Mahalnya Harga Sewa, Pedagang Musiman di Pasar Rakyat Pemkab Pidie Memilih Kabur

Oleh ,
Mahalnya Harga Sewa, Pedagang Musiman di Pasar Rakyat Pemkab Pidie Memilih Kabur
Suasana setelah kegiatan pasar rakyat MTQ Aceh ke 34 di Pidie, Kamis 3 Oktober 2019 | Foto: Marzuki |

KBA.ONE, Pidie - Sebanyak 166 lapak pedagang dilokasi pasar rakyat Pemerintah Pidie, saat Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Aceh ke 34 berlangsung hanya mencapai Rp 61 juta, selebihnya penyewa kabur.

Keterangan yang sempat dihimpun KBA.ONE, Kamis 3 Oktober 2019 dari sejumlah pedagang penyewa lapak sebelum meningalkan lokasi, menyatakan harga sewa lapak sangat bervariasi. Jika didekat jalan harga sewa mencapai Rp 1 juta, didalam hanya Rp 600 ribu.

Sementara, untuk wahana permainan anak-anak yang berdekatan dengan gedung Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU), harga sewa jauh lebih mahal. Namun pihak penyewa tidak merincikan aturan soal penetapan harga sewa lapak pada lahan milik Pemerintah Pidie.

Kepala Bidang Pasar, Dinas Perindustrian, Perdagangan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Disperindag Kop dan UKM) Pidie, Husaini, saat dikonfirmasi KBA.ONE, mengatakan berdasarkan jumlah lapak yang disewakan di lahan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) untuk pasar rakyat pada perhelatan MTQ Aceh ke 34 mulai 21 hingga 28 September lalu, pihaknya hanya mampu meraup sewa hanya sebesar Rp 61 juta saja.

Kemudian, "jumlah lapak yang disewakan berjumlah 166 titik dengan harga bervariasi, mulai Rp 600 ribu hingga Rp 1 juta, tergantung lokasinya," katanya.

"Untuk pengelolaannya kami serahkan kepada pihak ketiga," sebut Husaini.

Dijelaskannya, soal harga lapak pihaknya menentukan ukuran 4x4 meter harganya Rp 400 ribu, sedangkan ukuran 4x6 meter Rp 800 ribu, dan pihak ketiga mengambil sewa lapak Rp 600 ribu untuk ukuran 4x4 meter, dan Rp 1 juta untuk ukuran 4x6 meter.

"Sejauh ini kami berhasil mengumpulkan biaya sewa lapak hanya berjumlah 61 juta saja," katanya.

Soal tak mencapai target, Husaini tak menjelaskan. Namun hanya menyampaikan alasan para pedagang sudah penyewa lapak mengeluh karena dagangan mereka kurang laku, sehingga meninggalkan lapaknya dan beralih ke lokasi yang lebih dekat dengan arena MTQ, meski itu sudah dilarang.

"Meski diantara pedagang yang sudah menyewa lapak, telah menyerahkan uang tanda jadi berkisar Rp 100 ribu hingga Rp 200 ribu. Namun mereka berpindah lokasi ke tempat lain dengan alasan dagangannya kurang laku," ungkapnya.

Kini ratusan pedagang musiman itu sudah pergi, tinggalah lokasi kosong seluas 2 hektare lebih dengan tumpukan sampah disana sini, dan harga Sewa lapakpun tak memenuhi harapan.

Komentar

Loading...