keluarga dalam menjaga kesehatan, kurangnya memahami pentingnya ASI bagi bayi, rendahnya kepedulian pada makanan suplemen bagi anak, dan beberapa faktor lain.

"Melihat situasi ini, tidak ada pilihan lain, kampanye sadar gizi perlu kita tingkatkan agar masyarakat tahu betapa buruknya ancaman akibat kekurangan gizi. Kampanye sadar gizi harus kita perkuat lagi dengan Gerakan Pencegahan dan Penanganan Stunting Terintegrasi di Aceh."[ADV]

Komentar

Loading...