Masjid Sulaimaniyah, Napak Tilas Sejarah Kesultanan Serdang

Masjid Sulaimaniyah, Napak Tilas Sejarah Kesultanan Serdang
Atap Mahligai khas Kesultanan Serdang. | Foto: KBA.ONE, Ghandi Mohammad

Ada empat masjid peninggalan Sultan Serdang, dua di antaranya masih mempertahankan bangunan lama, dibangun pakai telur.

SEKITAR 36 kilometer dari Istana Maimun, peninggalan Kesultanan Deli yang kesohor itu, terdapat Kesultanan Melayu lain bernama Kesultanan Serdang. Kemegahan dan masa kejayaannya nyaris tak lagi terdengar, hanya dikenang sebagai kota persinggahan. Ditambah lagi pembangunan jalan bebas hambatan menuju kota lemang, Tebing Tinggi, saksi bisu peninggalan sejarah di tepi jalan lintas itu pun semakin luput dari pandangan mata.

Tidak jauh dari pusat kota Perbaungan, Serdang Bedagai, di sebelah kiri jalan menuju Pasar Bengkel, di sanalah lokasi Masjid Sulaimaniyah. Bangunan berciri khas Melayu dengan dominasi warna kuning dan atap berwarna hijau itu, mungkin salah satu peninggalan Kesultanan Serdang yang menjadi pintu masuk untuk menapak tilas sejarah kejayaan Kesultanan Serdang.

Siang itu, 25 Desember 2020, selepas salat Jumat, satu per satu jamaah beranjak meninggalkan masjid. Hingga tersisa seorang pedagang roti dan bandrek susu di halaman masjid, serta seorang pria paruh baya berbaju putih di teras masjid. Dia adalah Haji Muhammad Aslaluddin, kuasa nazir di Masjid Sulaimaniyah. “Sultan Serdang sudah mangkat, jadi masjid ini dikelola oleh ahli waris dari Sultan Serdang,” ucap Aslaluddin.

Haji Aslaluddin, Kuasa Nazir Masjid Sulaimaniyah. | Foto: KBA.ONE, Ghandi Mohammad

Menurut cerita Aslaluddin, masjid ini dibangun pada 1901 oleh Sultan Serdang Tuanku Sulaiman Syariful Alamsyah. Sambil menunjuk ke arah kanan masjid, Aslaluddin menjelaskan tentang beberapa makam yang ada di tanah wakaf itu. “Jadi inilah makam Sultan Serdang beserta keturunannya. Yang paling besar itu adalah makam almarhum Tuanku Sulaiman Syariful Alamsyah,” kata Aslaluddin.

Bangunan masjid sudah banyak dilakukan perubahan dan renovasi dari bentuk awalnya. Khususnya pada bagian luar, lantai, dan atap masjid. Sedangkan pondasi dan tiang di dalam masjid masih mempertahankan bangunan aslinya.

“Udah banyak berubah ini, atapnya dulu kubah bulat ya, kan, sekarang udah kayak gini, keramiknya juga. Tapi pondasinya masih pondasi yang lama, tiangnya juga masih tiang yang lama,” jelas Aslaluddin sambil menunjuk ke arah sekeliling masjid.

“Ada empat masjid peninggalan Sultan Serdang, dua di antaranya masih mempertahankan bangunan lama, dibangun pakai telur. Ada yang di Pantai Cermin, ada di Rantau Panjang, Pantai Labu, dan di Kecamatan Lubuk Pakam, Kamu harus pergi ke sana,” sambung Aslaluddin.

 Gedung Replika Istana Serdang. | Foto: KBA.ONE, Ghandi Mohammad

Namun Aslaluddin tidak berani bercerita terlalu dalam tentang Masjid Sulaimaniyah dan Kesultanan Serdang, sebab dirinya takut ada kesalahan dalam penyampaian sejarah penting itu.

“Ya, namanya juga udah tua ya, kan, takutnya lupa, salah pula awak becakap,” ucap Aslaluddin dengan logat Melayunya yang khas.

Meski ia tidak bisa menceritakan secara rinci tentang sejarah Kesultanan Serdang, Aslaluddin mengarahkan KBA.ONE, untuk berkunjung ke Perpustakaan Tengku Luckman Sinar di jalan Abdullah Lubis Medan. “Di Medan ada museumnya, di sana lengkap lah penjelasan tentang sejarah Kesultanan Serdang ini, tentang kejadian di masa itu juga ada dijelaskan di sana, tapi kalau sejarah ringkasnya ada di prasasti depan masjid ini, “ kata Aslaluddin.

Jumatan di Masjid Sulaimaniyah. | Foto: KBA.ONE, Ghandi Mohammad

Pada prasasti dijelaskan tanggal 29 Juli 1889 Sultan Sulaiman Syariful Alamsyah membuka Simpang Tiga Perbaungan dan mendirikan Istana Darul Arif di Kraton Kota Galuh. Kemudian, didirikan pula Masjid Sulaimaniyah yang akhirnya dibangun secara permanen pada 1901. Pada tahun 1939 Sultan Serdang mentauliahkan kenaziran masjid ini dan semua wakaf Sultan Serdang kepada Ketua Majelis Syar’i Kesultanan Serdang, Tengku Haji Yafizham.

Pada 24 Maret 1964 Tengku Yafizham mentauliahkan kembali Masjid Sulaimaniyah kepada Tengku Luckman Sinar, Tengku Abunawar Sinar, Tengku Abukasim Sinar, dan Tengku Ziwar. Renovasi perdana dilakukan pada tahun 2004 hingga 2005. Kubah Masjid yang semula bulat direnovasi menjadi kubah mahligai khas Melayu. Juga renovasi interior masjid, pemasangan keramik, serat dibangunnya bilik toilet di sana.

Tidak jauh dari Masjid Sulaimaniyah, terdapat replika Istana Kesultanan Serdang yang dibangun oleh Pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai. “Sekitar 1 kilometer lebih lah dari sini, ada replika Istananya, kalau istana aslinya udah gak ada lagi, dihancurin Belanda,” kata Aslaluddin. KBA.ONE pun berpamitan dengan nazir masjid yang murah senyum itu, lalu melanjut.

Makam keturunan Sultan Serdang. | Foto: KBA.ONE, Ghandi Mohammad

Perjalanan menuju replika Istana Kesultanan Serdang

Mencari replika Istana Kesultanan Serdang tidaklah sulit, dari Masjid Sulaimaniyah akan tampak lintasan kereta api di sisi kanan jalan. Benar kata Haji Aslaluddin, hanya sekitar 1 kilometer, kita akan sampai di bangunan yang tingginya sekitar 8 meter itu. Tampak sepi dan tak ada satu orang pun terlihat di sekitar bangunan itu. Lokasinya tepat di sebelah SMK Negeri 1 Perbaungan, di jalan Medan- Tebing Tinggi Km 42.

Arsitekturnya dibangun seperti rumah panggung, namun dengan pondasi dan bahan bangunan beton yang berbeda dengan istana aslinya. Ruangan bagian bawah bangunan berwarna kuning itu tampak tertutup rapat. Di sisi depan, kiri, dan kanannya terdapat tangga.

Tidak berbeda dengan bagian bawah, ruangan-ruangan di lantai ataspun tertutup. Tidak banyak informasi yang didapat di sana kecuali sebuah prasasti peresmian gedung pada 7 Januari 2012 yang ditanda tangani oleh Tengku Erry Nuradi, Bupati Serdang Bedagai waktu itu. Bangunan ini dijadikan kantor Dinas Kepemudaan, Olahraga, Pariwisata, dan Kebudayaan Kabupaten Serdang Bedagai.

Makam Sultan Serdang di samping Masjid. | Foto: KBA.ONE, Ghandi Mohammad

Di lantai atas sisi kiri bangunan terdapat museum. Pintunya digembok, entah karena hari itu adalah tanggal merah, atau bangunan ini memang sudah lama tidak terpakai. Namun, pantauan KBA.ONE, bangunan ini tampak terbengkalai, lantainya kotor, toiletnya rusak, dan beberapa jendela museum dibiarkan terbuka begitu saja.

Di sekeliling replika istana itu terdapat beberapa bangunan dengan warna serupa kuning dan hijau yang menurut Aslaluddin merupakan komplek perkantoran Kabupaten Serdang Bedagai.

Panas matahari semakin menyengat, padahal waktu itu sudah menunjukkan pukul 3 sore. Setelah mengelilingi Replika Istana Kesultanan Serdang, tidak ada informasi lain yang bisa kami ambil tentang bangunan itu.

Masjid Sulaimaniyah. | Foto: KBA.ONE, Ghandi Mohammad

Namun setidaknya, cerita Aslaluddin sang nazir Masjid, tentang tiga masjid peninggalan Sultan Serdang lainnya, juga perpustakaan Tengku Lukman Sinar yang terdapat di Medan, telah membuka pintu baru dalam menapak tilas sejarah Kesultanan Serdang. *

Komentar

Loading...