Menangkap Rindu di Sekolah Dasar Sukma Bangsa

Menangkap Rindu di Sekolah Dasar Sukma Bangsa
Wajah berseri murid SD Sukma Bangsa ketika menikmati bagian dari proses belajar tatap muka. | Foto: KBA.ONE, Try Vanny.

Ekspresi guru dan murid selalu tergambar dalam proses belajar mengajar tatap muka. Ingatannya lengket hingga pulang ke rumah.

KBA.ONE, Lhokseumawe – Delapan bulan lebih pandemi Covid-19 meneror dunia. Selama itu pula perilaku dan gaya hidup manusia terpaksa diubah dan menyesuaikan dengan kondisi abnormal itu. Salah satunya adalah proses belajar mengajar dalam jaringan (daring) internet.

Kemunculan metode belajar paling kekinian ini sempat bikin gugup murid-murid sekolah dasar yang belum begitu bersahabat dengan teknologi, konon "emak-emak" mereka di kampung. Tapi, kekacauan akibat perilaku baru itu tak berlangsung lama. Digeruduk "keterpaksaan", semua akhirnya bisa dan terbiasa.

Nun jauh di Lhokseumawe, Aceh, kota ladang gas dan minyak bumi yang kelak menyisakan segudang cerita pahit, belajar daring juga menjadi pilihan guru dan muridnya. Belum ada cara lain melawan "ke-ego-an" Covid-19 yang horor itu, kecuali mengikuti protokol kesehatan!

Senin kemarin, 16 November 2020, proses belajar daring perlahan kian ditinggalkan di sekolah dasar Sukma Bangsa di Kota Lhokseumawe. Otoritas pendidikan di kota "petrodolar" itu menerapkan belajar tatap muka secara menyeluruh, meski tetap taat mengikuti prokes.

Ya, delapan bulan lebih bukanlah waktu sejengkal untuk ukuran coba-coba. Kini, era new normal berdiri tegak di hadapan kita. Murid-murid sekolah dasar di Sukma Bangsa menyambutnya dengan sumringah. Meski, kali ini belajar tatap muka tak semanis sedia kala.

Romantisisme-nya terlalu jauh berbeda. Karena belajar tatap muka kali ini diharuskan cuci tangan, jaga jarak, lalu, "mengunci" mulut dan hidung dengan masker atau memakai face shield. 

Suasana jeda belajar di ruang kelas SD Sukma Bangsa. | Foto: KBA.ONE, Try Vanny

Tak cuma murid, guru-guru di Sukma Bangsa juga riang gembira menyambut era new normal. Antusiasme para guru itu menyiratkan saatnya berdamai dengan kegaduhan batin selama delapan bulan belajar daring.

"Dulu, ketika belajar online, guru tidak bertemu langsung dengan murid. Sehingga apa yang ingin disampaikan tidak dapat ditangkap langsung si objek," cerita Venni Siska, guru SD di Sukma Bangsa.

Malah, lanjut Venni Siska, terkadang si anak gampang bosan dengan cara mengajar orang tua. "Mungkin karena orang tua siswa memiliki latar belakang yang berbeda-beda."

Keterbatasan waktu orang tua dalam mendidik si anak juga menjadi kendala tersendiri. Sehingga, kata Venni, banyak anak tidak mendapatkan sepenuhnya materi dari pembelajaran yang diajarkan.

Venni mengaku ikut senang belajar tatap muka dimulai lagi. Paling tidak, kata dia, anak-anak didik bisa langsung memahami maksud yang disampaikan gurunya. "Tidak hanya lewat materi, tapi bisa memahami lewat ekspresi wajah gurunya," jelas Venni ketika ditemui KBA.ONE, Selasa 17 November 2020. 

Suasana belajar seperti ini yang selalu dirindukan murid-murid SD di Sekolah Sukma Bangsa. | Foto: KBA.ONE, Try Vanny.

Bagaimana dengan pemberlakuan prokes? Tak mengapa jika memang harus jaga jarak, cuci tangan dan pakai masker, kata Venni. "Paling tidak, jika si anak melihat gurunya semangat mengajar, dia juga akan ikut bersemangat dan tidak bosan lagi seperti saat belajar di rumah."

Venni berharap proses belajar mengajar bisa kembali normal. "Agar tata cara belajarnya juga bisa kita lakukan seperti biasa,” harap Venni di ujung komentarnya.

Apa yang dirisaukan guru soal belajar online, juga menjadi kegelisahan orang tua murid. Kaisar, misalnya. Lelaki 32 tahun, warga Desa Alue Liem, Kecamatan Blang Mangat, Lhokseumawe, ini mengaku sering kedodoran membimbing anaknya saat belajar di rumah.

Apalagi dia dan istrinya sama-sama bekerja. "Kami tak bisa menemani proses belajar anak sepanjang hari," keluh Kaisar.

Contoh, kata Kaisar, pengerjaan tugas atau penjelasan materi yang dibagikan guru baru bisa disampaikan pada anak usai salat magrib. Waktunya terlalu pendek sehingga si anak belum tentu langsung bisa menangkap apa yang dijelaskan orang tua.

"Menurut saya, proses belajar secara daring untuk anak tingkat SD sangat tidak efektif,” kata Kaisar dengan nada protes.

Muhammad Ashraf Al Kaisar, 7 tahun, juga berpandangan serupa. Murid kelas II SD Sukma Bangsa Lhokseumawe ini mengaku lebih memilih belajar di sekolah bersama teman-temannya ketimbang online di rumah. 

Murid-murid SD Sukma Bangsa tetap menggunakan masker atau face shield saat berada di lingkungan sekolah. | Foto: KBA.ONE, Try Vanny.

Cara guru dan orangtuanya mengajar, ungkap Muhammad Ashraf, jauh berbeda. Makanya dia begitu antusias ketika mendapat kabar sudah boleh mengikuti proses belajar di sekolah.

“Kalau di rumah kadang Mama sama Papa marah kalau abang (Ashraf) lagi hafalan. Abang juga ngantuk kalau belajar malam, jadi lebih enak di sekolah bisa ketemu guru sama kawan-kawan,” oceh Ashraf mengomentari perbedaan belajar daring dan tatap muka.

Kini, perilaku baru warisan pandemi Covid-19 perlahan diterapkan di sekolah dengan tajuk beken "new normal". Seiring dengan itu, di desa-desa pedalaman, juga di kota-kota metropolis, pakai masker, jaga jarak dan selalu cuci tangan, tampaknya mulai juga diabaikan.

Apakah ini pertanda teror pandemi Covid-19 akan berlalu? Menangkap rindu di sekolah dasar Sukma Bangsa adalah isyarat bahwa, seperti badai, bencana pasti berlalu. Kuncinya, patuhi prokes! Dan kita, semua warga, tidak boleh lagi "ugal-ugalan" menghadapi corona. Agar kita tak mati sia-sia seperti pengendara motor di jalanan yang abai terhadap marabahaya! ***

Komentar

Loading...