Martabak Piring, Warisan yang Bertahan Sejak Tahun 50-an

Martabak Piring, Warisan yang Bertahan Sejak Tahun 50-an
Pelanggan Setia Martabak Piring Sedang Antre Untuk Membeli I Foto : KBA.ONE, Ghandi.

KBA.ONE - Malam itu di persimpangan Jalan Sutomo dan Jalan Kapuas tampak lengang, hanya menyisakan binar-binar lampu pertokoan yang sudah tutup sejak maghrib. Di Jalan Kapuas tak terlihat satu pun lalu lalang kendaraan, hanya tampak sebuah gerobak dengan penerangan seadanya, dan tanpa plang nama di sudut jalan nya.

Wadah berisikan bara api serta piring-piring kaleng dengan pegangan kayu terpampang di atas meja gerobak. " Martabak piring bang, harganya Rp 4.000 yang satu rasa, yang dua rasa Rp 5.000," ucap seorang wanita berjilbab, penjual makanan itu.

Ada beberapa varian rasa martabak yang mereka tawarkan, cokelat, cokelat kacang, cokelat keju, dan cokelat wijen. Selain memilih rasa, pembeli juga ditawarkan dua jenis martabak, yang tebal dan tipis.

Tak lama, seorang pria memasang posisi di balik gerobak dan mengoleskan mentega di atas piring-piring kaleng berwarna kuning itu. Dia adalah Rizal, pemilik usaha yang diberi nama Martabak Piring Sejak Dulu. "Ini udah dari tahun 50-an, yang ini piring yang asli, kalau yang lain model baru semua," kata Rizal sambil menunjuk salah satu piring martabaknya.

Rizal, Pewaris Usaha Martabak Piring Sejak Dulu I Foto : KBA.ONE, Ghandi.

Setelah mentega meleleh, adonan pun mulai di isi di setiap piring, diikuti taburan meses cokelat dan parutan keju di atas nya. Rabu, 28 April 2021, KBA.ONE memesan 4 piring martabak tebal malam itu, rasa cokelat keju dan cokelat kacang menjadi pilihan. Namun Rizal juga menawarkan martabak yang tipis. "Gak mau coba yang tipis? Harganya lima ribu juga," kata Rizal.  Penasaran dengan rasanya, dua martabak tipis cokelat keju pun dipesan.

Halaman12

Komentar

Loading...