Melestarikan Manisnya Halua Melayu, Makanan Para Raja

Melestarikan Manisnya Halua Melayu, Makanan Para Raja
Ibu Ima saat memasukan halua ke dalam plastik. | Foto: KBA.ONE, Ghandi Mohammad

Halua, makanan khas Melayu, olahan manisan dari berbagai buah dan sayuran. Halua Melayu sudah semakin langka, tidak banyak orang yang menjual makanan yang sudah ada sejak zaman kesultanan ini. 

KBA.ONE, Medan - Melayu merupakan suku asli di Medan, bukti sejarah kejayaan kesultanannya masih berdiri megah di pusat kota yang biasa disebut Tanah Deli itu. Ya, Istana Maimun, bangunan rumah panggung yang didominasi warna kuning khas Melayu, tempat bersemayamnya para raja yang memimpin di Sumatera Timur kala itu. 

Adat istiadat, dan budaya, mungkin sebagian masih terjaga dengan baik, namun tak sedikit pula yang hilang dan terkikis oleh zaman. Seperti halua, makanan khas Melayu, olahan manisan dari berbagai buah dan sayuran. Halua Melayu sudah semakin langka, tidak banyak orang yang menjual makanan yang sudah ada sejak zaman kesultanan ini. 

Di Jalan Flamboyan Raya, Tanjung Selamat, Medan Tuntungan, KBA.ONE mengunjungi salah satu toko oleh-oleh yang menjual halua. Toko itu bernama Pondok Halua Delima. Di sisi kanan toko tampak beberapa toples kaca berisi macam-macam manisan. "Inilah semua manisan Melayu dek, halua itu artinya manisan dalam bahasa Melayu," kata seorang ibu berjilbab cokelat yang sedang duduk di balik etalase.

Varian Halua yang dijual Pondok Halua Delima. | Foto: KBA.ONE, Ghandi Mohammad

Ibu itu bernama Ima, seorang keturunan asli Melayu. Menurut Ima, di daerah Tanjung Selamat sejak dulu memang banyak dihuni oleh orang-orang Melayu, begitupun dirinya dan keluarga, yang sudah turun temurun bermukim di daerah itu. "Ini yang di depan kan tanah orang Melayu semua, cuma gak dijual sama mereka, karena untuk anak cucunya kan banyak," kata Ima sambil menunjuk ke seberang jalan tokonya. 

Mengenai halua yang dijualnya, Ima bercerita bahwa membuat manisan sudah menjadi hobi yang ia lakukan sejak duduk di bangku SMP. "Jadi dulu saya kan hobi dari SMP buat gini, terus tahun 2000 ada lomba se-kota Medan, saya dari Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) dapat juara 1, terus tahun 2001 ketemu sama ibu Rizal Nurdin, sejak itulah gabung sama Dekranas, karena makanan ini kan termasuk enggak ada lagi, udah langka," kata Ima.

Setelah pertemuannya dengan istri mantan Gubernur Sumatera Utara ,Tengku Rizal Nurdin itu, hasil buah tangan Ima mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah. Dia mendapatkan bimbingan dan pelatihan langsung dari Dinas Petindustrian dan Perdagangan. Di tahun 2003, Ima mendapatkan kesempatan untuk mengikut pameran ke Jakarta, Malaysia, hingga ke Jepang.

Toko Pondok Halua Delima. | Foto: KBA.ONE, Ghandi Mohammad

"Dari Sumut waktu itu ada 30 Usaha Kecil Menengah (UKM) yang ikut pelatihan di Jakarta, kemudian di seleksi lagi jadi 15 orang yang terpilih untuk pergi ke Jepang, saya salah satunya," ungkap Ima.

Soal nama untuk merek dagangannya, Ima mengaku itu adalah singkatan. Halua berarti manisan, sedangkan Delima berasal dari kata Deli dan Ima, karena kota Medan disebut juga dengan sebutan Tanah Deli. "Tiba-tiba aja terpikir namanya Halua Delima, artinya manisan Deli nya Bu Ima, saya bilang gitu ke bu Rizal Nurdin, beliau cocok, iya bagus itu," kata Ima sambil tertawa.

Tampak beberapa pelanggan sedang melihat-lihat manisan di Pondok Halua Delima pada 27 Februari 2021. Yang membuat manisan ini berbeda dengan manisan lain, beberapa buah-buahan di Halua Delima diukir sedemikian rupa agar terlihat cantik. Halua Delima juga tidak menggunakan bahan pengawet dan pemanis buatan. "Kita kan bahan alami semua, pemanis alami juga, terus buahnya itu kita ukir, kita bentuk, ada seni nya dia," kata Ima.

Halua, manisan khas Melayu varian Jeruk Kesturi. | Foto: KBA.ONE, Ghandi Mohammad

Ada berbagai macam jenis buah-buahan yang dijadikan manisan di Pondok Halua Delima. Di antaranya, buah pepaya, tomat, wortel, buah renda, jeruk kesturi, kolang-kaling, dan lainnya, yang dijual mulai dari Rp15 ribu per ons, hingga Rp45 ribu per ons. Selain itu Pondok Halua Delima juga menjual kue Bingka Kampung, juga berbagai macam kue khas Melayu lainnya.

Menurut Ima, halua merupakan makanan khas melayu yang sudah ada sejak zaman kesultanan yang merupakan makanan para raja. Namun kini halua menjadi makanan wajib di hari lebaran dan sebagai seserahan pengantin Melayu. "Iya makanan khas Melayu, makanan raja-raja lah dulu nya. Kalau sekarang ini adanya pas lebaran, hari pernikahan, untuk seserahan Melayu, jadi saya mengembangkan budaya itu, kulinernya," tutup Ima.***

 

Komentar

Loading...