Lembah Panjshir, Markas Anti-Taliban yang Sulit Ditaklukkan

Lembah Panjshir, Markas Anti-Taliban yang Sulit Ditaklukkan
Pasukan anti-Taliban tengah berpatroli di Lembah Panjshir. (AFP/AHMAD SAHEL ARMAN)

KBA.ONE, Jakarta - Di tengah manuver Taliban yang terus memperkuat cengkeramannya di pucuk kekuasaan, kelompok itu mulai menghadapi perlawanan dari pasukan milisi lokal dan sisa pasukan Afghanistan yang masih bertahan.

Pada Minggu 22 Agustus 2021, pasukan perlawanan Taliban mengklaim telah merebut tiga distrik di dekat Lembah Panjshir, timur laut Afghanistan, yang terdiri dari distrik Deh Saleh, Baon, dan Pul-Hesar, di Provinsi Baghlan.

Berselang sehari, Taliban mengklaim telah mengepung Lembah Panjshir dan merebut kembali tiga distrik tersebut. Namun pasukan anti-Taliban yang dipimpin oleh Ahmad Massoud juga mengklaim berhasil memukul mundur kelompok tersebut dari basis mereka.

Jadi tempat seperti apakah Lembah Panjshir?

Lembah Panjshir terletak 150 kilometer dari utara Ibu Kota Kabul dan merupakan pusat perang gerilya Afghanistan yang tak pernah terjamah oleh pasukan asing, bahkan Amerika Serikat sekali pun.

Dari era invasi Uni Soviet hingga Taliban berkuasa pada awal 1990-an, lembah ini teramat sulit ditaklukkan.

Sekitar era 1980-an, para pejuang gerilya di bawah kepemimpinan ayah Massoud, Ahmad Shah Massoud, berhasil menahan pasukan Uni Soviet masuk ke Lembah Panjshir, bahkan ketika Soviet menguasai Kabul dan sebagian wilayah Afghanistan lain.

Ayah Massoud merupakan komandan pasukan Mujahidin dan salah satu tokoh gerilya Afghanistan saat perang dengan Uni Soviet.

Lanskap geografis Lembah Panjshir cukup berperan dalam keberhasilan pasukan gerilya melawan Soviet pada saat itu. Lembah itu terletak di antara pegunungan Hindu Kush dan hanya dapat diakses melalui jalan sempit.

Sebagian besar penduduk Lembah Tanjshir merupakan etnis Tajik. Sebelum Taliban mengambil alih Afghanistan, para pemimpin di Provinsi Panjshir telah meminta pemerintah di Kabul memberi mereka lebih banyak otonomi.

Setelah Soviet menarik diri dari Afghanistan pada 1989, berbagai faksi Mujahidin terpecah menjadi beberapa kelompok baru dan mulai berebut menguasai negara itu.
Ayah Massoud membentuk pasukan Aliansi Utara, sebuah koalisi pasukan Uzbekistan dan Tajik. Pasukan tersebut sempat menduduki Kabul namun kerap dituduh melakukan pelanggaran hak asasi manusia.

Setelah sebagian besar wilayah Afghanistan jatuh ke tangan Taliban pada 1996, Aliansi Utara di bawah kepemimpinan ayah Massoud berhasil mempertahankan Lembah Panjshir dari Taliban dan kelompok militan lainnya.

Dikutip CNN, Lembah Panjshir bahkan menjadi satu-satunya wilayah yang sampai saat ini belum pernah dikuasai Taliban.

Ayah Massoud dikenal sebagai "Singa Panjshir". Ia memimpin berbagai serangan anti-Taliban sampai ia terbunuh oleh Al-Qaidah, sekutu Taliban, dua hari sebelum serangan teroris 11 September 2001 di Amerika Serikat atau 9/11.

Saat ini, pasukan Aliansi Utara dipimpin oleh Massoud yang telah bersumpah akan melanjutkan tekad sang ayang untuk terus perang melawan Taliban, terutama setelah kembali menguasai Afghanistan baru-baru ini.

Dalam editorial Washington Post, Ahmad Massoud mengklaim anggota militer Afghanistan termasuk beberapa dari unit elit Pasukan Khusus telah bergabung dengannya. Ia juga meminta bantuan barat untuk melawan Taliban.

"Kami punya gudang peluru dan senjata yang dikumpulkan sejak jaman ayah saya karena kami tahu hari ini akan datang," katanya dalam editorial tersebut.

Ia menegaskan, jika Taliban berani menyerang Lembang Panjshir, mereka akan mendapat perlawanan keras darinya.

Tambahan senjata juga datang dari militer Afghanistan yang telah bergabung dengannya.

Wakil Presiden Afghanistan, Amrullah Saleh, yang telah mendeklarasikan diri sebagai penjabat presiden usai kejatuhan Kabul ke tangan Taliban pun telah berlindung ke Panjshir.

Anara

Komentar

Loading...