Malam Jahanam di 'Mazbah'  Dayah

Malam Jahanam di 'Mazbah'  Dayah
Ilustrasi | rendra purnama

Di malam jahanam itu para santri dipaksa melakukan oral seks, satu persatu, secara bergantian dengan sang guru.

Hari Anak Nasional yang diperingati saban 23 Juli tinggal sekitar dua pekan lagi. Namun, dari Kota Lhokseumawe, Aceh, kabar kurang pantas menggelegar di atas langit Samudra Pasai. Seorang pimpinan dayah, AI, 45 tahun, bersama seorang guru mengaji, MY, 25 tahun, ditangkap polisi. Mereka diduga melakukan kekerasan seksual terhadap belasan santri anak didiknya. Jumlahnya diperkirakan mencapai 15 anak.

Modus "hantu" pedofilia penjaga dayah itu dilakukan dengan pura-pura menyuruh para santri membersihkan kamarnya. Setelah malam larut tiba, para korban pun disuruh tidur.

Sebelum berbuat bejat, pelaku menyemburkan ancaman berbau agama kepada santri. Mereka lantas takut dan manut. Dan, di malam jahanam itulah para santri dipaksa melakukan oral seks, satu persatu, secara bergantian dengan sang guru.

Perilaku celaka ini terjadi sudah sejak September 2018. Rata-rata para santri korban mengalami pelecehan seksual tiga hingga tujuh kali.

Apa yang dilakukan MY dan AI adalah perbuatan terkutuk. Kedua pendidik ini tak cuma  mencoreng wajah dayah tapi juga penegakan syariat Islam di Aceh. Di tempat yang sejatinya melahirkan para generasi penegak syariat, di situ pula kedurhakaan terjadi.

Kita tak menyangka AI dan MY adalah "monster" pedofilia yang menyaru sebagai pemuka agama. Terlebih lagi AI yang sehari-hari dikenal sebagai sosok humoris dan ramah kepada semua orang. Dia jauh dari kategori orang yang "sakit". AI sering berceramah di mana-mana.

Untuk ukuran Lhokseumawe dan sekitarnya, dia termasuk dai kondang. Di YouTube, video-video AI yang sedang berceramah gampang ditemukan.

Seks menyimpang, oral seks sesama jenis dan sodomi,  memang tak kenal agama. Di Amerika, skandal kejahatan seks terhadap anak (sodomi) para pastor gereja Katolik dibongkar media Boston Globe setelah ditutupi sekian lama. Ada sekitar 70 pastor pedofilia yang terlibat tapi Keuskupan Agung Boston menutupinya dari publik. Bahkan, warga sekitar ikut merahasiakan cerita tersebut.

Kisah nyata itu kemudian difilmkan dan diberi tajuk Spotlight. Beberapa hari setelah cerita Spotlight muncul, insiden serupa dari seluruh dunia pun terdengar. Segera setelah itu, ribuan kasus pelecehan seksual anak oleh pastor terungkap.

Kasus di Lhokseumawe barangkali serupa gunung es. Mungkin, ada banyak kejadian serupa di tempat lain, di dayah-dayah lain. Berkaca dari spotlight, sudah waktunya perbuatan tercela itu ramai-ramai diungkap. Tak perlu lagi ditutup-tutupi dengan dalih menjaga nama baik dayah.

Karena yang paling menderita dan terancam masa depannya adalah para anak yang menjadi  korban, bukan teungku-teungku gadungan itu. Trauma berkepanjangan akan mendera jiwa si anak. Apalagi, mereka masih belia, masa depan masih terentang jauh. Jika tak ditangani serius, terbuka ruang para korban akan bermutan menjadi pelaku.

Kasus ini harus menjadi cambuk perih bagi para ulama di Aceh. Karena perbuatan AI dan MY lebih brengsek dari PUBG. Konon dilakukan oleh orang yang menyebut dirinya TEUNGKU. Para ulama sepatutnya membuat seruan kepada seluruh dayah akan bahaya pedofilia. Sudah saatnya dayah mawas diri dan mengevaluasi diri. Muhasabah.

Para santri harus disadarkan akan bahaya semacam itu. Bila ada kasus serupa terjadi, mereka wajib mendapatkan perlindungan hukum dan cara aman mengadukan kasus itu kepada aparat hukum.

Dayah bukanlah 'mazbah', tempat persembahan korban kejahatan seks senyap. Dayah tak boleh lagi menjadi wilayah eksklusif pencari ilmu agama.

Dayah haruslah membuka diri kepada masyarakat sekitar. Membuka diri bagi dunia luar; menjadi perisai bagi para santri dari praktik kejahatan dan kekerasan seksual. Agar spotlight berikutnya tak diproduksi dari tembok-tembok dayah yang tampak kokoh di  luar tapi rapuh seperti tak bertiang agama; hina angkara!

Komentar

Loading...