Menang Lelang, PT Kirana Saiyo Perkasa Bongkar Sejumlah Fasilitas Milik Eks PT AAF

Menang Lelang, PT Kirana Saiyo Perkasa Bongkar Sejumlah Fasilitas Milik Eks PT AAF
Proses pembongkaran scrap eks PT AAF dilakukan PT Kirana Saiyo Perkasa yang merupakan pemenang lelang. | Foto: KBA.ONE, Fazil

KBA.ONE, Lhokseumawe - Sejumlah fasilitas milik eks PT Asean Aceh Fertilizer (AAF) sedang dilakukan pembongkaran oleh pihak PT Kirana Saiyo Perkasa yang merupakan pemenang lelang untuk AAF tersebut. Sedangkan dalam pembongkaran pabrik bekerja sama dengan salah satu perusahaan daerah yaitu PT Dian Pratama Dewantara untuk pemotongan besi dan pembongkaran pabrik, yang sudah berjalan atau memasuki minggu kedua proses pengerjaan.

Untuk diketahui, eks PT AAF itu di bawah kelola PT Pupuk Iskandar Muda (PIM). Sehingga setelah dilakukan tender atau pelelangan beberapa waktu lalu, akhirnya dimenangkan oleh PT Kirana Saiyo Perkasa yang ditunjuk PT PIM.

Manajer Humas PT PIM, Nasrun, kepada wartawan, Rabu 26 Agustus 2020, mengatakan bahwa target yang direncanakan untuk pembongkaran itu selama enam atau sembilan bulan ke depan, diharapkan pemotongan berupa besi scrap atau besi tua itu bisa selesai.

"Saya tidak bisa merincikan besi apa saja yang diambil (pihak pemenang lelang), karena ini besi scrap. Besi bekas itu banyak jenisnya, tentu besi scrap yang dibongkar itu yang sudah included (masuk) pemenang. Jadi, pemenang bebas untuk mengambilnya yang ditetapkan oleh PT PIM," kata Nasrun.

Menurut Nasrun, tetapi ada juga beberapa material yang memang tidak included, maka itu tidak akan dibongkar pihak pemenang tender tersebut. Kata dia, sesuai dengan kontrak yang telah ditetapkan dalam proses tender dan kontrak PT Kirana, untuk harga material berjumlah Rp2.800 ribu per kilogram, maka nanti bisa dikalkulasikan dari berapa ton yang diambil oleh mereka.

"Tapi saya tidak bisa memperkirakan berapa ton yang terbongkar, karena saat ini masih dalam proses pembongkaran. Kita dari awal sudah menetapkan estimated itu Rp2.800 ribu per kilogram dan telah dievaluasi sesuai harga pasar. Sedangkan untuk pekerja yang membongkar scrap itu merupakan tenaga kerja lokal berjumlah 70 persen, dan tenaga-tenaga ahlinya juga ada dari Kecamatan Dewantara," ungkap Nasrun.

Untuk itu, sebut Nasrun, PT PIM sudah membuat suatu program jangka panjang bahwa direncanakan areal eks PT AAF tersebut, yang sudah disewakan ada sekitar 100 hektare untuk refinery oil, sebagiannya lagi areal H2O2. Ada sejumlah perusahaan yang sudah mengajukan untuk sewa atau kerja sama dengan PT PIM.

"Komitmen mereka begitu pembongkaran scrap ini selesai maka mereka akan investasi di areal kimia itu. Jadi, selama ini dikenal arel eks PT AAF, maka nanti akan berubah dinamakan yang lain. Tentunya dengan tumbuhnya industri-industri yang ada di lokasi ini, khususnya wilayah Dewantara maupun Aceh Utara akan kembali lagi seperti masa jayanya PT AAF dan KKA," ujar Nasrun. ** | Fazil, Kontributor Lhokseumawe

Komentar

Loading...