Mari Beridul Fitri

Mari Beridul Fitri
ilustrasi | Foto: earthsky

KEMERIAHAN Idul Fitri tergambar jelas di ruas arteri di kota-kota besar di Aceh. Para pengemudi merelakan diri untuk terjebak dalam kemacetan panjang mengular. Tak ada suara klakson. Semua menanti.

Kendaraan-kendaraan hias berjalan di depan para peserta pawai yang membawa obor. Pakaian mereka putih, menyambut kesucian hari kemenangan setelah sebulan lamanya umat muslim berpuasa Ramadan.

Hari ini meninggalkan makna berbeda di hati setiap muslim karena memang Alquran tak pernah mematok makna Idul Fitri secara jelas. Seperti ibadah puasa itu sendiri, kemenangan ini punya rasa berbeda-beda. Tergantung pencapaian ibadah masing-masing. Tak satupun orang yang diberikan kewenangan untuk mengukur derajatnya. Ini teretori Allah SWT.

Perayaan ini, sama seperti Idul Adha, hanya disebutkan Nabi Muhammad saw dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan Annasa’i, “sesungguhnya Allah mengganti kedua hari raya (baca: Nairuz dan Mahrajan) dengan hari raya yang lebih baik, yakni Idul Fitri dan Idul Adha. Nairuz dan Mahrajan adalah hari besar sebelum Islam menyebar di Arab Saudi.

Idul Fitri juga sering disebut dengan istilah lebaran. Kata ini berasal dari Bahasa Jawa yang berarti selesai. Berlebaran adalah tanda selesainya Ramadan. Lebaran adalah hari bersuka cita. Hari ini, Allah melarang muslim berpuasa.

Sebagai manusia yang meyakini adanya hari pembalasan, kita tentu berharap di hari ini, seluruh dosa kita diampuni. Seorang bijak berkata, “Idul Fitri itu arti sederhananya adalah kembali ke fitrah. Kalau ditelusuri ke hulu, ke yang paling lubuk, yang paling sumber, yang paling asal usul, fitrah itu ya Allah sendiri. Karena tidak ada apapun selain Allah.”

Namun pemaknaan ini juga tak perlu dikejar dengan asumsi mengejar kebenaran subjektif. Karena tak ada seseorang yang benar-benar suci. Tidak dengan jubah putih panjang, celana komprang, peci menjulang atau kening dengan kulit menghitam.

Merasa diri suci adalah jebakan yang hanya mengantarkan manusia kepada kehinaan. Memandang orang dengan sebelah mata dan menganggap mereka belum sampai pada “maqam” yang dia yakini. Sekali lagi, ini adalah teretori Allah. Kebenaran tidak statis.

Di hari nan fitri, biarlah diri kita terus mencari kebenaran di bilik-bilik sempit penerima zakat. Atau di supaknya sandal anak-anak yatim piatu yang miskin. Biarkan jiwa bercermin; saling bertanya dan mengingatkan. Mudah-mudah, hingga Ramadan yang akan datang, fitrah kita sebagai hamba tak ternoda.

Selamat Idul Fitri, semoga Allah menerima amal dan ibadah kita.

Komentar

Loading...