CATATAN DARI PERJALANAN KE BEIJING

Melihat Cina dari Kacamata Philanthropy 

Melihat Cina dari Kacamata Philanthropy 
Jalan di Cina. Foto: Dokumentasi Husaini Ismail

Oleh Husaini Ismail*

Kali ini saya berkesempatan menghadiri Wolrd Philanthrophy Forum II di Beijing, Cina. Acara ini berlangsung 29-30 November 2017. Saya hadir atas undangan Ford Foundation yang mewakili management Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersama Imam N Akhbar sebagai Senior Vice President ACT. Acara ini diselenggarakan oleh Chinese People’s Association for Friendship with Foreign Country (CPAFFC) dan Tsinghua University Beijing .

Penerbangan dari Jakarta ke Beijing ditempuh dalam waktu 12 jam. Namun perbedaan waktu antara Cina dan Aceh hanya sekitar 1 jam. Sebelum mendarat, kami disuguhi pemandangan bangunan dengan atap putih berjejer seluas Jakarta. Saya penasaran dan bertanya pada pramugari. Dia menjelaskan bahwa itu adalah bangunan pabrik dengan berbagai product yang dihasilkan oleh Negeri Cina. Saya berguman sendiri pantas product Cina membanjiri Indonesia dan dunia tak terkecuali Mekah dan Madinah dengan harga sangat bersaing, bayangkan yang saya lihat baru satu lokasi pabrik bagaimana dengan industri di kota Hangzhu, Nanjing, Shenzen dan banyak kota lainnya di Cina.

Begitu mendarat keluar dari pesawat udara dingin terasa menusuk tulang minus 6 derajat celcius. Disambut megahnya Bandara Peking. Rata-rata jalan dibangun 10 jalur. Semua terlihat besar dan megah. Catatan kali ini saya buat ingin melihat betapa seriusnya Cina menggarap segala lini sektor kehidupan, kecuali sektor keagamaan.

Kembali pada even World Philanthropy Forum acara yang bergengsi ini diselenggarakan oleh Institute for Philanthrophy, Tsinghua University dan The Chinese People,s Association for Frienship with Foreign Countries (CPAFFC) kerjasama dengan Ford Foundation. Acara ini sanggup menghadirkan semua International INGO besar baik dari negara maju maupun dari negara yang belum berkembang seperti Bill & Melinda Gate Foundation, Caterpillar Foundation, Rockefler, Save The Children, UNICEF, Asia Foundation, Oxpham, Mercy Corp dan banyak Lembaga besar dunia lainnya, sayangnya saya tidak melihat ada NGO besar dari negara Muslim. Dalam forum ini tentu kami membicarakan waqaf apa sedang kami lakukan di Indonesia.

Peserta delegasi Indonesia. Foto: istimewa

Melihat melihat Cina membangun infrastruktur sosial dan filantropi--adalah tindakan seseorang yang mencintai sesama manusia serta nilai kemanusiaan, sehingga menyumbangkan waktu, uang, dan tenaganya untuk menolong orang lain--yang dibangun juga sangat mengagumkan, artinya Cina sangat siap sebagai sebuah negara maju sejajar dengan negara besar seperti Amerika, Inggris, Australia dan semoga Turki sudah termasuk sebagai Negara maju lainnya.

Cina sudah memiliki CPAFFA lembaga yang mempersatukan china overseas dengan berbagai kewargaan negera dalam dari sisi philanthropy. mereka juga memiliki Tsinghua University (Universitas Indonesia nya Cina) yang memeliki Institut for Philanthropy yang selama ini kita tahu untuk bidang ilmu ini hanya ada di Harvard University.

Terakhir mereka memeiliki lembaga China Foundation Centre (CFC) sebagai lembaga yang khusus focus membina dan mengakredasi NGO di Cina berhasil merangking lembaga ada 6331 lembaga NGO Cina yang terdaftar dengan total asset USD 19,8 milyar. Setiap tahun mengeluarkan data dan peringkat lembaga hitam, merah, kuning dan hijau, lembaga CFC ini dengan semboyan “better data better data better philanthropy”. Kami juga sempat berkunjung ke CFC ini sebelum acara pembukaan dimulai.

Cina juga sudah memberlakukan setiap penyumbang untuk kegiatan sosial baik individu maupun perusahaan akan mendapat pemotongan pajak. Individu 30 persen pajak dan perusahaan 12,5 persen dikurangkan dari pajak yang dibayar setiap tahun. Di Indonesia baru bisa dikurang hanya maksimal 2,5 persen bagi pembayar zakat ke lembaga yang sudah diakredasi sebagai komponen biaya pengurang pendapatan kena pajak.

Terakhir sebagai penutup ingin memberi gambaran bahwa dengan serius menggarap sektor filantropi ini akan memudah memobilisasi dana dari masyarakat untuk membantu yang membutuhkan. Tahun ini Cina mengadakan acara “9/9 Philanthropy Day” yang ke-3. Berlangsung sejak 7-9 September 2017. Selama 3 hari, terkumpul dana sebesar 1,3 milyar Yuan (1 yuan = Rp 2.600) setara dengan uang rupiah Rp 3,3 miliar. Dana ini diperuntukkan bagi 6.466 program pendidikan, kesehatan dan pengurangan kemiskinan, penggalangan dana juga menggunakan “Tencent Charity Platform”.

Data ini berdasarkan publikasi dari Tencent Fondation. Sedangkan kegiatan serupa diadakan tahun lalu terkumpul 300 juta Yuan setara Rp 780 miliar. Waalahu alam bissawab.

*) Penulis adalah Ketua Aksi Cepat Tanggap (ACT) cabang Aceh 

Komentar

Loading...