Memotret Bisnis Lemang Wak Leh Beromzet Rp3 Juta per Hari

Memotret Bisnis Lemang Wak Leh Beromzet Rp3 Juta per Hari
Proses pembuatan lemang Wak Leh di dapur rumah Marzuki. | KBA.ONE, Fazil

Marzuki mengaku beruntung bisa mewarisi nama besar almarhum Wak Leh, ayahnya.

KBA.ONE, Lhokseumawe- Bagi Marzuki, puasa Ramadan tak cuma mengharap ridha pengampunan dosa dan pahala berlipat ganda. Tapi, Ramadan adalah jejak perputaran masa sejarah kebangkitan bisnis lemang warisan Wak Leh, orang tua Marzuki. "Saya meneruskan usaha bapak saya ini sejak tahun 1980," kata lelaki 46 tahun ini.

Ya, di Lhokseumawe, Aceh, lemang Wak Saleh, atau Wak Leh, memang kesohor. Setiap puasa, lemang Wak Leh dirindukan banyak orang untuk pelengkap menu berbuka di meja makan. Berbekal nama besar ayahnya itulah, kemudian, bisnis lemang Marzuki melambung sejak 1980. "Satu hari, omzetnya bisa tembus Rp3 juta," cerita Marzuki bersemangat, kepada KBA.ONE, Kamis 30 April 2020, di rumahnya.

Di Aceh, khususnya kota ladang gas Arun, Lhokseumawe, lemang adalah makanan khas saat berbuka puasa Ramadan. Dan lemang merupakan khazanah kuliner paling banyak digemari pemburu rasa lezat.

Secara turun temurun, tradisi memasak dan membuat lemang bambu di Lhokseumawe, salah satunya, dilakukan Marzuki dan keluarga.

Bisnis lemang itu telah dilakoni orang tua Marzuki, almarhum Muhammad Saleh (Wak Leh), sejak 1970. Sepeninggal Wak Leh, sejak 1980, usaha lemang itu terus dikembangkan Marzuki dan anak istrinya.

Proses memasak lemang Wak Leh dilakukan di dapur bagian belakang rumah Marzuki di Gampong Teumpok Teungoh, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe. 

Lemang-lemang Wak Leh siap dimasak di atas tungku. | KBA.ONE, Fazil

Di rumah itulah, sejak pagi hingga pukul 14.00 WIB, aroma wangi lemang Wak Leh mengepul di atas langit desa itu. Setiap hari, di dapur itu disiapkan ratusan bambu berisi beras ketan. Ukuran panjang bambunya sekitar 60 centi meter.

Tahapan pertama pembuatan lemang dimulai dengan memarut kelapa untuk diambil santannya. Setelah itu, santan dimasukkan dan direndam bersama beras ketan yang sudah dicuci dan dibersihkan.

"Kita sediakan bahan baku potongan bambu dan daun pisang muda," kata Marzuki.

Daun pisang muda itu, kata dia, digulung dan dimasukkan ke bagian dalam bambu berukuran 60 centi meter sebagai lapisan beras ketan yang akan diisi di dalamnya.

Setelah ketan diisi ke dalam potongan-potongan bambu itu, lanjut Marzuki, baru dituangkan santan dan bumbu racikannya. Kemudian, barulah dibakar di atas tungku dengan sabut kelapa. Prosesnya membutuhkan waktu sekitar satu jam setengah setelah bambu dibolak balik di atas api.

Untuk menghasilkan lemang yang lezat dan tekstur ketan yang lembut, kata Marzuki, perlu pengontrolan api pemanggangan. Apabila api membesar maka harus dikurangi sedapat mungkin agar lemang masak secara merata dan lembut.

"Saya menjalankan bisnis ini hanya ketika bulan Ramadan saja," kisah Marzuki.

Dia bilang saat bulan puasa seperti ini mampu memproduksi lemang sebanyak 120 bambu per hari dengan dua zak beras ketan.

Kemudian, lemang-lemang Wak Leh itu dijual ke pasar Inpres dan Pasar Pusong Lhokseumawe. Di sana sudah didirikan dan disediakan sejumlah rak kecil.

Untuk urusan penjualan, Marzuki menyerahkan kepada anak dan keluarganya. Biasanya, lemang-lemang itu mulai didstribusikan Marzuki dan pekerjanya ke sejumlah rak kecil sebelum shalat Ashar (menjelang berbuka) di kawasan Lhokseumawe.

Harga lemang Wak Leh dibanderol bervariasi antara Rp50 ribu hingga Rp60 ribu per bambu. Tapi, jika lemang sudah dipotong berukuran kecil, harga jualnya berbeda, hanya Rp5 ribu per potong.

Marzuki selalu bersyukur bisa mewarisi kemasyhuran lemang Wak Leh. Sebab, nama besar dan kualitas rasa itulah yang membuat bisnis rumahan Marzuki survive hingga sekarang. "Rata-rata pelanggan kami masih mengenang sang ayah (Wak Leh)," ungkap Marzuki.

Seperti bisnis lainnya, usaha lemang Marzuki juga tak mulus-mulus amat. Belakangan, dia mulai merasakan sulitnya mendapatkan bahan baku yang kian langka dan mahal. Untuk serabut kelapa saja, kata Marzuki, harus dipesan dari Geurugok, Kabupaten Bireuen, dengan biaya mencapai Rp500 ribu per truk.

Sedangkan beras ketan dibeli seharga Rp300 ribu per zak 25 Kg, dan bahan rempah-rempah untuk bumbu dibeli di kawasan Lhokseumawe.

"Tapi Alhamdulillah semua kendala itu masih bisa teratasi," kata Marzuki optimis.

Marzuki adalah satu dari sekian juta pengusaha rumahan yang konsisten menjaga tradisi usaha tahunan itu. Dari sini, di tengah gempuran pandemi Covid-19, dia bertahan.

Malah, hasil jualan Marzuki bisa menambah bekal nafkah untuk anak, istri dan keluarganya. Anda berminat? Cicip dulu lemang Wak Leh sebelum lebaran tiba di ujung Mei 2020 nanti! | FAZIL, Kontributor Lhokseumawe.

Komentar

Loading...