Maskulinitas Beracun

Maskulinitas Beracun
Ilustrasi | pixabay

Pelaku rudapaksa oleh oknum polisi menyumbang ketakutan luar biasa bagi kaum perempuan.

BERITA oknum polisi memerkosa perempuan penderita keterbelakangan mental di Aceh Tenggara, November 2020, mengusik pikiran waras kita. Bagaimana mungkin seorang polisi yang seharusnya mengayomi dan melindungi rakyat justru berubah menjadi monster!

Pemerkosaan ala oknum polisi tak cuma terjadi di Aceh. Baru-baru ini, khalayak juga dibuat geram gara-gara ulah Brigradir DY, anggota satuan lalu lintas Polres Pontianak. Dia disangka memerkosa gadis SMP di sebuah hotel setelah motornya ditilang di pos polisi lalu lintas pada September 2020.

Kejahatan seksual oknum polisi juga terjadi di negara tetangga Malaysia. Ketika awal pandemik Covid-19 mengguncang dunia, seorang oknum polisi di Malaysia berulah memerkosa dua turis asing yang terjaring razia pada April 2020.

"Oknum polisi itu sudah ditahan dan ditetapkan sebagai tersangka," kata Kepala Polisi Distrik Nik Ezanee Mohd Faisal, seperti dilansir dari laman Free Malaysia Today.

Mengapa harus memerkosa?

Dalam studi Jaydip Sarkar (2013), dipaparkan faktor memengaruhi seseorang memerkosa, di samping budaya dan pola didik keliru, kerusakan pada bagian otak bisa berasosiasi dengan perkosaan.

Saat hal itu terjadi, kata Sarkar, dimuat di Indian Journal of Psychiatry, seseorang dapat mengalami kesulitan mengontrol perilaku agresifnya.

Sejarah trauma pelaku pada masa silam pun bisa menyumbang terjadinya kejahatan seksual. Kekerasan seksual atau fisik serta kondisi keluarga berantakan, juga berdampak bagaimana seseorang membangun relasi yang sehat ketika dewasa.

Lalu, kemana perempuan harus mencari perlindungan dan advokasi bila penegak hukum justru menjadi pelaku kejahatan seksual?

Banyak pemerkosa membuat justifikasi atas perbuatannya. Hanya segelintir yang benar-benar menyesal. Lebih buruk lagi, mereka menyalahkan korban atas tindak kejahatan yang dilakukannya.

Apalagi pada saat bersamaan, laki-laki pemerkosa menjadi pelaku sekaligus korban budaya patriarki dan toxic masculinity yang merajalela di mana-mana.

Akankah pelaku rudapaksa oknum-oknum polisi itu mengaku korban patriarki? Jika bukan, berarti oknum polisi yang kekuatan ototnya terbentuk sejak masuk pendidikan itu akan menjadi toxic masculinity; maskulinitas beracun!

Komentar

Loading...