Buku Resam Berume Launching

MAG Aceh Tengah Diminta Susun Bahan Ajar Kesenian di Gayo

MAG Aceh Tengah Diminta Susun Bahan Ajar Kesenian di Gayo
Majelis Adat Gayo (MAG) Kabupaten Aceh Tengah melaunching buku Resam Berume, Selasa 26 Oktober 2021. | Foto: KBA.ONE, Karmiadi

KBA.ONE, Takengon - Majelis Adat Gayo (MAG) Kabupaten Aceh Tengah melaunching buku Resam Berume, sekaligus penandatangan Memorandum of Understanding (MoU) dengan Dinas Pendidikan Aceh Tengah dan Kepala Kantor Kementerian Agama setempat.

Buku tersebut selanjutnya akan menjadi bahan ajar Muatan Lokal (Mulok) di tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) kelas 3, 4, dan kelas 5 dengan tebal halaman buku induk 59 lembar, lengkap dengan foto serta penjelasan tentang bersawah dari awal hingga padi panen dan memasukanya ke lumbung.

Kepala Sekretariat Majelis Adat Gayo (MAG) Aceh Tengah, Junaidi, mengatakan kegiatan itu diikuti sebanyak 50 peserta, di antaranya pihak dinas dan komite sekolah. Mereka (komite) turut dibekali bagaimana penyusunan buku itu digagas hingga penerapanya di sekolah.

“Penyusunan buku ini merupakan realisasi dari visi dan misi Aceh Tengah terkait pelestarian adat istiadat dan lingkungan hidup. Semua pihak sepakat buku ini dijadikan muatan lokal kerja sama dengan kemenag dan dinas pendidikan,” terang Junaidi, Selasa 26 Oktober 2021, di gedung Ummi Pendopo setempat.

Ia menyebut buku yang akan dicetak itu sebanyak lima unit, di antaranya buku induk, modul kelas 3, 4, dan modul kelas 5 serta instrumen.

Sementara itu, Bupati Aceh Tengah, Shabela Abubakar dalam paparan yang disampaikan oleh Sekretaris Daerah Subhandy mengatakan disusunnya buku resam berume merupakan salah satu dari 14 turunan resam yang lazin dikerjakan oleh orang Gayo terdahulu.

Di antara 14 resam itu adalah resam berume, resam berebe, resam mungaro, resam begule, resam nirin reje, resam munik ni reje, resam ni kekanak, resam ni memude, resam ni tetue, resam man ku aih, resam kenduri tulak bele, resam muniro uren, resam beruer, dan resam beruten.

“Resam berume mengambarkan kebiasaan, resam ini memegang peranan dalam kehidupan beragama, bernegara, pendidikan dan kesehatan, orang tua kita zaman dulu hidup berkelompok dalam mengolah sawah. Di sini tercermin suatu peranan kerja sama,” katanya.

Penandatanganan nota kesepahaman buku resam berume antara Majelis Adat gayo dengan Kepala Kantor Kementerian Agama dan Dinas Pendidikan Aceh Tengah, Selasa 26 Oktober 2021. | Foto: KBA.ONE, Karmiadi

Ke depan, kata dia, Majelis Adat Gayo diminta menerapkan pelajaran kesenian di sekolah seperti, lagu Gayo resam berume, tari Gayo resam berume, kekeberen, tutur, sejarah Gayo, tokoh-tokoh Gayo, lagu tawar sedenge, melengkan, sya’ir Gayo, peri mestike, kies, berijo-ijo (pantun), dan didong.

Selain itu, MAG juga diminta mengkaji makna falsafah tentang lambang daerah Gayo “Keramat Mufakat” berdasarkan peraturan daerah Aceh Tengah nomor 16 tahun 1973 tanggal 04 mei 1973 terkait empat unsur perlembagaan, yakni Kal Pitu Mata yang terletak di atas empat buah petak tersusun rapi melambangkan Sarak Opat serta Bintang Pitu.

Selanjutnya, kemakmuran yang dilambangkan dengan tulisan delapan pucuk daun tembakau, sembilan buah kopi, 25 helai daun, 20 butir padi serta dua pangkal tangkainya diikat dengan delapan lingkaran tali.

Ketiga, kerukunan yang dilambangkan dengan lukisan Umah Pitu Ruang, terletak di sudut atas segi lima, dan yang terkahir adalah kesejahteraan yang dilambangkan dengan lukisan kubah masjid, dibentuk dengan dua ujung tangkai buah kopi dan padi.

“Ke depan Majelis Adat Gayo dapat mengkaji maknanya, sehingga nanti bisa menjadi bahan pendidikan untuk kearifan lokal (mulok),” tutup Shabela yang dibacakan oleh Sekda Subhandy.

Anara

Komentar

Loading...