Menanti Seribu Saudagar dari Sektor Mikro

Oleh ,
Menanti Seribu Saudagar dari Sektor Mikro
Bersama tokoh Aceh dan tokoh nasional saat buka puasa yang digelar Pengurus Pusat Taman Iskandar Muda di di Jakarta | Foto: twitter @niriansyah

Pemerintah memberikan stimulus melalui anggaran belanja, sedangkan universitas-universitas mendukungnya melalui hasil kajian dan penelitian.

KBA.ONE, Banda Aceh - Saat menghadiri buka puasa bersama dengan sejumlah masyarakat Aceh di Jakarta pada Rabu, 8 Mei 2019, Pelaksana Tugas Gubernur Aceh Nova Iriansyah melemparkan sebuah pernyataan penting. Nova mengatakan tahun ini Pemerintah Aceh akan menciptakan ribuan pengusaha.

Mulanya, saat berpidato di acara yang digelar oleh Pengurus Pusat Taman Iskandar Muda itu, Nova sempat berseloroh tentang data sebuah survei. Dia mengatakan Aceh disebut sebagai salah satu daerah termiskin di Sumatera. "Sebenarnya termiskin atau tidaknya, Aceh juga mendapatkan gelar masyarakat berbahagia dari 34 provinsi. Dan itu merupakan capaian juga," ujarnya disambut tawa hadirin.

Nova melihat tetap ada cara menghapus stigma miskin tersebut dengan mengajak berbagai pihak berinvestasi di Aceh. "Meskipun kita tahu, ini menjadi masalah di Aceh seperti beberapa waktu lalu, PT EMM, misalnya," ujar Nova.

Kita akan menyediakan lapangan kerja dengan investasi mandiri dengan kemampuan sendiri

Namun, kata Nova, pada akhirnya mesti ada solusi lainnya yang dapat dibangun tanpa perlu investasi dari luar. Contohnya, mendorong para pelaku ekonomi mikro di Aceh untuk tumbuh lebih masif. "Akhirnya saya mencoba berbicara dengan generasi milenial muda yang ada di Aceh. Prinsipnya, kita harus melakukan investasi dengan kekuatan kita sendiri. Apabila itu yang harus kita lakukan, kita harus mendorong ekonomi mikro menjadi masif dan kita berusaha menciptakan seribu saudagar tahun ini," ujar Nova.

Pernyataan tersebut sekaligus tekad mendorong tumbuh kembang Industri Kecil Menengah atau IKM di Aceh. Pemerintah Aceh, kata Nova, akan memberikan dukungan kepada IKM sebagai salah satu motor penggerak perekonomian yang dimiliki masyarakat Aceh.

Sebelumnya, Nova Iriansyah telah beberapa kali mengemukakan hal tersebut. Pada 10 April 2019, saat membuka Musyawarah Perencanaan Pembangunan atau Musrenbang Aceh 2019 di Hotel Hermes, Nova mengatakan upaya menekan angka kemiskinan tidak bisa dilakukan oleh Pemerintah Aceh saja. Perlu dibangun kerja-kerja kolaboratif antara pemerintah, universitas, dan swasta. "Tidak ada negara besar yang sukses tanpa bantuan sektor swasta. Untuk itu, maka pemerintahan yang kolaboratif harus tercipta di Aceh," ujarnya.

Maksud dari pemerintahan kolaboratif yang dikatakan Nova, pemerintah memberikan stimulus melalui anggaran belanja, sedangkan universitas-universitas mendukungnya melalui hasil kajian dan penelitian. "Sementara sektor swasta mendukung dengan investasi. Dengan kebersamaan ini, saya yakin kita akan mampu menekan angka kemiskinan dan mewujudkan Aceh Hebat."

Nova mengimbau investor dan pengusaha lokal tidak semata bergerak di bidang jasa. "Namun harus terjun ke sektor yang lebih luas yang mampu menyerap tenaga kerja jauh lebih besar," ujarnya.

Dia mengakui hanya investasi yang mampu menarik jumlah tenaga kerja secara masif dan berkelanjutan. Pemerintah Aceh, kata Nova, selama ini telah mengundang investor besar tapi imbasnya membutuhkan waktu relatif lama. "Oleh karena itu, kita terus mendorong agar pengusaha lokal tidak hanya memanfaatkan sektor jasa semata," ujarnya.

Terkait upaya menekan angka kemiskinan, beberapa waktu lalu Pemerintah Aceh mengintervensi penyaluran beras sejahtera atau rastra. Namun, Nova melihat pengaruhnya sangat kecil karena cuma menurunkan angka kemiskinan sebesar 0,24 persen.

Intervensi penyaluran rastra dan mengandalkan program yang didanai APBA, tambah Nova, hanya untuk waktu singkat karena pada dasarnya APBA hanyalah perangsang. Sementara upaya menurunkan angka kemiskinan harus dilakukan secara berkelanjutan dan masif. "Nah, ini hanya bisa dilakukan oleh investasi. Jika investasi besar berimbas lama, kita harus mendorong investasi mikro, kecil dan menengah dan itu dilakukan oleh putra-putri Aceh," ujarnya.

Soal investasi, Nova mencontohkan Repsol butuh waktu hingga dua tahun untuk survei seismik. Sedangkan eksplorasi baru dilakukan pada 2020. Artinya, dibutuhkan waktu empat hingga lima tahun ke depan untuk berproduksi dan dapat dirasakan imbasnya bagi perekonomian serta penurunan angka kemiskinan di Aceh.

"Kiatnya tentu saja kita harus mendorong industri mikro, kecil, menengah milik putra Aceh sendiri. Makanya saat ini Pemerintah Aceh sedang menggalakkan agar semua konsumsi pemerintah seperti sembako, air mineral itu harus dibeli di Aceh dan diproduksi oleh rakyat Aceh yang menjalankan usaha di Aceh," ujarnya. Nova merincikan, setidaknya ada potensi senilai Rp150 miliar belanja Pemerintah Aceh yang bisa diarahkan ke para pengusaha mikro, kecil, dan menengah milik putra-putri Aceh yang menjalankan usahanya di Aceh.

 Silaturahmi dengan pimpinan Repsol | Foto: twitter @niriansyah

Tak hanya kepada pengusaha, Nova juga menggaungkan soal IKM kepada mahasiswa. Saat memberikan kuliah umum tentang arah pembangunan Aceh di Unsyiah pada Februari 2018, Nova memberikan motivasi agar mahasiswa menggiatkan kegiatan kewirausahaan sejak mereka masih di kampus. "Mudah-mudahan pascamahasiswa jadi entrepreneurship," ujarnya.

Nova menyebutkan, problem Aceh saat ini adalah kemiskinan yang disebabkan ketidaktersediaan lapangan kerja yang mencukupi. Setahun setengah kepemimpinan dia bersama Gubernur Irwandi Yusuf, terus mengupayakan masuknya investor untuk berinvestasi di Aceh. Namun hingga hari ini hal tersebut masih nihil.

"Kita terus mengundang investor tapi belum ada tanda keberhasilan," kata Nova. Karena itu, lanjut dia, kini arah investasi Aceh secara konsep digeser. Pemerintah Aceh memperluas lapangan kerja secara mandiri dengan memberikan akses seluas-luasnya kepada industri kecil dan menengah untuk terus berkembang.

Karena itu, Nova meminta mahasiswa menyampaikan ide segar dan kreativitas mereka dalam bentuk kewirausahaan. "Kita akan menyediakan lapangan kerja dengan investasi mandiri dengan kemampuan sendiri. Yang harus berinvestasi itu adalah orang Aceh. Hanya orang Aceh yang persepsinya sama dengan kita." [ADV]

Komentar

Loading...