LSM FORMAK: Proyek Pengadaan Bibit Pinang Betara di Abdya dan Aceh Selatan Diduga Korupsi

LSM FORMAK: Proyek Pengadaan Bibit Pinang Betara di Abdya dan Aceh Selatan Diduga Korupsi
Tinggi bibit pinang yang disalurkan tidak merata. | Foto: Ist

Temuan Lsm Formak, tinggi bibit tidak merata mulai dari ukuran 170 cm hingga 200 cm. Jumlah yang dianjikan 15 ribu batang, diterima petani hanya 12 ribu batang.

KBA.ONE, Banda Aceh - LSM Forum Pemantau dan Kajian Kebijakan (FORMAK) Aceh Selatan menduga proyek pengadaan bibit pinang betara di Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Aceh, bersumber dari Anggaran Pendapat Belanja Aceh (APBA) 2020, terindikasi kuat korupsi.

"Dari fakta yang didapatkan, kami menduga adanya penyimpangan dalam pelaksanaan proyek tersebut dan terindikasi kuat adanya praktik tindak pidana korupsi yang dapat menimbulkan kerugian negara," kata Ketua FORMAK Aceh Selatan, Ali Zamzami, dalam rilisnya yang dikirim ke KBA.ONE, Jumat, 13 November 2020.

Ia menyampaikan ribuan batang bibit pinang betara yang disalurkan kepada Masyarakat oleh Pemerintah Aceh tahun 2020 dinilai tidak berkualitas dan diduga tidak sesuai spesifikasi. Sehingga, petani merasa kecewa dan menolak untuk menerima bibit bantuan tersebut. "Petani meminta agar diganti dengan bibit yang memang unggul dan berkualitas," kata Ali Zamzami.

Menurut dia, LSM FORMAK Aceh Selatan sudah melakukan pemantauan ke lapangan dan menyaksikan langsung kondisi bibit di desa Paya Peulumat, Kecamatan Labuhanhaji Timur, Aceh Selatan. Di sana terdapat puluhan ribu bibit pinang menumpuk yang dibongkar dari mobil truk pengangkut pada Sabtu, 7 November 2020. 

Kualitas bibit pinang betara yang disalurkan ke petani di Abdya dan Aceh Selatan diragukan kualitasnya. | Foto: Ist

Dari hasil investigasi lapangan, jelas Ali Zamzami, diketahui Bantuan Bibit Pinang Betara tersebut merupakan Program Pemerintahan Aceh melalui Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Aceh, dari sumber dana APBD 2020.

Fakta di lapangan menyebutkan kondisi bibit yang disalurkan kualitasnya sangat buruk. Tinggi bibit tidak merata mulai dari ukuran tinggi 170 hingga 200 centimeter (cm).

"Kondisi batangnya kurus, daun menguning dan kering. Terlihat tidak berkualitas seperti lazimnya bibit unggul," beber Ali Zamzami.

Selain tidak berkualitas, kata Ali, jumlah bibit yang disalurkan juga tidak sesuai dengan informasi yang beritahukan sebelumnya yaitu sebanyak 15 ribu batang. Namun, yang diantar ke lokasi hanya sekitar 12 ribu batang.

Melihat kondisi lapangan, FORMAK Aceh Selatan menyarankan agar petani menolak bibit yang diragukan kualitasnya dan jangan dulu menandatangani berita acara serah terima.

"Karena diduga kuat bibit tersebut tidak sesuai spesifikasi. Tunggu sampai ada kejelasan dan bibit penggantinya dari dinas terkait maupun rekanannya," imbau Ali Zamzami.

Ali juga meminta Pemerintah Aceh melalui Distanbun Aceh dan rekanan penyedia agar segera mengganti bibit-bibit tersebut dengan bibit yang sesuai spesifikasi sebagaimana yang terdapat dalam kontrak kerja.

"Jangan nanti masyarakat sudah mengorbankan lahan dan capek-capek menanam, hasilnya tidak bagus dan mengecewakan sehingga mengalami kerugian. Apalagi bantuan bibit tidak disertai bantuan biaya tanam dan pupuk," tegas Ali.

Formak juga menduga adanya pemalsuan label dan pencampuran bibit variates unggul dengan bibit kualitas buruk (tidak layak) yang disortir tanpa melalui standar mekanisme dan prosedur penangkaran bibit.

Formak menduga ada oknum dinas terkait yang ikut terlibat dalam persoalan bibit diduga tidak sesuai spesifikasi tersebut. Jika tidak, kata Ali Azamzami, bagaimana mungkin bibit itu bisa disalurkan ke petani dengan jumlah yang tidak sesuai, kondisi yang memprihatinkan dan mengecewakan.

"Semua, kan, tetap melalui proses serah terima barang di tingkat dinas sebelumnya," tegasnya. 

Di laman LPSE Pemerintah Aceh, CV Ritacha Pratama tertera sebagai pemenang Pengadaan Bibit Pinang Betara untuk Kabupaten Abdya dan Aceh Selatan dengan pagu Rp491.670.000,- | Tangkapan layas LPSE Pemerintah Aceh.

Hasil penelusuran LSM FORMAK Aceh Selatan, proyek pengadaan bibit tersebut dilelang di laman LPSE Aceh, dengan kode tender 32230106. Nama tender: pengadaan bibit pinang betara untuk Kabupaten Aceh Barat Daya dan Aceh Selatan, dengan nilai pagu paket/HPS sebesar Rp491 juta.

Tender tersebut diikuti 20 peserta yang memasukkan penawaran. "Kemudian tender dimenangkan oleh CV. Ritacha Pratama dengan nilai penawaran Rp361 juta, satuan kerja; Distanbun Aceh. Dengan lokasi Pekerjaan di Kabupaten Aceh Barat Daya dan Kabupaten Aceh Selatan," ungkap Ali Zamzami.

FORMAK Aceh Selatan meminta dan mendesak pihak penegak hukum, Polda Aceh dan Kejati Aceh untuk dapat memberi atensi terhadap persoalan ini dengan melakukan tindakan hukum berupa penyelidikan dan penyidikan.

"Polisi atau jaksa harus memanggil serta memeriksa pejabat dinas terkait dan rekanan pelaksana proyek tersebut. Yang terlibat harus diproses sesuai aturan hukum yang berlaku," pinta Ali Zamzami.

Tolak

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh Abdul Hanan menegaskan kepada petani penerima manfaat bibit pinang betara untuk menolak bibit tersebut jika jumlahnya tidak benar dan tidak sesuai dengan spesifikasi.

"Saya akan turunkan tim juga ke lapangan untuk memeriksa," kata Abdul Hanan menjawab pertanyaan KBA.ONE lewat pesan whatsapp, Sabtu 14 November 2020.***

Komentar

Loading...