Limbah di Makam Ulama dan Raja Aceh

Oleh ,
Limbah di Makam Ulama dan Raja Aceh
Batu Nisan dari makam para ulama dan raja Aceh di kawasan pembuangan limbah di Banda Aceh | KBA/Khalis

Di kawasan itu terdapat sejumlah nisan kuno dengan berbagai motif. Tempat persemayaman terakhir makam raja dan ulama.

KBA.ONE, Banda Aceh – Matahari tepat di atas kepala. Beberapa pekerja sedang berteduh dan beristirahat di sebuah gubuk kecil, di areal pembangunan proyek Instalasi Proyek Pengolahan Limbah (IPAL) di tempat pembuangan akhir di antara Gampong Jawa dan Gampong Pande, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh.

Sejumlah pekerja terlihat menimbun dan mengeruk areal datar yang ditumbuhi tanaman bakau. Berbagai jenis material dan alat berat juga terpakir areal proyek. Proyek yang dikerjakan sejak akhir 2015 itu direncanakan selesai Oktober tahun ini.  

Pembangunan tempat pembuangan limbah di situs kerajaan Aceh | KBA/Khalis

 Di lokasi yang sama, dengan mudah dijumpai batu nisan tua. Besar dengan berbagai ornamen. Arkeolog Aceh, Husaini Ibrahim, memperkirakan di situs ini terdapat makam raja dan ulama Aceh. Benda bersejarah itu ditemukan saat pengalian lubang di areal proyek; berukuran separuh lapangan voli. 

’’Kami tidak tahu makamnya dibawa ke mana. Informasinya, ada lima makam ditemukan (saat penggalian) dan makamnya dipindakan ke tempat lain. Sedangkan batu nsiannya diamankan di sini,’’ kata Husaini.

Menurut Husaini, nisan yang ditemukan pada proyek tersebut berupa nisan ulama dan raja Aceh. Nisan para ulama itu kebanyakan berbentuk polos tidak berukiran. Sedangkan nisan raja itu ditandai ukiran yang dipadukan dari unsur Aceh dan luar negeri. Jenis nisan yang ditemukan di situs itu bertipe bucrane-aile dan silindris, yang ada pada abad 15 hingga 18 Masehi.

Menurut Husaini, kawasan ini adalah peninggalan penting sejarah Aceh. Di sini pernah berdiri Kerajaan Islam tempo dulu. Kerajaan ini adalah cikal bakal lahirnya Koeta Radja yang kini dikenal dengan nama Banda Aceh. Dahulu, ini adalah pusat penyebaran ajaran Islam di Asia Tenggara.

Hal ini terlihat jelas dari batu nisan yang menandai makam anggota kerjaan dan ulama Aceh dahulu. Menurutnya, kerajaan itu berkaitan dengan situs kerajaan di Gampong Pande yang juga memiliki banyak artefak dan nisan penanda makam raja dan ulama. Di antaranya Tengku Di Kadang dan Putro Ijo.

’’Selain itu, situs ini juga ada kaitan dengan Kerajaan Lamuri sebagai situs kerajaan yang tertua di sini. Kerajaan Lamuri juga pusatnya berpindah ke kawasan Gampong Pande. Oleh karena itu saya pikir ini penting untuk diselamatkan. Untuk  kepentingan sekarang dan generasi yang akan datang,’’ ujar Husaini.

Dosen Universitas Syiah Kuala itu berharap pemerintah menghentikan semetara proyek untuk mencari solusi yang terbaik. Menurut dia, penting untuk menyelamatkan proyek tersebut dan dengan tidak mengorbankan peninggalan sejarah yang sangat besar maknanya.

’’Setelah dibersihkan, nanti dicari lokasi yang lebih aman dan akan dicari solusi yang terbaik. Sudah terbukti bahwa kawasan ini adalah satu kawasan pusat penyebaran Islam terbesar di Asia Tenggara. Ini harus diselamatkan,’’ sebutnya.

Selain nisan, sekitar 100 meter dari lokasi pembangunan IPAL tersebut juga terdapat tapak bangunan, tegak di antara tanaman bakau tersebut. Kata Husaini, di lokasi itu terdapat kubah masjid. Namun perlu penelitian ilmiah untuk menentukan lokasinya. 

’’Kalau di luar negeri setelah diketahui ada bukti peninggalan benda-benda arkeologi itu harus dihentikan dan itu dilanjutkan dengan pembangunan yang lain," kata Husaini. Ketua Kasanah Raja Aceh, Teuku Raja Zulkarnaini, mengatakan seharusnya pembangunan tempat pembuangan limbah bisa dilakukan di tempat lain. Bukan  di kawasan peninggalan situs kerajaan Aceh

Lokasi diduga terdapat bekas bangunan masjid masa kerajaan Aceh | KBA/Khalis

Bekas Kepala Bidang Sejarah pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Banda Aceh menyebutkan bahwa pada 2011, Pemerintah Kota Banda Aceh menyurvei lokasi itu dan setahun kemudian mempersiapkan Detail Engineering Desaign untuk penataan situs sejarah di Gampong Pande dengan luas kala itu 61 hektare.

Dilansir situs resmi kementerian PU, proyek IPAL merupakan bantuan Pemerintah Pusat melalui Kementerian PUPR. Pembangunan IPAL tersebut menggunakan anggaran sebesar Rp 107,3 miliar yang bersumber dari dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara sebesar Rp 105 miliar dan APBA sebesar Rp 2,3 miliar.

Pelaksanan proyek ini adalah Nindya Karya Joint Operation (JO) Tenaga Inti. Dalam proyek itu, akan dibangun Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dan Jaringan Air Limbah di Banda Aceh untuk 5.000 sambungan.

Komentar

Loading...