Mencari Akar Bunga Pelacuran

Mencari Akar Bunga Pelacuran
ilustrasi. burk

PENANGKAPAN sejumlah pelacur dan germonya di Banda Aceh masih akan menjadi pembahasan dalam sepekan ke depan. Para pelacur yang beroperasi menggunakan media sosial ini benar-benar menjadi topik hangat, menyusul penggerebekan sebuah rumah bordir di Lhokseumawe, 300 kilometer dari Banda Aceh. 

Isu ini menarik karena ada unsur seks di dalamnya. Dalam masyarakat yang tertutup, seperti di Aceh, membicarakan seks dan seksualitas adalah tabu. Namun tetap diminati karena seks adalah sebuah hasrat dasar manusia. Ini bukan sekadar cara meneruskan generasi. Seks adalah motivasi besar dalam abad ini, meski, itu tadi, bukan sesuatu yang dapat dibicarakan dengan gamblang.

Pelacuran sendiri menjadi sebuah “kejahatan” purba yang mampu beradaptasi dengan baik terhadap perkembangan zaman. Jika dulu, di Banda Aceh, para pelacur hanya bisa dijumpai di tempat-tempat tertentu, kini mereka menggunakan media sosial, semisal instagram, sebagai alat promosi. Layanan ini, seperti layanan online lainnya, dapat diantar ke tempat, sesuai dengan selera pengguna jasa.

Pelacuran juga bukan hanya didominasi satu jenis kelamin saja. Para penikmatnya bukan hanya orang-orang terhormat yang sering terlihat berjas atau berjubah di depan publik. Ada juga--mengutip lirik lagu Iwan Fals--tante-tante kesepian yang berlomba-lomba mencari pria muda dan sehat untuk dijadikan pemuas nafsu seksual, tentu dengan bayaran yang disepakati.

Dan harga mereka tidaklah murah. Sebuah band rock legendaris di negeri ini, pernah datang kembali sepekan setelah konser mereka digelar di Banda Aceh hanya dengan satu alasan: menikmati pelacur Aceh. Dan mereka datang diam-diam tanpa diketahui promotor konsernya. Meski mereka harus membayar mahal.

Uang adalah pangkalnya. Tak heran, dalam pembahasan proyek, banyak cara dilakukan kontraktor atau penyedia barang agar perusahaan mereka memenangi tender. Salah satunya adalah dengan menyediakan lady in companion di ruang-ruang karaoke untuk menemani pejabat yang menentukan proyek. Aroma alkohol, asap rokok atau sabu-sabu, berbaur diiringi lampu remang-remang dengan perempuan setengah telanjang. Inilah yang menyebabkan, satu di antaranya, korupsi di Aceh dan negeri ini sulit diberantas.

Tentu kita berharap polisi tak sekadar memamerkan jaringan pelacur di Banda Aceh. Polisi harus pula mengungkapkan germo dan tempat mereka beroperasi. Termasuk membuka seluas-luasnya orang-orang yang menjadi klien mereka. Menyalahkan para pelacur atas kerusakan rumah tangga, atau malu yang dialami sebuah daerah, terutama setelah kasus pelacuran online ini terungkap, tentu tak adil.

Karena, layaknya sebuah bisnis, mereka adalah jawaban dari tuntutan “pasar”. Media ini yakin, pasar mereka cukup besar di Banda Aceh. Karena para pelacur ini hanyalah “bunga”. Perlu kesungguhan polisi, dan kejujuran bertindak, untuk menarik keluar “akarnya”.

Komentar

Loading...